MEDIALITERASI.ID | JOGJA — Pendiri ByteDance Zhang Yiming resmi menjadi orang terkaya di Asia setelah kekayaannya menembus US$105 miliar atau setara Rp1.700 triliun. Ia menyalip miliarder India Gautam Adani di daftar Bloomberg Billionaires Index.
Lonjakan kekayaan Zhang terutama didorong oleh kenaikan valuasi ByteDance, induk TikTok, serta ekspansi agresif perusahaan di sektor kecerdasan buatan (AI).
Kekayaan Naik US$12 Miliar Hanya dalam Sebulan
Berdasarkan data Bloomberg per September 2026, kekayaan Zhang bertambah lebih dari US$12 miliar hanya dalam sebulan. Bloomberg memperbarui valuasi ByteDance setelah mengacu pada penilaian terbaru dari manajer investasi global seperti BlackRock, Fidelity Investments, dan T. Rowe Price.
Pria berusia 43 tahun itu pertama kali masuk daftar Bloomberg pada Maret 2019 dengan estimasi kekayaan US$13 miliar. Artinya, hartanya melonjak lebih dari delapan kali lipat dalam tujuh tahun.
Sementara itu, kekayaan Gautam Adani yang sempat menyentuh US$120 miliar pada Juni 2026 harus terkoreksi. Penurunan tersebut dipicu perubahan bobot saham Adani Group dalam indeks MSCI serta aksi jual di pasar akibat kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS.
Bukan Hanya TikTok, ByteDance Bertaruh di AI
Sumber utama kekayaan Zhang masih berasal dari kepemilikannya di ByteDance. Namun perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan TikTok.
ByteDance kini agresif mengembangkan bisnis AI melalui dua produk unggulan, yakni chatbot Doubao dan platform pembuat video berbasis AI Seedance.
Analis utama Omdia, Lian Jye Su, menilai Zhang konsisten mempertahankan investasi besar di AI meski ByteDance menghadapi tekanan regulasi dan isu geopolitik terkait TikTok di Amerika Serikat dan Eropa.
“ByteDance memiliki keunggulan data yang sangat besar dari berbagai platformnya. Itu menjadi modal penting dalam pengembangan model AI, meski persaingan di China semakin ketat,” ujarnya seperti dikutip Bloomberg.
Bukan Uang Tunai
Bloomberg menegaskan angka US$105 miliar tersebut merupakan estimasi valuasi, bukan uang tunai.
Karena ByteDance berstatus perusahaan privat dan sahamnya tidak diperdagangkan di bursa, Bloomberg menerapkan metode valuasi khusus dengan diskon risiko 10 persen. Perbedaan metode ini yang membuat angka kekayaan bisa berbeda antar indeks, seperti Forbes dan Bloomberg.
Kenaikan ini juga terjadi setelah ketidakpastian bisnis TikTok di AS mereda. Pada awal 2026, sebagian operasional TikTok di AS resmi dialihkan kepada konsorsium investor Amerika, sehingga mengurangi risiko pelarangan total di pasar terbesarnya.
Dengan capaian ini, Zhang Yiming menandai pergeseran peta kekayaan Asia. Jika sebelumnya didominasi sektor energi, infrastruktur, dan ritel, kini kekayaan berbasis teknologi dan AI berada di posisi teratas. (*)
Sumber: http://Harianjogja.com







