![]()
ACEH BARAT – Presiden Mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU), Wahyu Nurdin sikapi pemberitaan perihal Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa UTU terkait postingan Flyer Jum’at Agung di media Kampus pada, Jum’at, 7 Februari 2023 yang lalu.
Dalam hal ini, Presiden Mahasiswa UTU membantah pihak kampus sudah melakukan pemecatan dari anggota DPM/MPM atau melakukan DO terhadap 4 Mahasiswa yang bersangkutan.
“Pihak Kampus tidak pernah melakukan pemberhentian atau pemecatan baik secara lisan maupun tulisan, apalagi di DO dari kampus” ujar Presma UTU kepada Medialitetasi.id pada Rabu (19/04/2023)
Lebih lanjut Wahyu menceritakan kronologi awal kejadian tersebut sepengetahuan nya. Menurutnya 4 rekannya yang merupakan anggota DPM/MPM awalnya berinisiatif mengucapkan selamat memperingati hari Jum’at Agung.
Menurutnya sikap toleransi yang di tuliskan berupa selamatan oleh Mahasiswa UTU terhadap hari – hari besar keagamaan selain kepada hari besar Islam bukanlah hal yang baru pertama kali terjadi.
“Mahasiswa UTU bukan hanya beraga Islam namun ada juga yang bergama Nasrani, mahasiswa nya pun juga ada yang berasal dari Papua”, paparnya.
Lebih lanjut Wahyu menerangkan permasalahan dasarnya bukan Pada ucapan selamatan nya namun lebih kepada teknis desain flyer.
“Ada beberapa settingan atau peletakan gambar dan logo beserta lambang yang belum sesuai” papar Wahyu.
Wahyu menuturkan, hal ini awalnya bersifat internal kampus saja, namun dirinyapun mengakui tidak mengetahui mengapa tersebar keluar kampus dan menjadi opini liar.
Presiden Mahasiswa Universitas Teuku Umar itu juga menyampaikan informasi dan menyatakan sikap atas dasar berita yang beredar luas di media sosial diantaranya ;
Pertama tidak ada intervensi kepada mahasiswa UTU terkhususnya pada pengurus DPM UTU & MPM UTU baik dari pimpinan kampus , alumni UTU dan serta masyarakat aceh pada imumnya
Kedua tidaklah benar adanya pemecatan yang dilakukan oleh Pimpinan kampus terhadap pengurus DPM UTU & MPM UTU melainkan pengurus DPM UTU dan MPM UTU menyatakan untuk mengundurkan diri secara hormat atas kekhilafan yang menurut mereka telah mereka lakukan dan disampaikan secara sadar tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
Ketiga kampus UTU terbuka kepada seluruh masyarakat yang berbeda keyakinan dalam memeluk agama di manapun serta juga selalu menjaga toleransi serta tidak ada tindakan di dalam kampus kami yang mengarah kepada sikap Radikalisme serta intoleran sebagaimana di informasikan
Keempat Kampus UTU sampai saat ini mengayomi seluruh Mahasiswa yang berkuliah di kampus Negri Universitas Teuku Umar dari berbagai daerah yang ada di Negara ke Satuan republic Indonesia dari sabang (Aceh) sampai merauke (Papua).
Kelima kesalahan yang di lakukan oleh rekan Lembaga kami di pengurus DPM UTU dan MPM UTU adalah murni ketidak pahaman mereka dalam penempatan dan pembuatan flayer tersebut, sehingga atas kesadaran mereka untuk memberikan contoh yang baik kepada seluruh mahasiswa UTU membuat vidio permintaan maaf dan mundur dari jabatan mereka atas inisiatif sendiri (Tidak ada Paksaan) sebagaimana inisiatif mereka dalam membuat flayer tersebut tampa ada intervensi dan tekanan dari pihak manapun.
Keenam tidaklah benar adanya dilakukan pensyahadatan terhadap kedua lembaga yang di maksud, akan tetapi itu adalah sebuah saran dari tokoh agama, namun didalam hal ini pihak kampus hanya meng opsikan untuk melakukan bimbingan khusus untuk memberikan pemahaman tentang ilmu aqidah dan ilmu agama.
“Demikian Informasi yang kami sampaikan untuk masyarakat, semoga Dapat dimengerti atas kekeliruan yang terjadi. Dan kami berharap terkait berita yang ada kampus UTU bisa di tanyakan terlebih dahulu kepada pihak kampus (Rektor, Humas UTU dan saya sendiri) agar tidak munculnya informasi yang keliru”, pungkasnya.
Melansir IG haba Aceh barat, Dr. Ishak Hasan selaku pimpinan UTU seolah – olah telah mengambil sikap berupa pemecatan terhadap 4 mahasiswa dari kepengurusan DPM/MPM adalah informasi yang keliru dan tidak benar”, kata Rektor UTU kepada Detiksumut pada Selasa (18/04/2023)
Selain itu Rektor UTU juga mengatakan, pihaknya sudah mengirimkan surat klarifikasi ke Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek Dikti terkait permasalahan tersebut.
“Dalam surat itu memuat beberapa poin mulai dari kronologi pengunggahan flyer hingga isi klarifikasi”, ujar Dr. Ishak Hasan kepada Media.
Menurut Ishak, flyer ucapan Selamat Jum’at Agung di unggah di Instagram DPM UTU pada 17 April 2023 yang lalu. Keberadaan flyer tersebut menimbulkan respon dari berbagai komponen masyarakat termasuk alumni dan meminta flyer tersebut di hapus.
Dikabarkan, dihari yang sama flyer dihapus, namun disayangkan flyer tersebut terlanjur tersebar luas dikalangan masyarakat dan viral dimedia sosial.
Menyikapi hal ini, pihak kampus UTU kemudian juga melakukan rapat di ruang senat pada Senin (10/05/2023) yang dihadiri oleh Rektor, perwakilan alumni, DPM/MPM hingga Komunitas Mahasiswa Kristen (KMK) sehingga memutuskan permasalahan tersebut diselesaikan secara internal.
Ke 4 Mahasiswa tersebut melakukan klarifikasi permintaan maaf dan mengundurkan diri dari kepengurusan DPM/MPM tanpa paksaan melalui unggah video.
“Sampai saat ini surat pengunduran diri tersebut belum diterima secara resmi oleh bagian kemahasiswaan UTU”, jelas Ishak.
Sebelumnya wakil ketua MPR Ahmad Basarah menyayangkan sikap pemecatan mahasiswa UTU.
“Jika berita yang ditulis oleh portal itu benar, saya sangat menyangkan dan mengecam pimpinan UTU yang menganggap ke 3 mahasiswa itu telah murtad karena mereka memposting flyer mengucapkan selamatan hari keagamaan tertentu”, ucap Ahmad Basyarah. [ëndæ]







