Home / RELIGI

Rabu, 3 April 2024 - 17:29 WIB

Ramadhan Bulan Tarbiyah (Pendidikan)

Photo google oleh Juni Ahyar Lhokseumawe Rabu, 04/04/24

LHOKSEUMAWE – Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah swt telah memberi kekuatan lahir dan batin kepada kita, sehingga puasa dapat kita laksanakan dengan baik dan sempurna, semoga menjadi ibadah puasa yang diridhai Allah swt. Dengan izin Allah pula hari ini kita sedang melaksanakan puasa dengan baik, semoga rangkaian ibadah puasa kita diterima Allah sebagai amal shalih. Aamiin.

Puasa ramadhan 1445 H kali ini ternyata kita mampu menahan diri dari barbagai macam godaan dan banyak beribadah, salat sunnah tarawih, witir, qiyamul lail, i’tikaf, bersedekah ini merupakan momentum melatih diri sepaya selesai ramadhan kegiatan serupa tetap kita laksanakan sebagai sistem ibadah dalam Islam, dalam pelaksaksanaannya memerlukan pemahaman tentang kaifiyat (tata cara) sesuai dengan petunjuk syari’at, baik syarat, rukun, hukum ibadah. Bahkan lebih dari itu, puasa tidak sekedar dilaksanakan, namun harus dirasakan dan dijiwai dengan segenap kemampuan hati dan pikiran.

Puasa mengandung makna universal bagi kehidupan, mencakup segala aspek yang dibutuhkan manusia,  mengandung pesan moral untuk merubah perilaku manusia menjadi lebih baik, mengandung filsafat hidup guna mengantarkan manusia memahami makna terdalam dan hakekat hidup.

Oleh karena itu puasa harus dipahami secara benar, proporsioanl dan konprehensip, sehingga terhindar dari sekedar puasa syari’at, namun dapat mencapai puasa hakekat.

Makna Tarbiyah

Allah sebagai Rabbun, yang mengandung arti Dzat yang Maha Kuasa dalam mencipta, mengatur, memelihara dan mendidik seluruh makhluq-Nya. Sebagai Pendidik, Allah menetapkan sistem pendidikan melalui berbagai media ibadah yang tidak saja sebagai sarana bertaqarrub kepada Allah, namun juga mengandung sistem pendidikan seperti ibadah puasa.

Adapun beberapa nilai pendidikan yang dikandung dalam ibadah puasa adalah:

  1. Tarbiyah Ilahiyah

Bahwa puasa merupakan sistem pendidikan Tuhan, untuk membentuk manusia menjadi “Khairul bariyyah” yakni sebaik-baik makhluq, maka orang yang tidak mau mengikuti pendidikan yang di selenggarakan oleh Allah, akan menjadi “Syarrul Bariyyah” yakni sejelek-jelek manusia. Atau dapat dipahami bahwa puasa merupakan latihan untuk mengasah sifat Rububiyah yakni sifat ke-Tuhanan, seperti kasih sayang, pema’af, pemberi, penolong, penyantun, bijaksana, dll.

  1. Tarbiyatul Iradah
Baca Juga  Semarakkan Ramadhan 1443 H: Perkemahan Tahfidz Remaja Islamic Center Ke-6 Lhokseumawe Dibuka

Bahwa puasa merupakan pendidikan kehendak, kemauan, keinginan. Manusia memiliki banyak kemauan atau keinginan yang tidak terhingga, sehingga apabila tidak dibimbing dan diarahkan kepada kemauan yang baik, maka keinginan manusia akan cenderung liar dan merugikan kehidupannya, maka melalui ibadah puasa seluruh keinginan tersebut dibina dengan baik melalui puasa ramadhan.

Dalam tarbiyatul iradah, tidak saja mengendalikan keinginan yang jelek, namun keinginan naluriyah yang baik sekalipun dalam waktu tertentu harus di kendalikan untuk mentaati segala larangan Allah, seperti makan, minum, berhubungan dengan suami istri.

  1. Tarbiyah Sifatiyah

Bahwa puasa merupakan pendidikan efektif terhadap sifat-sifat manusia, karena dirasakan langsung oleh orang-orang yang berpuasa, sehingga proses pengendalian sifat-sifat yang jelek akan berjalan dengan baik.

Menurut Imam Ghazali dalam bukunya bimbingan mencapai tingkatan mukmin mengatakan bahwa manusia memiliki empat macam sifat, yakni:

  1. Sifat Rububiyah, yakni sifat ketuhanan, yang serba baik, seperti kasih sayang, adil dan bijaksana, pema’af, suka menolong dll.
  2. Sifat Syaithaniyah, yakni sifat syetan yang senantiasa menghalang-halangi manusia berbuat baik dan mengajak manusia berbuat maksiyat.
  3. Sifat Bahimiyah, yakni sifat kebinatangan, yang lebih mengedepankan pemenuhan kebutuhan jasmaniyah dan nafsunya.
  4. Sifat Sabu’iyah, yakni sifat sadis, kejam, biadab, cenderung melakukan eksploitasi, pemerasan dan kedzaliman.
  5. Tarbiyah Nafsiyah

Tabiyah Nafsiyah, yakni puasa merupakan pendidikan nafsu manusia. Menurut petunjuk Al-Qur’an, manusia memiliki tiga nafsu, yaitu:

  1. Nafsu Muthmainnah: nafsu yang tenang, baik, senantiasa mendorong kepada kebaikan, sehingga kelak akan mendapat panggilan terhormat dari Allah:

يَٰأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ

Hai jiwa yang tenang (Q.s.Al-Fajr [89]:27)

  1. Nafsu Law-wamah: nafsu yang menyesali, serakah, rakus, senantiasa mendorong kepada keinginan yang melampaui batas, sebagaimana firman Allah:

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) (Q.s.Al-Qiyamah [75]: 2).

  1. Nafsu Amara bissu’: nafsu yang senantiasa mendorong kepada kebebasan dalam melakukan maksiyat dan kedurhakaan, sebagaimana firman Allah:
Baca Juga  4 Gerhana Diperkirakan Terjadi Pada Tahun 2022

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (Q.s.Yusuf [12]:53).

Demikian makna tarbiyah di bulan ramadhan, sangat ideal dan universal dalam mendidik orang yang beriman yang taat melaksanakan ibadah puasa, untuk menghasilkan lulusan hamba terbaik yakni Muttaqin.

Sepuluh akhir ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi akan meninggalkan kita mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada sang pencipta sembari bertaya pada diri masing-masing, Jika manusia diciptakan oleh Allah, namun tidak mau di didik oleh Allah, lantas mau di didik oleh siapa?. Apakah ada di dunia ini pendidik yang lebih baik dari Allah?

Jika manusia sebagai hamba Allah, namun tidak mau mengabdi kepada Allah, lantas jadi hambanya siapa?. Apa ada di dunia ini yang patut disembah selain Allah?

Jika manusia makhluq yang lemah, namun tidak mau memohon kekuatan kepada Allah, lantas mohon kekuatan kepada siapa? Apa ada di dunia ini yang lebih kuat dari Allah?

Jika manusia pasti mati, namun terus maksiyat, tidak pernah taat, lantas kalo mati seperti apa?. Apa ada ahli masiyat akhir hayatnya mencapai husnul Khatimah?

Jika manusia pasti ke akhirat, namun tidak yakin adanya kehidupan di akhirat, lantas kalau mati ke alam apa? Emangnya ada alam lain selain alam akhirat?.

Jika di akhirat setiap manusia akan menghadap Allah untuk dihisab amalnya selama hidup di dunia, namun mendustakaan hari pertemuanya dengan Allah, lantas di akhirat menghadap siapa? dihisab oleh siapa?

Rangkain pertanyaan di atas, memerlukan jawaban yang jujur agar menjadi motivasi melakukan transformasi nilai seperti ulat yang bertapa dalam kepompong kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, indah dan menawan.

Wallahualam Bissawab

Reporter : JA | Photo : Ist Editor : Juni Ahyar

Share :

Baca Juga

ACEH

Baitul Mal Aceh Monev Langsung 22 Daerah, Tegaskan Transparansi Dana ZIWAH Harus Sampai ke Mustahik

ACEH

‘Satu Lentera Padam’, Bupati Al-Farlaky: Kepergian Abiya Kehilangan Cahaya bagi Umat

ACEH

Bupati Al-Farlaky dan Rombongan Takziah ke Dayah Abiya Blang Mideun Julok

ACEH

Abiya Berpulang, Camat Julok: Kami Merasa Kehilangan

ACEH

Cek Mad Tunggu Jamaah Haji Julok Sampai Tengah Malam, Selawat dan Doa Sambut Tamu Allah

ACEH

Bismillah Menjadi KM Nol Islam: Bupati Al-Farlaky Gaungkan Kebangkitan Peradaban Peureulak di Haul Sultan ke-1224

ACEH

Ulama Aceh Timur Desak Mahkamah Syar’iyah Terapkan Syariat Kaaffah: Mediasi, Wali, Iddah dan Nasab Jadi Kunci

ACEH

“Julok Bershalawat” Semarakkan 1 Muharram 1448 H, Ratusan Pelajar Aceh Timur Pawai Ta’aruf Islami