![]()
Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial – USK – Banda Aceh
Tulisan ini hadir, ketika beberapa hari yang lalu saya pergi bersama keluarga ke sebuah pusat perbelanjaan di kota ini, ternyata hampir semua tempat dan pelataran parkir penuh dengan mobil-mobil mewah dan sepeda motor baru yang masih berplat warna ‘putih’, belum tergantikan dengan flat berwarna hitam. Ya, Mobil dan Motor itu, sepertinya baru keluar dari showroom dech.
Maha Suci Allah, Sungguh menakjubkan bagi mata yang memandang. Sambil jalan menuju dan masuk ke pasar, saya amati dan perhatikan gaya dan sikap tukang parkir yang sangat baik dalam melayani ‘gaya pemilik kendaraan’ yang kadang-kadang sangat aneh, arogan dan sombong saat parkir mobilnya tanpa sedikitpun memperhatikan dan menghargai tempat parkir untuk orang lain.
Sebagai Ilmuwan Sosial, bagi saya sangat menarik untuk memperhatikan sikap ‘juru parkir’. Sebuah profesi yang mungkin bagi banyak orang dianggap tidak begitu penting dan kurang menjanjikan. Akan tetapi, bagi saya sendiri profesi atau pekerjaan apapun, termasuk tukang parkir sungguh sangat mulia dan terpuji jika dijalani dengan tulus, sekaligus saya sendiri dan (mungkin) juga orang lain bisa belajar banyak darinya.
Ada hal yang sangat menarik untuk diperhatikan sebagai perumpamaan dari seorang tukang atau juru parkir. Meski begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya, mengapa dia tidak pernah menjadi sombong?.
Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan model, tipe dan seri mobil yang lebih bagus atau pun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak akan mempengaruhi penerimaan dan pelayanannya. Tukang atau juru Parkir senantiasa bersikap biasa-biasa saja dan santun pada siapapun, meskipun orang yang dilayani acuh dan tidak menghargainya. Subhanallah, itulah jiwa terpuji dan sikap seperti ini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang rendah hati dan bekerja tanpa pamrih.
Sungguh Mulia dan Luar biasa jiwa seorang yang berprofesi sebagai tukang parkir. Jarang dan bahkan tidak pernah kita melihat ada tukang parkir yang “petantang petenteng” memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan parkirnya. Lain waktu ketika mobil-mobil itu satu per satu meninggalkan lahan parkirnya, bahkan sampai kosong ludes sama sekali diambil para pemiliknya, hal itu tidak menjadikan dia stress, kecewa dan sedih.
Kenapa bisa demikian? Tiada lain, karena tukang parkir ini tahu dan mengerti, dia tidak merasa memiliki, melainkan merasa sekedar dititipkan orang padanya untuk dijaga dengan baik. Ternyata inilah rumus hidup si tukang parkir yang membuat hatinya selalu damai dan bahagia tiap hari. Lebih-lebih lagi ketika dia pulang ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga tercinta. Apa sebenarnya makna titipan dan amanah itu?
Saya Pribadi Sering Kali Berkata, ketika banyak orang memuji milik-ku, bahwa: sesungguhnya ini hanyalah “titipan”, bahwa Kendaraan ku hanya titipan ALLAH, bahwa Rumah dan jabatanku hanya titipan-NYA, bahwa Harta, dan gelarku hanya titipan-NYA, bahwa Istriku dan Putra-Putriku tercinta hanya titipan-NYA, Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, Mengapa ALLAH Swt menitipkan itu semua padaku? Untuk apa Allah menitipkan ini padaku? Dan Kalau itu semua Bukan Milik-ku, apa yang harus ku-lakukan untuk milik-NYA ini?
Seharusnya begitulah sikap kita dalam menghadapi dunia ini. Punya harta melimpah, deposito jutaan rupiah, pun mobil keluaran terbaru paling mewah, tidak menjadi sombong sikap kita karenanya. Begitu pula sebaliknya, ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, motor hilang, tidak menjadi stress, kecewa, sedih dan putus asa. Suka-suka yang menitipkan, mau diambil sampai tandas dan habis sekalipun, silahkan saja. Toh kita memang sekedar dititipkan untuk menjaganya.
Kadang-kadang kita sering lupa, Isteri yang cantik, anak-anak yang cerdas, Jabatan, Harta, Mobil Pribadi atau Mobil Dinas semua itu merupakan titipan. Jangan merasa semua titipan itu seperti milik pribadi dan kita sombong, seakan-akan kita sangat kuat dan berkuasa melebihi kekuasaan Allah swt yang menjadikan kita sebagai makhluknya. Na’uzubillahi Min Zhalik.
Marilah kita belajar seperti sikap mulia yang telah ditunjukkan oleh “Tukang Parkir”. Terima, jaga dan serahkan kembali titipan itu dengan baik jika diminta dan diambil. Jadikanlah sifat dan perilaku tukang parkir sebagai ‘guru’ bagi kehidupan yang terbaik, jika kita ingin dicintai dan dimuliakan Allah.
Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di sejumlah perusahaan ternama, real estate investasi di sejumlah kompleks perumahan mewah atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka itu berarti dalam diri kita belum tampak nilai zuhud (rendah hati).
Seberapa besar uang tabungan kita, seberapa banyak saham yang dimiliki, sebanyak apa pun asset yang dikuasai, seberapa kuat fisik yang dimiliki, seharusnya kita tidak merasa lebih tenteram dengan jaminan itu semua. Karena semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah SWT. Dia-lah Maha Pemilik apa-pun yang ada di dunia ini. Rasulullah SAW pernah bertutur, “Zuhud terhadap kehidupan dunia adalah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti dari pada apa yang ada pada Allah.” (HR. Ahmad).
Semoga Hadist ini dapat menjadikan diri kita rendah hati dan tidak sombong, apalagi harus menyombongkan diri, seakan-akan kita manusia super yang tidak terkalahkan oleh siapapun. Berhati-hatilah ketika kita diberikan titipan, baik itu jabatan, kekuasaan maupun harta. Jadikanlah jabatan, kekuasaan dan harta itu untuk mendekatkan diri padaNya. Jangan sesali, ketika semua itu diambil oleh pemilikNya, sementara kita lupa dan tidak pernah bersyukur atas nikmat Allah. Na’uzubillahi min zhalik.
LIHAT DAN PERHATIKANLAH realitas di sekitar kita dan perhatikanlah mereka yang lagi menyeberang jalan, Mengapa harus takut menyeberang jalan? Apa bedanya dengan tukang parkir? Bukankah kita sama-sama manusia. Lihat, tukang parkir tak sedikit pun ia takut dan bahkan mampu menolong sesama menyeberang jalan. Seharusnya begitulah sikap dan jiwa kita dalam menjalani kehidupan yang singkat ini. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan berkah. Insya Allah, Aamiin.
Banda Aceh, Rabu 29 Maret 2023







