MEDIALITERASI.ID | RIYADH — Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Dua bandara vital Arab Saudi menjadi sasaran serangan rudal dan drone yang diklaim dilancarkan kelompok Houthi dari Yaman, pada Selasa (06/10/2026) dan Rabu (07/10/2026).
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengkonfirmasi serangan tersebut menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya. Akibatnya, tiga warga negara asing tewas dan 36 orang lainnya luka-luka.
“Pada Selasa dan Rabu, Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid menjadi sasaran serangan yang menargetkan fasilitas mereka,” ujar GACA dalam pernyataan resmi yang dilansir AFP, Rabu (08/10).
KORBAN TEWAS DAN PULUHAN LUKA
GACA merinci, dua korban tewas di Bandara Abha merupakan perempuan warga negara Maroko dan Aljazair. Sementara satu korban tewas di Bandara Riyadh adalah warga negara Sudan. Laporan lain menyebut korban Mesir juga termasuk dalam daftar korban. fb6c
Selain korban meninggal, 36 korban luka dengan tingkat keparahan dari ringan hingga parah telah dibawa ke rumah sakit untuk perawatan medis, sementara kerusakan material dilaporkan terjadi di sejumlah fasilitas bandara. 78f8
KLAIM HOUTHI DAN RESPONS KOALISI
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan terkoordinasi tersebut. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim mereka menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone, bahkan menyasar kilang Aramco di Rabigh.
Di sisi lain, koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat rudal yang menuju Riyadh dan menghancurkan fasilitas peluncuran rudal di wilayah Yaman yang digunakan untuk menyerang wilayah Saudi.
Houthi juga sempat mengeluarkan peringatan agar maskapai internasional menghindari wilayah udara Arab Saudi, meski data penerbangan menunjukkan Bandara King Khalid tetap beroperasi dengan sejumlah penundaan dan pembatalan jadwal.
ESKALASI KAWASAN
Serangan ini merupakan eskalasi terbaru sejak gencatan senjata 2022 berakhir dan pertempuran kembali meluas sejak Juli 2026. Eskalasi ini kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan penerbangan sipil, jalur perdagangan strategis Bab el-Mandeb di Laut Merah, serta stabilitas pasokan energi global.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas penerbangan Arab Saudi masih melakukan penanganan dan investigasi lanjutan di kedua lokasi bandara.(*)
Sumber: AFP, Reuters, Bloomberg (08/10/2026)







