Home / OPINI / RELIGI

Selasa, 7 Maret 2023 - 02:47 WIB

MARI MENGISI MALAM “CATATAN BUKU BARU KITA”

Oleh :
Teuku Muhammad Jamil.

Hari Ini, Selasa tanggal 7 Maret 2023 bertepatan dengan 14 Sya’ban 1444-H. Nanti malam tepatnya malam Rabu Merupaka  Malam kelima Belas dari Bulan Sya’ban.  Salma tradisi Masyarakat Islam. Aceh Khususnya dan Masyarakat Indonesia pada umumnya,alam ini sering disebut dengan ‘malam Nisfu Sya’ban’ yang artinya malam pertengahan bulan Sya’ban yaitu malam kelima belas.

Izinkanlah tulisan ini saya awali dengan untaian kata, SAAT KITA menanam padi, pasti rumput ikut tumbuh menghiasinya. TAPI, saat kita menanam rumput, tak akan pernah tumbuh padi di dalamnya. BEGITULAH dalam hidup ini, saat kita melakukan kebaikan, kadang-kadang hal yang buruk dan tidak pernah kita bayangkan, seringkali turut menyertai. Namun saat kita melakukan sebuah keburukan atau kesalahan, tiada sedikitpun kebaikan ikut bersamanya. JADI, Sebuah Pertanyaan Yang Pantas Diajukan, Apakah Semua Kebaikanku Selama Ini Tak Akan Pernah Dapat Mengubah Satu Kesalahanku Padamu? Renungkanlah!
Untuk itu, aku selalu berpesan pada diriku sendiri, juga kepada orang-orang yang berhati mulia, JANGAN pernah bosan dalam berbuat baik, meskipun kadang-kadang tidak pernah sempurna untuk menyenangkan hati banyak orang. Tapi, setidak-tidaknya kita telah berusaha untuk berbuat dan bertindak yang terbaik dalam hidup ini. Insya Allah, niat baik selalu berbuah pertolongan-NYA dan Allah swt selalu akan menyertai kita. Selamat Menyambut Hari Nisfu Sya’ban, 1436H, semoga semua kebaikan kita diterima sebagai amal, dan semua kesalahan kita dimaafkan dan diampuni oleh Allah swt. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.

“Sya’ban” sebagai salah satu nama bulan dalam kalender hijriah mempunyai arti “berkelompok” (biasanya bangsa Arab berkelompok mencari nafkah pada bulan itu). Sya’ban termasuk bulan yang dimuliakan oleh Rasulullah Saw. selain bulan yang empat, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Namun pada tradisi yang telah lama dilaksanakan khususnya di lingkungan Islam Indonesia setelah melaksanakan shalat magrib dalam melaksanakan Nisfu Sya’ban yakni membaca doa dan yasin sebagai berikut :

Pertama, Pada yasin yang pertama kita berniat semoga diberikan panjang umur yang barokah sehingga bisa melaksanakan ibadah dan taat kepada Allah SWT. Kedua, Setelah Membaca Yasin yang kedua kita memohon agar ditetapkan nikmat iman dan dijauhkan dari segala bencana oleh Allah SWT. Ketiga, Setelah yasin yang ketiga, kita memohon kepada Allah SWT agar diberikan rizqi yang halal dan barikah oleh Allah SWT.

Dan pada lingkungan umat muslim memang pada umumnya, pada malam ini merupakan malam yang akan dilalui dengan berdoa, karena ada pendapat para Mufassirin yakni malam Nisfu Sya’ban ialah malam ditentukannya banyak takdir khususnya umat muslim. Ada satu catatan penting berkaitan dengan tradisi di sebagian masyarakat kita pada malam nisfu Sya’ban, yaitu tentang do’a yang biasa di baca oleh sebagain masyarakat pada malam ini. Do’a tersebut perlu diluruskan karena berkaitan dengan masalah tauhid atau keimanan terhadap taqdir Allah Ta’ala. Makna do’a yang perlu di luruskan tersebut adalah: “Ya Allah, jika Engkau telah menetapkan aku dalam kitab-Mu sebagai orang yang terhalang, tersingkirkan atau yang yang terkurangi rizkinya. Maka hapuslah ya Allah dengan karunia-Mu kesengsaraan, keterhalangan, tersingkirlan dan kekurangan rizkiku…”.

Do’a ini tidak ada yang meriwayatkan dengan riwayat yang shahih dan doa tersebut mengandung makna seakan-akan takdir Alllah dapat berubah, padahal umat islam sepakat sebagaimana yang di nash alqur’an maupun hadits bahwa takdir Allah, kehendak Allah tidak dapat di ubah dengan sesuatu apapun, karena perubahan menandakan baharunya sesuatu sedangkan Allah dan sifat-sifat-Nya adalah azali (tidak memiliki permulaan) dan abadi (tidak memiliki penghabisan). Artinya takdir Allah tidak berubah.

Salah satu pemuliaan Rasulullah Saw. terhadap bulan Syaban ini adalah beliau banyak berpuasa pada bulan ini. Hal tersebut dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud dan di sahih kan oleh Ibnu Huzaimah yang artinya : “Usamah berkata pada Rasulullah Saw., ‘Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban.’

Baca Juga  TNI Pengawal Demokrasi

Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’” Selain itu, menurut Rasulullah Saw pada bulan ini pula yaitu pada malam nisfu sya’ban (malam kelima belas) seluruh amal perbuatan manusia diangkat kepada Allah Swt. Sehingga Rasulullah Saw berharap ketika amal perbuatanya diangkat kepada Allah Swt maka Rasul dalam keadaan puasa.

Hal tersebut dijelaskan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh al-Nasa’i yang artinya : “Bulan itu (Sya‘ban) berada di antara Rajab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku di angkat ketika aku berpuasa”. ( HR. al-Nasa’i). Ataupun bisa juga dibaca do’a berikut ini. Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Amin.

KEUTAMAAN MALAM NISFU SYA’BAN : Keutamaan malam Nisfu Sya‘ban sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nisfu Sya‘ban, maka diampuni segala dosa makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban).

Begitu juga dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA., beliau berkata: “Suatu malam Rasulullah Saw shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah Saw telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah Saw. selesai shalat beliau berkata: “Hai ‘Aisyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu Rasulullah Saw. bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini?”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku.

“Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki dari kehidupannya” (HR. Baihaqi).

Menurut perawinya hadits ini mursal (ada rawi yang tidak sampai ke Sahabat), aka tetapi hadits ini cukup kuat. Malam Nisfu Sya‘ban juga termasuk malam-malam yang dikabulkan doa. Imam asy-Syafi‘i dalam kitabnya al-Umm, berkata: “Telah sampai pada kami bahwa dikatakan: sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam, yaitu malam Jum’at, malam hari raya Idul Adha, malam hari raya ‘Idul fitri, malam pertama di bulan Rajab dan malam Nisfu Sya‘ban.”

MENGHIDUPKAN MALAM NISFU SYA‘BAN : Malam Nisfu Sya‘ban (malam kelima belas pada bulan Syaban) merupakan malam yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Untuk itu, kita dianjurkan bahkan disunnahkan untuk menghidupkan malam ini. Adapun cara menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban sebagaimana yang dilakukan sekarang ini tidak berlaku pada zaman Rasulullah Saw dan zaman para sahabat. Akan tetapi hal ini berlaku pada zaman thabi‘in (zaman setelah para sahabat) dari penduduk Syam.

Imam al-Qasthalani dalam kitabnya al-Mawahib al-Ladunniyah, berkata, “bahwa para tabi‘in daripada penduduk Syam seperti Khalid bin Ma‘dan dan Makhul, mereka beribadah dengan bersungguh-sungguh pada Malam Nisfu Sya‘ban. Maka dengan perbuatan mereka itu, mengikutlah orang banyak untuk membesarkan malam tersebut. ”Para tabi‘in menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan dua cara, yaitu ;

Pertama, Sebagian mereka hadir beramai-ramai ke masjid dan berjaga di waktu malam (qiyamullail) untuk shalat sunat dengan memakai harum-haruman, bercelak mata dan berpakaian yang terbaik ; dan Kedua, Sebagiannya lagi melakukannya dengan cara bersendirian. Mereka menghidupkan malam tersebut dengan beribadah seperti shalat sunat dan berdo’a dengan cara sendirian. Adapun cara kita sekarang ini menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan membaca Al-Qur’an seperti membaca surah Yasin, berzikir dan berdoa dengan berhimpun di masjid-masjid atau di rumah-rumah sendirian atau berjamaah adalah tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para tabi‘in itu.

Baca Juga  BATALKAN PROYEK IKN NUSANTARA

Dalam hadits Ali RA., Rasulullah Saw. bersabda : “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan shalat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah berfirman: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Ulama berpendapat bahwa hadits lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadits-hadits tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadits-hadits lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban dapat diambil kesimpulan bahwa Malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keuatamana dibandingkan dengan malam-malam lainnya.

AMALAN-AMALAN DALAM MALAM NISFU SYA‘BAN : Untuk menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dapat kita lakukan dengan berbagai cara, tapi hal-hal tersebut dilakukan dengan cara-cara yang baik yang tiak bertentangan denga syraiat.

Di antara hal yang dianggap bid‘ah dan bertentangan denga syariah oleh sebagaian ulama dalam malam nisfu sya’ban itu adalah shalat sunat Nisfu Sya‘ban. Menurut sebagian ulama, shalat sunat nisfu sya’ban sebenarnya tidak tsabit, tidak kuat dasar hukumnyadan dan tidak ada dalam ajaran Islam. Seperti Imam an-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar telah menafikan adanya shalat sunat Nisfu Sya‘ban.

Karena menurut beliau suatu shalat itu disyariatkan cukup sandarannya pada nash Al-Qur’an atau pada hadits nabi. Jika seseorang itu masih juga ingin melakukan shalat pada malam nisfu sya’ban, maka sebaiknya dia mengerjakan shalat-shalat sunat lain seperti sunat Awwabin (di antara waktu maghrib dan Isya’), shalat Tahajjud diakhiri dengan shalat Witir atau shalat sunat Muthlaq bukan khusus shalat sunat Nisfu Sya‘ban. Shalat sunat Muthlaq ini boleh dikerjakan kapan saja, baik pada Malam Nisfu Sya‘ban atau pada malam-malam lainnya.

Tapi ulama lain seperti Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Ihyaa’ (Juz 1 hal. 210) menyatakan bahwa shalat malam nisfu sya’ban adalah sunat dan hal itu dilakukan pula oleh para ulama salaf. Bahkan para ulama salaf menamakan shalat tersebut sebagai shalat khair (shalat yang baik). Begitu juga ulama-ulama lain seperti al-Allamah al-Kurdi. Selain dalam kitab al-Ihyaa’ juga dalam kitab-kitab lain seperti Khaziinah al-Asraar (hal. 36), al-’Iaanah (Juz 1 hal. 210), al-Hawaasyi al-Madaniyyah (Juz 1 hal. 223), dan al-Tarsyiih al-Mustafiidiin (hal. 101).

Nah, terlepas dari ‘kontroversi’ tentang amalan-amalan pada malam nisfu syaban khususnya tentang shalat nisfu sya’ban yang dianggap bid’ah oleh sebagian ulama dan dianggap sunnat oleh ulama lain, maka kita sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal shalih lainnya seperti puasa pada siang harinya sebagaiman dicontohkan Rasulullah Saw, sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang lupa akan kemuliaan bulan sya’ban ini. Wallah a’lam bishawab !

Semoga bermanfaat bagi kita semua, dan mohon maaf lahir dan batin wahai para pembaca semua. Insya Allah, kita akan dicatat oleh Malaikat Allah sebagai Hamba-NYA yang beriman dan selalu berbuat baik. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.

Banda Aceh, Selasa 17 Maret 2028

Share :

Baca Juga

ACEH

Idul Adha 1447 H: Bupati Aceh Timur Ajak Masyarakat Semarakkan Takbir Keliling di Simpang Ulim

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

ACEH

Sambut Idul Adha 1447 H, Bupati Aceh Timur Pusatkan Takbir Keliling di Simpang Ulim

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

ACEH

Kemenag RI Dukung Rancangan Qanun Baitul Mal Aceh untuk Perkuat Tata Kelola Zakat

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital