Kekecewaan petani Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur memuncak akibat mangkraknya proyek irigasi Jambo Aye sayap kanan. Hingga April 2026, proyek strategis penopang pertanian itu tak kunjung rampung. Tokoh muda Pante Bidari, Zulkifli Aneuk Syuhada, mendesak pemerintah bertindak cepat agar petani tidak lagi jadi korban.
MEDIALITERASI.ID, ACEH TIMUR – Proyek irigasi Jambo Aye sayap kanan di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur hingga kini belum rampung. Keterlambatan ini berdampak langsung pada petani yang gagal turun ke sawah pasca banjir.
Tokoh muda Pante Bidari, Zulkifli Aneuk Syuhada, menilai mangkraknya proyek sebagai bentuk kelalaian serius. “Ini bukan sekadar proyek terlambat. Ini menyangkut perut masyarakat. Sawah rusak akibat banjir, irigasi pun tidak selesai. Petani sekarang tidak bisa menanam padi. Siapa yang mau bertanggung jawab?” tegasnya, Rabu (23/4/2026).
Menurut Zulkifli, mandeknya pembangunan memperparah kondisi ekonomi petani yang sudah terpukul banjir. Jika dibiarkan, ia khawatir akan memicu gagal panen hingga krisis pangan lokal.
Soroti Kontraktor 2025
Zulkifli turut menyoroti kinerja kontraktor pelaksana proyek tahun 2025 yang dinilai gagal total. Perusahaan tersebut dianggap tidak menunjukkan kapasitas memadai, namun tetap dipercaya menggarap proyek besar.
“Jangan ulangi kesalahan yang sama. Tahun lalu progres lambat, kualitas dipertanyakan, akhirnya harus diadendum. Ini bukti perencanaan dan penunjukan yang bermasalah,” ujarnya.
Ia mendesak Kementerian PUPR dan Balai Wilayah Sungai Sumatera I lebih selektif menentukan kontraktor lanjutan. Penunjukan, kata dia, tidak boleh didasarkan kedekatan atau fee. “Yang dibutuhkan masyarakat itu hasil kerja, bukan janji,” tegasnya.
Zulkifli menyebut sejumlah perusahaan seperti SMS, NS, KSMS, dan BJN memiliki rekam jejak baik dalam menyelesaikan proyek tepat waktu. “Mereka yang sudah terbukti mampu seharusnya diberi kesempatan. Jangan sampai proyek ini terus jadi ajang coba-coba, sementara masyarakat jadi korban,” tambahnya.
Masyarakat Pante Bidari kini menuntut langkah konkret pemerintah. “Kami tidak butuh alasan. Kami butuh irigasi yang selesai. Kalau tidak, jangan salahkan masyarakat jika kepercayaan terhadap pemerintah hilang,” tutup Zulkifli.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera I belum memberikan tanggapan terkait keterlambatan proyek tersebut.
(Zoel A Sy)







