MEDIALITERASI.ID |BANDA ACEH – Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 resmi dibuka di Banda Aceh, Jumat (9/10/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 11 Oktober 2026 ini mempertemukan ulama, mursyid tarekat, akademisi, dan cendekiawan Muslim dari sejumlah negara untuk memperkuat silaturahmi, memperdalam kajian keislaman, serta mendorong persatuan umat.
Mengusung tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Kesatuan Umat”, kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) bersama unsur terkait tersebut juga diharapkan menjadi sarana memperkenalkan tradisi keilmuan Islam Aceh kepada masyarakat internasional.
Ketua Panitia Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026, Abi Sahal Tastari Waly, memimpin penyelenggaraan kegiatan yang menjadi ruang pertemuan dan pertukaran pemikiran para ulama lintas negara.
Rangkaian kegiatan berlangsung di sejumlah lokasi di Banda Aceh, di antaranya Balai Meuseuraya Aceh dan kawasan Taman Sulthanah Ratu Safiatuddin. Selain forum keilmuan, agenda muzakarah juga mencakup kegiatan keagamaan dan zikir yang melibatkan masyarakat.
Sekretaris Panitia, Tgk. Agus Ramadan, mengatakan muzakarah tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara ulama internasional dan masyarakat Aceh. Menurutnya, kegiatan ini juga membuka peluang untuk memperkenalkan sejarah Islam Aceh sekaligus mendorong pengembangan wisata religi.
Ia berharap kehadiran ulama, mursyid, dan tamu undangan dari berbagai negara dapat meningkatkan minat kunjungan ke Aceh sehingga turut memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Sektor yang berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan kunjungan tersebut antara lain perhotelan, transportasi, kuliner, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai layanan pendukung pariwisata.
Agus juga berharap muzakarah serupa dapat kembali diselenggarakan dengan jangkauan yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak ulama serta tamu undangan dari berbagai negara.
Menurutnya, keberlanjutan kegiatan tersebut penting untuk memperkuat hubungan ant ulama, memperluas jaringan keilmuan Islam, dan memperkenalkan Aceh sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Asia Tenggara.
## Ulama Malaysia dan Kamboja Hadiri Muzakarah
Kehadiran delegasi luar negeri menjadi salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026.
Sejumlah tamu dari Malaysia dan Kamboja dilaporkan tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pada Kamis (8/10/2026). Sementara itu, rombongan lainnya melakukan perjalanan melalui Jakarta.
Di antara tamu asal Malaysia yang disebut dalam rombongan tersebut ialah Dato’ H. Prof. Shulshil Azam bin Shuib, Siti Natijah binti Abd Aziz, dan Tuan Guru Muhammad Saleh Hamzah. Adapun rombongan dari Kamboja mencakup Yob Ashkari beserta sejumlah tamu lainnya.
Kehadiran para delegasi tersebut diharapkan membuka ruang komunikasi dan pertukaran pengalaman keilmuan, sekaligus mempererat hubungan ant ulama di kawasan Asia Tenggara.
## Perkenalkan Warisan Keilmuan Islam Aceh
Aceh memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Nusantara. Tradisi keilmuan yang tumbuh melalui ulama, dayah, dan jaringan intelektual lintas kawasan menjadi bagian penting dari sejarah Islam di Asia Tenggara.
Sejumlah ulama, seperti Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin as-Sumatrani, Syekh Nuruddin ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf as-Singkili, dikenal memiliki kontribusi terhadap perkembangan pemikiran Islam di Aceh.
Melalui muzakarah internasional ini, khazanah keilmuan tersebut diharapkan dapat diperkenalkan kepada peserta dari berbagai negara sekaligus menjadi sarana pertukaran pemikiran mengenai ajaran tauhid dan tasawuf.
Penguatan tradisi keilmuan Islam juga memerlukan kajian berkelanjutan, dukungan terhadap lembaga pendidikan Islam, serta keterlibatan generasi muda agar warisan intelektual para ulama tetap berkembang.
## Dorong Pengembangan Wisata Religi
Selain menjadi forum keagamaan, muzakarah internasional ini diharapkan dapat mendukung promosi wisata religi di Aceh.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan negara menjadi kesempatan untuk memperkenalkan masjid bersejarah, makam ulama, pusat pendidikan Islam, serta destinasi lain yang memiliki nilai sejarah dan spiritual.
Pengembangan wisata religi berpotensi memberikan manfaat bagi pelaku UMKM, pengusaha kuliner, penyedia transportasi, pengelola penginapan, dan pedagang lokal. Namun, besarnya dampak ekonomi tersebut perlu diukur melalui data kunjungan, aktivitas usaha, dan evaluasi setelah kegiatan berlangsung.
Karena itu, kolaborasi antara penyelenggara, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan agar promosi wisata religi dapat berlanjut setelah muzakarah berakhir.
Penyelenggaraan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 diharapkan tidak hanya memperkuat silaturahmi dan pertukaran keilmuan antara ulama, tetapi juga membuka peluang kerja sama internasional serta memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh.
Melalui kegiatan ini, Aceh kembali memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan tradisi keislaman dan warisan keilmuannya kepada masyarakat dunia. (Syeh Wan)







