Home / OPINI

Senin, 26 Juni 2023 - 16:59 WIB

MASIH MAMPUKAH SEBUAH TULISAN MERUBAH MASYARAKAT KE ARAH YANG LEBIH BAIK?

Oleh :

T.M. Jamil
Ilmuwan Sosial, USK, Banda Aceh.

“Menulis Berarti Menciptakan Duniamu Sendiri.” (Stephen King – Penulis Best Seller Internasional)

——————–

Sebagai seorang dosen atau pendidik dan peneliti sering kali rekan saya seprofesi bertanya, tentang fungsi dan kekuatan menulis di pasar bebas saat ini. Maklum di saat menjamurnya industri media massa baik yang masih bersifat konvensional ataupun new media, daya pengaruh teks tulisan seakan semakin memudar. Lantas apakah masih relevan tulisan mampu mengubah perilaku seseorang atau masyarakat?

UNTUK Menulis – Sebagai peneliti memang tidaklah mudah. Teks berita di koran atau di media online saja mungkin tidak bisa mengubah perilaku seseorang atau bahkan masyarakat, apalagi tulisan ilmiah. Tetapi untuk provokasi, mungkin Ya…

Karenanya tulisan untuk melakukan perubahan sosial perlu lebih provokatif. Perlu sekadar objektif. Perlu lebih menggigit dan menyeret pembaca ke “jalan yang benar”. Inilah mungkin konsep inti menulis untuk melakukan perubahan sosial.

Dalam kehidupan sehari hari, sayangnya, banyak tulisan yang hanya sekadar tulisan. Banyak tulisan yang makna dan pesannya tidak terungkap jelas. Contoh nyata adalah banyak sampah bertumpuk justru di bawah papan pengumuman “Jangan buang sampah di sini”. Atau tercium bau pesing di dekat papan berbunyi: “Dilarang kencing disini, kecuali anjing”. Padahal tidak ada anjing di sekitarnya.

Pendeknya kita boleh meragukan poster, sticker, brosur, apalagi sekadar artikel di media massa baik di koran ataupun media online dan sosial media. Tetapi kalau kita ragu ragu untuk menulis terus menerus, maka kapan lingkungan sosial kita dapat diperbaiki?

Pertanyaan sederhana, masih perlukan kita menulis untuk mengubah kondisi sosial di masyarakat seperti meminimalisasi polusi kota, memperkecil angka kriminal, mencegah penyalahgunaan narkoba, mengajak masyarakat mendaur ulang sampah, menghemat energi listrik, atau lainnya? Dapatkah kita membuat esai agar pejabat negara tidak melakukan korupsi, para remaja tidak menggunakan narkoba, melacurkan diri atau soal penyakit sosial lainnya?

Di sinilah letak tantangannya. Pesan tertulis, konon hanya punya efektivitas pengaruhnya paling tinggi tujuh persen. Jauh di bawah pesan lisan yang hampir 30 persen, dan pesan tindakan langsung yang bisa di atas 40 persen. Dalam komunikasi industri, memo-memo hampir tidak mungkin disuruh jalan sendiri.

Biasanya memo hanya menegaskan pembicaraan sebelumnya, baik yang dilakukan per telepon atau tatap muka. Sebaliknya, setelah menyampaikan memo, selalu ada tindak lanjut berupa komunikasi lisan, permintaan laporan atau tanggapan kongkrit.

Sedangkan kita dengan koran, majalah, buletin, atau artikel di media online dan sosial media kita tidak demikian. Setelah kita tulis, kita biarkan artikel, berita atau esai atau pengumuman kita biarkan “berjalan sendiri”. Kita juga sibuk setelah mencari bahan tulisan lainnya, tanpa menindaklanjuti hasil tulisan kita ke dalam sebuah tindakan kongkrit. Di sinilah terkadang kelemahan dari banyak tulisan.

Baca Juga  Jokowi Harus Cepat Tumbang

Ada sebuah kata bijak yakni “never ending improvement”. Jangan pernah berhenti berubah ke arah yang lebih baik. Mungkin kata itu bijak itu menjadi pijakan atau motto. Jangan pernah berhenti berubah ke arah yang lebih baik, ya salah satu quote yang patut kita pegang. Sebab manusia sejatinya ingin mengarah kepada keadaan yang lebih baik.

Anak-anak sekolah misalnya, ingin bisa diterima di sekolah favoritnya. Seorang wanita ingin mendapatkan pasangan yang shaleh, begitu sebaliknya. Seorang pekerja, ingin gajinya terus meningkat seiring peningkatan karirnya. Mahasiswa ingin mendapatkan yang baik dan cepat lulus,. Dan masih banyak lagi. Itu jika kita berbicara kebutuhan individu dalam masyarakat.

Banyak cara menulis untuk melakukan perubahan sosial di masyarakat kita. Titik tekannya adalah bukan sekadar menulis lalu kita biarkan tulisan tersebut tanpa ‘berjalan’. Artinya tatkala kita menulis untuk melakukan perubahan sosial dibutuhkan sebuah kontinuitas, keberlanjutan.

Istilah dalam dunia penulis atau wartawan adalah harus terus di-running. Perubahan sosial di masyarakat tidak akan terjadi jika hanya satu kali menulis, tetapi harus terus menerus. Misalnya seorang wartawan. Ia tidak sekadar menulis berita hasil pernyataan seorang pejabat daerah atau negara. Kalau hanya sekadar menulis berita demikian, itu namanya wartawan beo. Seorang wartawan diharuskan memiliki tanggungjawab sosial dan juga moral.

Sebut saja, Misalnya wartawan sosial-lingkungan. Ia tidak mungkin membiarkan anak kampung yang kelaparan sampai mati, dimakan binatang buas, sehingga baru menulis berita lengkap yang bagus. Tidak demikian. Wartawan lingkungan tidak membiarkan lingkungan rusak sehingga terjadi bencana alam lalu menulis berita yang detail. Seorang wartawan dituntut untuk menahan bencana alam. Itulah tantangannya.

Begitu juga kita sebagai warga negara yang memiliki minat dan kecenderungan yang berbeda beda. Sebagai penulis yang peduli akan perubahan sosial di masyarakat kita tidak harus menunggu peristiwa sosial terjadi terlebih dahulu, baru kita menulis. jika ada kesempatan dimanapun maka segeralah menulis.

Diupayakan kita dalam menulis bisa membuat pembaca hanyut terbawa arus tulisan. Misalnya tentang bencana lingkungan hidup. Pembaca dibuat ngeri sedemikian rupa sehingga tergetar, merinding, ketakutan dan akhirnya mau tak mau harus melakukan sesuatu yang kita tulis. Itulah teknik pertama yang membuat tulisan menjadi efektif.

Tunjukkan akibat terburuk yang langsung menyetuh pembaca. Misalnya kita membuat tulisan yang membuat semua orang takut kekeringan air, tidak bisa mandi dan pelan pelan mati kehausan. Lantas untuk mencegahnya kita kasih tips bagaimana membuat sumur biopori, sumur penampungan air, penghijauan di lingkungan yang kering dan seterusnya( Lihat Eka Budianta, Senyum Untuk Calon Penulis, Pustaka Alvabet, Jakarta, 2005).

Baca Juga  UNTUNG PRABOWO TAK JADI PRESIDEN

Menulis merupakan proses belajar jangka panjang, karena dalam tingkatannya, memaksa seseorang untuk merenung, memperhatikan permasalahan dan memilih kata-kata yang pantas untuk dipergunakan. Menulis bukan sekedar mengoplos yang menghasilkan nilai murahan. Menulis itu menuntut tanggung jawab moral.

SEBENARNYA MENULIS ITU DAPAT DIPELAJARI, ASALKAN ADA KEMAUAN, KEBERANIAN MENCOBA DAN MENGOLAH, SERTA TEKUN BERLATIH. KETIKA SEBUAH TULISAN BISA BERNAFAS DIHATI SETIAP MANUSIA, BERARTI SEJARAH DUNIA MULAI DIBUKA UNTUK MAJU KE DEPAN.

Seorang penulis, diharapkan untuk kritis. Dalam konteks ini, kritis bukan berarti berteriak-teriak tanpa ada tujuan, namun lebih pada melihat suatu momen, yang mungkin tidak bisa ditangkap orang lain, dimana jika kita lebih mendalami dan menggalinya, maka akan menghasilkan perubahan. Bisa jadi perubahan tersebut belum bisa dinikmati oleh sang penulis selama dia hidup.

Hal tersebut terjadi pada penulis besar sekaliber Friedrich Nietzsche, yang dilupakan orang semenjak dia masuk rumah sakit jiwa, dan baru ditemukan lama setelah dia meninggal. Namun bisa juga dinikmati selama dia hidup, seperti pada kasus Jean Paul Sartre atau Albert Camus, dimana mereka berdua menjadi penerima nobel sastra dan karya mereka sukses secara komersial. Adapun, popularitas tidak lebih dan tidak bukan merupakan efek samping dari kehebatan seorang penulis sejati.

Kehebatan seorang penulis, bukan terletak pada popularitasnya, namun lebih pada kekritisan dia, untuk menggali momen yang dapat mengarah pada perubahan komunitas dimana dia hidup. Penulis sekaliber Voltaire, Paine, atau Multatuli sama sekali tidak peduli, apakah karya mereka akan laku secara komersial atau tidak. Yang paling penting, dan ini yang selalu menjadi harapan mereka, adalah karya-karya tersebut selalu dapat menjadi bahan pertimbangan dan inspirasi bagi komunitas mereka maupun generasi sesudah mereka, untuk menganalisis suatu perubahan sosial atau budaya, menuju hari esok yang lebih baik.

“Menulis itu indah” begitulah kata Stephen King seorang penulis novel yang mempu menggebrak dunia dengan novel-novelnay sebanyak 35 judul novel. Sementara menulis tidak sekedar paham tata bahasa dan tanda baca saja. Namun, perlu pengembangan kemampuan yang dinamis, kemampuan menganalisis, dan kemampuan membedakan antara hal yang valid dan akurat.

Menulis merupakan kegiatan yang memiliki nilai luar biasa dalam kehidupan manusia, kerena tulisan mampu mendokumentasikan dan menyebarkan ide, gagasan, pemikiran, serta penemuan seseorang berabad-abad lamanya. Kekuatan sebuah buku sering melampaui umur manusia itu sendiri. Maka menulis itu pada hakikatnya bukan hanya mendemonstrasikan apa yang diketahui saja, tapi membutuhkan kemauan, kemampuan, dan ekspresi diri. Sehingga tulisan bisa diterima di hati manusia serta dapat membobol era globalisasi dunia. Semoga bangsa ini semakin tercerahkan !!!

Pojok Kampus USU, Akhir Juni 2023.

Share :

Baca Juga

OPINI

Aceh Darurat Pendidikan: Ijazah Bertambah, Nalar Menghilang

OPINI

Putusan MK 128/PUU-XXIV/2026 dan Jalan Panjang Keadilan Politik Perempuan

OPINI

Kenapa Orang Pintar Banyak yang Boncos? Rahasia “OS Mental” di Balik Sukses Finansial

EDUKASI

Ketika Guru Membangun Peradaban di Tengah Kebisingan Publik

EDUKASI

SNBT Bukan Takdir : Jangan Jadikan Kampus Impian Sebagai Berhala Masa Depan

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika