MEDIALITERASI.ID | LHOKSEUMAWE- Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe menyalurkan bantuan pemulihan tahap awal berupa 5,5 ton beras untuk setiap desa di 68 desa pada empat kecamatan terdampak banjir. Bantuan ini diprioritaskan bagi warga yang mengalami kerusakan rumah, kehilangan perabot, serta kehilangan sumber pendapatan akibat banjir yang melanda wilayah tersebut.
Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., mengatakan bahwa bantuan ini merupakan langkah cepat pemerintah sebelum pendataan kerusakan secara menyeluruh dan penyusunan program pemulihan jangka panjang diselesaikan.
“Kami ingin memastikan masyarakat merasakan kehadiran pemerintah pada masa sulit. Bantuan ini diberikan agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa pemulihan,” ujar Sayuti.
Penyaluran beras dilakukan secara bertahap di seluruh desa terdampak. Sejumlah warga terlihat menerima bantuan tersebut dengan penuh kelegaan, mengingat sebagian besar masih berjuang memulihkan kondisi rumah dan usaha mereka.
Nurhayati, seorang pedagang makanan di Lhokseumawe yang rumah dan tempat usahanya terendam banjir hingga setinggi pinggang, mengaku bantuan ini sangat membantu.
“Setelah banjir, kami belum bisa kembali bekerja. Warung kami rusak, kulkas hanyut, dan stok dagangan hilang. Bantuan ini membuat kami lebih tenang untuk beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Banjir yang melanda Lhokseumawe tidak hanya merusak pemukiman, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi yang cukup berat. Lahan pertanian terendam, pedagang kehilangan modal, nelayan tidak dapat melaut karena cuaca ekstrem, dan pekerja harian terpaksa berhenti bekerja akibat fasilitas umum yang belum pulih.
Pemko Lhokseumawe memastikan penyaluran beras dilakukan secara merata dan sesuai sasaran. Selain bantuan pangan, pemerintah juga menyiapkan tahap lanjutan berupa pemulihan ekonomi dan rehabilitasi infrastruktur.
Dengan penyaluran bantuan tersebut, pemerintah berharap masyarakat dapat melalui masa awal pemulihan dengan lebih stabil sembari menunggu program jangka panjang untuk memulihkan kondisi sosial ekonomi pascabencana. (EQ)









