Home / ACEH / BERANDA / EDUKASI / OPINI

Minggu, 14 September 2025 - 12:13 WIB

Beruk di Kampus Hijau: Menjaga Harmoni Alam dan Ilmu di Universitas Malikussaleh

Foto dan Artikel Karya Cut Putro Balqis Dzakira Muly

Kampus bukan hanya tempat berkumpulnya manusia, melainkan juga rumah bagi makhluk lain yang sering kali luput dari perhatian. Universitas Malikussaleh (Unimal), yang terletak di Aceh Utara dan dikelilingi oleh hamparan hijau hutan tropis, menjadi salah satu contoh nyata di mana dunia ilmu pengetahuan bertemu langsung dengan dunia satwa liar. Salah satu penghuni alami kawasan ini adalah beruk atau monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), spesies yang kerap kita jumpai di perbatasan hutan dan pemukiman.

Keberadaan beruk bukan sekadar pelengkap pemandangan. Mereka adalah aktor penting dalam ekosistem. Dengan kebiasaan menyebarkan biji dari buah yang mereka makan, beruk ikut membantu regenerasi hutan. Singkatnya, tanpa beruk, siklus kehidupan pohon-pohon hutan bisa terganggu. Namun sayangnya, kehadiran manusia yang semakin intens di lingkungan kampus telah membawa tantangan baru: konflik antara satwa dan manusia.

Habitat yang Kian Terhimpit Secara alamiah, beruk membutuhkan hutan yang rimbun dengan pohon buah-buahan, daun muda, dan serangga untuk bertahan hidup. Unimal, dengan kebun-kebun kampus dan pepohonan hijau, sebenarnya menawarkan habitat yang cukup ideal. Sayangnya, pembangunan infrastruktur, perubahan fungsi lahan, dan sampah manusia sering kali menggerus kenyamanan beruk.

Baca Juga  Will The Democrats Be Able To Reverse The Online Gambling Ban

Tidak jarang, beruk terlihat mendekati kantin kampus atau tong sampah untuk mencari makanan. Pemandangan ini, bagi sebagian orang, menimbulkan gangguan. Akibatnya, beruk kadang diperlakukan dengan cara yang kurang pantas. Konflik seperti ini sebenarnya bukan kesalahan satwa, melainkan tanda bahwa habitat mereka semakin sempit dan tertekan.

Tanggung Jawab Konservasi di Pundak Kampus Sebagai institusi pendidikan, Unimal memiliki peluang besar untuk menjadi pionir dalam konservasi satwa liar di lingkungan akademik. Ada beberapa langkah konkret yang bisa ditempuh. Pertama, rehabilitasi lahan dan penanaman pohon yang menjadi sumber makanan alami beruk. Dengan begitu, mereka tidak lagi bergantung pada sisa makanan manusia.

Kedua, edukasi lingkungan kepada mahasiswa, dosen, dan staf kampus. Memahami bahwa memberi makanan sembarangan bisa mengubah perilaku alami beruk adalah hal yang sangat penting. Edukasi bisa dilakukan melalui seminar, kampanye visual, hingga integrasi materi konservasi ke dalam kurikulum.

Ketiga, pemantauan populasi beruk secara rutin. Aktivitas ini bukan hanya bermanfaat bagi kelestarian satwa, tetapi juga bisa menjadi bagian dari penelitian dan pengabdian masyarakat mahasiswa. Bayangkan, sebuah kampus yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga berkontribusi nyata pada konservasi alam.

Baca Juga  MEREFLEKSIKAN PEMBELAJARAN DI MASA DARING KE MASA LURING

Terakhir, perlu adanya kolaborasi dengan lembaga konservasi dan pemerintah daerah. Dengan dukungan regulasi, penelitian, dan pendanaan, langkah-langkah pelestarian ini bisa lebih berkelanjutan.

Belajar dari Alam, Belajar dari Beruk Kehadiran beruk di lingkungan kampus seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat. Pengingat bahwa ilmu pengetahuan sejatinya tidak boleh terlepas dari alam. Bahwa manusia, dengan segala kecerdasannya, tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sesama penghuni bumi.

Di masa depan, Unimal bisa menjadi contoh kampus konservasi yang bukan hanya berprestasi dalam pendidikan, tetapi juga peduli terhadap keberlanjutan ekosistem. Ketika mahasiswa dan dosen berjalan di antara pepohonan, menyadari bahwa beruk yang melompat di dahan bukanlah pengganggu, melainkan mitra dalam menjaga keseimbangan alam, saat itulah harmoni sejati antara ilmu dan lingkungan terwujud.

Konservasi bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata. Dan tindakan itu bisa dimulai dari langkah sederhana: menjaga habitat beruk di kampus kita sendiri.

Share :

Baca Juga

ACEH

BPMP Aceh dan Disdikbud Aceh Timur Gelar Akselerasi Digitalisasi Pembelajaran PAUD dan SD

ACEH

Gayo Lues Digoyang Gempa 5,6 Magnitude, Getaran Terasa hingga ke Idi Rayeuk 

BERANDA

Kepala BGN Nanik Sudaryati Mundur karena Alami Sakit Jantung, Ditunjuk Prabowo Pimpin Dewan Pengawas

ACEH

Festival Jajanan Indatu Aceh Timur 2026 Angkat Tet Pulot, Pulot Ijo, dan Warisan Kuliner Leluhur di Idi

ACEH

Nobar Final Piala Dunia 2026 di Kediaman Bupati Al-Farlaky Berlangsung Meriah

ACEH

Ledakan Dahsyat di Grand Polonia Medan Tewaskan 3 Orang, Diduga dari Jaringan Gas

EDUKASI

Membangun Sekolah Tanpa Kekerasan, Sukma Bangsa Ajak Guru Menjadi Agen Perdamaian

ACEH

Realisasi Belanja Pemkab Aceh Timur Capai Rp716,91 Miliar hingga Juli 2026