Home / OPINI

Sabtu, 12 Juli 2025 - 13:54 WIB

Kiamat Moral: Ketika Kebenaran Dikalahkan oleh Pencitraan

Oleh:
Nuriman Abdullah, S.Pd.I., M.Ed., Ph.D
Dosen Sosiologi Pendidikan, UINSUNA Lhokseumawe [nuriman.abdul@gmail.com]

Dalam berbagai tradisi keagamaan dan keyakinan spiritual, narasi tentang akhir zaman sering muncul sebagai peringatan atas runtuhnya nilai-nilai moral dalam masyarakat. Akhir zaman tidak selalu harus dimaknai sebagai kehancuran fisik bumi, seperti bencana alam dahsyat atau perang global. Yang lebih mengkhawatirkan justru adalah bentuk akhir zaman yang lebih halus namun mendalam: keruntuhan nurani dan moralitas sosial.

Dalam konteks inilah, dua karakter sosial muncul sebagai gejala mencolok—yakni mereka yang bersikap oportunistik dan menyesuaikan diri secara tidak sehat demi kepentingan pribadi, serta mereka yang secara aktif menyebarkan keburukan secara sistemik. Dalam istilah populer, mereka dikenal sebagai “penjilat” dan “tentara kekacauan”.

Fenomena penjilat dalam masyarakat bukanlah hal baru. Namun dalam konteks kekinian, perilaku ini telah mengalami normalisasi yang mengkhawatirkan. Mereka yang tahu mana yang benar dan salah namun memilih diam demi kenyamanan, secara tidak langsung memperkuat sistem yang rusak. Bahkan, sebagian secara sadar ikut menyebarkan narasi yang membenarkan ketidakadilan, selama hal tersebut menguntungkan secara sosial maupun ekonomi.

Mereka bisa hadir dalam berbagai peran—dari birokrat, tokoh masyarakat, hingga individu biasa—yang tunduk pada budaya “asal aman”, “jangan berbeda”, atau “ikut arus”. Lama-kelamaan, budaya seperti ini membentuk mentalitas permisif terhadap ketimpangan, serta menciptakan masyarakat yang apatis terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Baca Juga  TANDA "CRASH LANDING" JOKOWI

Di sisi lain, terdapat kelompok yang lebih aktif dan sistematis dalam menyebarkan keburukan: mereka yang dapat disebut sebagai agen kekacauan. Individu-individu ini mungkin tampak terhormat di permukaan—berpakaian rapi, berbicara cerdas, bahkan tampil di panggung keagamaan atau media massa. Namun di balik itu, mereka menyebarkan kebohongan, membelokkan opini publik, dan memperalat kekuasaan atau agama demi agenda tertentu.

Lebih jauh lagi, mereka sering membangun struktur untuk melanggengkan pengaruh tersebut—baik melalui penguasaan media, pengaruh kebijakan, hingga kontrol atas institusi pendidikan dan keagamaan. Dalam kerangka sosiologi moral, mereka bukan hanya sekadar individu yang “tersesat”, tetapi telah menjadi bagian dari sistem yang “menyesatkan”.

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah kerusakan infrastruktur atau krisis ekonomi, melainkan ketika masyarakat kehilangan kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah. Ketika pelaku korupsi dibela karena dianggap “berjasa sosial”, atau ketika kebencian dijustifikasi sebagai “pembelaan agama”, maka kita sesungguhnya sedang mengalami krisis moral yang akut.

Gejala ini tampak dalam kehidupan sehari-hari. Media yang hanya berpihak pada pemilik modal, opini publik yang mudah diarahkan oleh pencitraan, serta tokoh yang memanipulasi simbol-simbol agama demi kepentingan pragmatis. Inilah bentuk “kiamat kecil” yang tidak terlihat secara fisik, tetapi menghancurkan struktur nilai masyarakat dari dalam.

Baca Juga  "Wajib" Makzulkan Jokowi dan "Fatwa Jihad" Melawan Rezim KKN

Menghadapi situasi ini, penting bagi setiap individu untuk menjaga integritas pribadi. Tidak semua orang harus menjadi tokoh publik atau aktivis. Namun, dengan menolak ikut serta dalam budaya pembenaran dan penyesatan, kita sudah memulai langkah perlawanan terhadap degradasi moral.

Budaya berpikir kritis juga perlu dibangun sejak dini. Pendidikan tidak hanya harus menekankan pada kecerdasan akademik, tetapi juga pada keberanian moral. Generasi muda perlu dididik agar berani mempertanyakan, berani berbeda, dan lebih menghargai nilai kebenaran daripada sekadar keuntungan pribadi atau popularitas semu.

Fenomena penjilat dan agen kekacauan bukanlah sekadar wacana retoris. Mereka nyata, hidup, dan aktif dalam sistem sosial kita. Dalam kondisi seperti ini, memilih untuk tetap berada di jalur kebenaran menjadi tantangan yang tidak mudah. Namun justru dari kesulitan inilah nilai perjuangan moral itu lahir.

Akhir zaman dalam perspektif sosiologis bukanlah soal kehancuran alam, tetapi hilangnya kompas moral masyarakat. Dan ketika itu terjadi secara masif, kita tak perlu menunggu tanda-tanda kosmik—karena kiamat sudah dimulai, dalam bentuk yang paling senyap, namun paling merusak: kiamat moral.

Share :

Baca Juga

ACEH

MENAGIH JANJI MoU HELSINKI DAN UUPA: Jangan Sampai South Andaman Menjadi Arun Jilid II

EDUKASI

UIN SUNA 57 Tahun: Kampus Peradaban untuk Generasi Hebat

OPINI

Polemik IUP di Aceh: Jangan Terjebak pada Angka, Perkuat Tata Kelola

BERANDA

Banjir-Longsor Aceh Dinilai “Bencana Terstruktur”: Desakan Evaluasi Izin HPH, Tambang, dan HGU di Kawasan Lindung

ACEH

SDA Aceh Disebut “Emas yang Tak Basi”: Perlukah Pemerintah Tahan Izin Tambang Demi Generasi Berikutnya?

OPINI

Orang Baik Tidur Lebih Nyenyak

BERANDA

Wacana Alih Fungsi Blok Andaman Jadi KEK Lhokseumawe Disorot, Warga Aceh Tekankan UUPA

ACEH

Dua Dekade Berkuasa, Mengapa Aceh Belum Sejahtera?