Oleh: Nuriman Abdullah, S.Pd.I, M.Ed, Ph.D
Dosen Sosiologi Pendidikan UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe
Ruang kesadaran kolektif, sebagaimana mestinya, adalah ladang subur tempat gagasan ditanam, nilai dipupuk, dan pikiran dibiarkan tumbuh bebas tanpa ketakutan. Ia bukan sekadar ruang untuk belajar, tetapi medan yang adil untuk mempertanyakan, menyanggah, dan menyemaikan kebenaran yang lebih jernih. Di sanalah martabat intelektual diuji, bukan dari gelar atau jabatan, tetapi dari bagaimana seseorang memperlakukan ilmu mdengan kejujuran atau manipulasi.
Namun sayangnya, ruang ini tak selalu dirawat oleh tangan-tangan yang jujur dan teduh. Ada kalanya, ia dikuasai oleh sosok-sosok yang tampak bijak, namun perilakunya berporos pada dominasi, bukan pada pencerahan. Mereka menanam ketakutan di tempat seharusnya ditumbuhkan keberanian. Mereka mungkin terlihat tenang, bahkan religius, tapi menyimpan pola kepemimpinan yang zhalim dan sering kali keberadaan mereka justru bersembunyi dalam ruang kesadaran kolektif itu sendiri.
Dalam pengertian yang lebih luas, zhalim bukan hanya mereka yang mencederai fisik atau mencuri hak secara terang-terangan. Lebih dalam dari itu, zhalim adalah mereka yang memutarbalikkan prinsip, menyalahgunakan amanah, dan mematikan potensi orang lain demi kepentingan pribadi, kelompok, atau rasa takut yang diselubungi ambisi.
Berikut lima ciri-ciri zhalim yang kerap hadir begitu dekat dalam ruang kesadaran kolektif, namun sering kali tak segera dikenali:
1. Menjadikan Ilmu Sebagai Alat Kuasa
Zhalim dalam kehidupan sosial bukan tidak pandai bicara. Mereka justru lihai memainkan kutipan dan jargon, tetapi bukan untuk mencerahkan melainkan untuk membenarkan keputusan yang telah dibuat. Ilmu dijadikan legitimasi, bukan inspirasi. Forum-forum diskusi bukan lagi tempat dialektika, tapi ajang mempertontonkan otoritas. Dalam kerangka ini, ilmu kehilangan ruh dan hanya menjadi perisai untuk mempertahankan dominasi.
2. Menganggap Perbedaan Sebagai Ancaman
Masyarakat yang sehat bertumbuh dari keberagaman pemikiran. Namun zhalim tak tahan dengan yang berbeda. Bagi mereka, kritik adalah pembangkangan, dan alternatif adalah gangguan. Maka lahirlah budaya diam: warga enggan bersuara, pemuda takut bertanya, dan yang jujur justru tersingkir. Ruang kesadaran kolektif berubah dari ruang tumbuh menjadi ladang ketakutan dan kepura-puraan.
3. Merawat Ketimpangan dengan Prosedur yang Tampak Legal Kezhaliman dalam kehidupan sosial sering bersalin rupa menjadi “aturan” atau “kebijakan”. Penunjukan jabatan, distribusi program, bahkan pengabaian hak, semua dibungkus dalam prosedur formal yang tampak sah. Namun dibaliknya tersembunyi seleksi berdasarkan kedekatan, bukan kompetensi. Ruh keadilan tercerabut, digantikan oleh loyalitas semu yang dikemas rapi.
4. Memanipulasi Bahasa Agama untuk Membungkam Nurani
Yang paling menggelisahkan adalah ketika bahasa agama digunakan untuk menaklukkan kesadaran masyarakat. Pemimpin menyitir ayat, bicara tentang amanah dan ikhlas, namun dalam waktu yang sama menciptakan ketakutan yang sistemik. Kritik dianggap durhaka, keberatan disamakan dengan fitnah. Agama dijadikan tameng untuk menutup mulut, bukan cermin untuk membersihkan hati.
5. Menyempitkan Ketaatan Menjadi Kepatuhan Buta Dalam kehidupan sosial, ketaatan idealnya tumbuh dari pemahaman dan integritas. Namun zhalim menuntut patuh tanpa tanya. Masyarakat dikondisikan untuk mengikuti tanpa berpikir. Diskusi dianggap gaduh, pertanyaan dianggap ancaman. Maka yang tersisa hanyalah barisan diam yang kehilangan keberanian untuk berpikir, apalagi berbicara.
Ruang kesadaran kolektif hanya akan tetap hidup bila dijaga oleh kejujuran, keberanian, dan keteladanan moral. Kita semua aparat, warga, tokoh, dan pemimpin memikul tanggung jawab untuk memastikan bahwa ruang sosial tetap merdeka dari dominasi yang diselubungi kesalehan palsu.
Zhalim dalam ruang kesadaran kolektif bisa saja tersenyum, berceramah, bahkan tampak menyejukkan. Namun bila ia membungkam yang jujur dan memanjakan yang penurut, maka ia telah meracuni akar peradaban. Saat itulah, kita tak sedang membangun masyarakat kita sedang memadamkan obor masa depan. Maka jangan pernah lelah menyuarakan yang benar sekalipun suara itu hanya bisikan di antara gemuruh kekuasaan. Sebab ruang sosial, meski sunyi dan tertindas, akan tetap tumbuh bila dirawat dengan hati yang bersih dan nurani yang terjaga.






