
Oleh : Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd (Akademisi, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa)
Apa jadinya negeri ini jika gedung megah yang dibangun dari uang rakyat malah menjadi benteng yang menutup telinga dari jerit rakyat? Tragedi meninggalnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online dalam aksi demo di depan DPR, bukan sekadar kecelakaan. Ia adalah simbol dari ketidakadilan sistemik, tanda bahwa suara rakyat semakin sulit menembus tembok kekuasaan.
Kematian Affan bukan hanya duka keluarga, tapi aib bangsa. Ia tewas bukan karena anarkis, tetapi karena keberanian menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan jutaan rakyat kecil. Di satu sisi, rakyat berjuang melawan kenaikan pajak dan biaya hidup yang kian mencekik. Di sisi lain, para wakil rakyat justru sibuk merayakan kenaikan gaji dan mengabaikan aspirasi publik.
Masalah ini tidak berdiri sendiri. Krisis empati tampak di banyak lini kekuasaan dari parlemen hingga kementerian, bahkan aparat penegak hukum. Ketika seorang menteri menyebut guru dan dosen sebagai “beban negara”, itu bukan sekadar kekeliruan kata, tetapi pelecehan terhadap profesi yang melahirkan generasi pemimpin, termasuk mereka yang kini duduk di kursi kekuasaan. Kepintaran tanpa moral hanya melahirkan kebijakan yang kejam.
Lihat pula cara aparat mengamankan demonstrasi. Polisi seharusnya pelindung rakyat, bukan algojo. Rekaman yang beredar memperlihatkan pentungan menghantam mahasiswa, darah mengalir di kepala anak-anak bangsa yang hanya ingin bersuara. Di antara mereka bisa saja ada saudara, anak, atau bahkan keluarga seorang polisi sendiri. Jika kita sampai kehilangan rasa kemanusiaan, hukum bukan lagi pelindung, melainkan senjata.
Lebih ironis lagi, saat Ketua DPR berkata, “Silakan demo, pintu dewan selalu terbuka,” yang terjadi justru sebaliknya. Pintu ditutup rapat, bahkan dibeton. Itu bukan dialog, itu penghinaan. Bicara satu, bertindak lain — inilah yang melukai hati rakyat.
Jika DPR benar-benar ingin dihormati, berhentilah bersembunyi di balik pagar beton. Jumpai rakyat, dengarkan kritik mereka, evaluasi kinerja sendiri. Bentuk forum dengar pendapat terbuka, hentikan kriminalisasi demonstran damai, dan tindak tegas aparat yang melampaui batas. Polisi harus menjadi pengayom, bukan penindas.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tapi sangat kekurangan pemimpin yang berempati. Negeri ini tidak akan maju jika kekuasaan hanya berpihak pada yang berkuasa, bukan pada yang berjuang. Sudah saatnya pintu DPR dibuka. Bukan dengan beton, tapi dengan hati. Jika tidak, rakyat akan mencari pintu lain — dan itu bisa menjadi pintu menuju krisis demokrasi yang lebih dalam.
Lhokseumawe, Sabtu 30 Agustus 2025







