Home / BERITA

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 13:10 WIB

Pintu DPR Dibeton, Rakyat Terluka: Saat Empati Harus Mengalahkan Ego Kekuasaan

DPRD Makasar di Bakar Masa

Oleh : Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd (Akademisi, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa)

Apa jadinya negeri ini jika gedung megah yang dibangun dari uang rakyat malah menjadi benteng yang menutup telinga dari jerit rakyat? Tragedi meninggalnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online dalam aksi demo di depan DPR, bukan sekadar kecelakaan. Ia adalah simbol dari ketidakadilan sistemik, tanda bahwa suara rakyat semakin sulit menembus tembok kekuasaan.

Kematian Affan bukan hanya duka keluarga, tapi aib bangsa. Ia tewas bukan karena anarkis, tetapi karena keberanian menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan jutaan rakyat kecil. Di satu sisi, rakyat berjuang melawan kenaikan pajak dan biaya hidup yang kian mencekik. Di sisi lain, para wakil rakyat justru sibuk merayakan kenaikan gaji dan mengabaikan aspirasi publik.

Masalah ini tidak berdiri sendiri. Krisis empati tampak di banyak lini kekuasaan  dari parlemen hingga kementerian, bahkan aparat penegak hukum. Ketika seorang menteri menyebut guru dan dosen sebagai “beban negara”, itu bukan sekadar kekeliruan kata, tetapi pelecehan terhadap profesi yang melahirkan generasi pemimpin, termasuk mereka yang kini duduk di kursi kekuasaan. Kepintaran tanpa moral hanya melahirkan kebijakan yang kejam.

Baca Juga  Kapolda Jabar Pimpin Pengamanan May Day, Polisi Tindak Kelompok Anarkis di Bandung

Lihat pula cara aparat mengamankan demonstrasi. Polisi seharusnya pelindung rakyat, bukan algojo. Rekaman yang beredar memperlihatkan pentungan menghantam mahasiswa, darah mengalir di kepala anak-anak bangsa yang hanya ingin bersuara. Di antara mereka bisa saja ada saudara, anak, atau bahkan keluarga seorang polisi sendiri. Jika kita sampai kehilangan rasa kemanusiaan, hukum bukan lagi pelindung, melainkan senjata.

Lebih ironis lagi, saat Ketua DPR berkata, “Silakan demo, pintu dewan selalu terbuka,” yang terjadi justru sebaliknya. Pintu ditutup rapat, bahkan dibeton. Itu bukan dialog, itu penghinaan. Bicara satu, bertindak lain — inilah yang melukai hati rakyat.

Baca Juga  1.178 Personel Polda Metro Jaya Naik Pangkat, Kapolda: Amanah Yang Harus Dijaga

Jika DPR benar-benar ingin dihormati, berhentilah bersembunyi di balik pagar beton. Jumpai rakyat, dengarkan kritik mereka, evaluasi kinerja sendiri. Bentuk forum dengar pendapat terbuka, hentikan kriminalisasi demonstran damai, dan tindak tegas aparat yang melampaui batas. Polisi harus menjadi pengayom, bukan penindas.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tapi sangat kekurangan pemimpin yang berempati. Negeri ini tidak akan maju jika kekuasaan hanya berpihak pada yang berkuasa, bukan pada yang berjuang. Sudah saatnya pintu DPR dibuka. Bukan dengan beton, tapi dengan hati. Jika tidak, rakyat akan mencari pintu lain — dan itu bisa menjadi pintu menuju krisis demokrasi yang lebih dalam.

Lhokseumawe, Sabtu 30 Agustus 2025

Share :

Baca Juga

HUKUM

Polemik Ijazah Gibran Usai Putusan MK: Apa Syarat Pemakzulan Wapres Menurut Konstitusi?

BERITA

Kunjungan Pasien Capai 150 Orang per Hari, Puskesmas Kuta Makmur Kekurangan Tempat Tidur Rawat Inap

BERANDA

Mendagri Berhentikan Bupati Gowa Sitti Husniah, Darmawangsyah Muin Ditunjuk Sebagai Plt Bupati

ACEH

RSUD Zubir Mahmud Pastikan Belum Ada Pasien Sesak Napas Akibat Kabut Asap di Aceh Timur

BERITA

Mukhlis Puna Bekali 27 Santri Misbahul Ulum dengan Keterampilan Jurnalistik

ACEH

Perayaan Maulid di Gampong Sagoe Muara Tiga Ricuh, Bendera Aceh Diturunkan Aparat di Area Masjid

ACEH

Waspada! Langit Idi Rayeuk Mulai Berkabut, Asap Tebal dari Palembang dan Jambi Sampai ke Aceh Timur

ACEH

Banjir Luas Landa 9 Kecamatan di Aceh Tamiang, Tanggul Jebol dan Ribuan Warga Mengungsi