MEDIALITERASI.ID | LHOKSEUMAWE – Suasana Aula Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Lhokseumawe terasa berbeda. Ruangan yang biasanya digunakan untuk agenda formal pemerintah daerah kini dipenuhi puluhan mahasiswa muda bersemangat. Mereka adalah kru baru Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe yang sedang menapaki jalan awal menjadi jurnalis kampus.
Mereka datang bukan hanya untuk mendengar teori, tetapi untuk membangun kesadaran akan pentingnya data, empati, dan etika dalam menyampaikan informasi kepada publik. Dalam Workshop Jurnalistik Dasar bertema “Berkarya dengan Data, Menggali Fakta dengan Rasa”, para peserta diperkenalkan pada dua fondasi utama dunia jurnalistik modern: psikologi narasumber dan jurnalisme data.
Zainal Bakri, S.Sos., M.Kom.I., salah satu wartawan senior sekaligus Dosen di Universitas Malikussaleh lhokseumawe ini menjadi salah satu pembuka pemateri dengan mengajak peserta melihat proses wawancara bukan hanya sebagai cara menggali informasi, melainkan sebagai bentuk komunikasi yang mengedepankan rasa hormat.
Ia menekankan pentingnya memahami kondisi psikologis narasumber, mengenali bahasa tubuh, dan menjaga etika agar kepercayaan bisa terbangun.
“Seorang jurnalis bukan hanya pelapor, tapi juga pendengar yang baik. Kita tidak bisa memaksakan cerita keluar jika pintu hati narasumber belum terbuka,” ungkapnya sambil membagikan beberapa pengalamannya saat meliput konflik di wilayah rawan.
Sesi ini tidak hanya teoritis. Para peserta juga diberi simulasi wawancara langsung, mendorong mereka untuk belajar menghadapi berbagai karakter narasumber dari yang tertutup hingga yang terlalu emosional.
Pada sesi kedua, Masriadi Sambo, M.Kom.I., membawa peserta masuk ke dunia angka dan grafik. Namun, tidak seperti yang dibayangkan sebagian orang, data tidak disajikan kaku. Masriadi menjelaskan bagaimana di balik deretan angka terdapat cerita yang harus digali dan disampaikan kepada publik dengan bahasa yang sederhana, tapi akurat.
“Data itu seperti cahaya. Ia bisa menerangi sebuah isu, tapi juga bisa membutakan jika digunakan tanpa pemahaman,” katanya.
Masriadi juga mencontohkan bagaimana data kemiskinan, pendidikan, atau lingkungan bisa menjadi bahan liputan mendalam yang bermuatan advokasi.
Selain itu Masriadi juga mengajak peserta berlatih menafsirkan grafik, mencari sumber data terpercaya, dan menyusun kerangka liputan berdasarkan temuan mereka.
Di tengah padatnya sesi materi, suasana menjadi lebih hangat saat beberapa kru LPM Al-Kalam menampilkan tarian tradisional Top Pade dan pembacaan puisi bertema kejujuran dalam jurnalistik.
Penampilan ini menjadi pengingat bahwa di balik dunia fakta dan data, jurnalisme juga memerlukan sentuhan rasa dan kepekaan budaya.
Pembina LPM Al-Kalam, Ir. Muhammad Ilham, S.T., M.I.T., yang turut hadir sepanjang acara, menyampaikan pentingnya sinergi antara data dan empati dalam menghasilkan karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh.
“Adik-adik di LPM bukan hanya belajar menulis berita, tapi belajar memahami dunia. Menyampaikan yang benar, bukan yang sensasional,” katanya.
Di akhir acara, Tiara Khalisna diumumkan sebagai peserta terbaik. Dengan wajah sedikit malu-malu, ia menyampaikan kesan terhadap kegiatan ini.
“Acaranya bagus, materinya berbobot. Hanya saja, mungkin karena baru pertama kali, beberapa peserta masih malu-malu. Tapi saya yakin, ke depan pasti lebih aktif,” ujarnya singkat.
Sementara itu, Abdul Azis Perangin-angin, ketua panitia, berharap workshop ini bukan menjadi akhir, tapi awal perjalanan para jurnalis muda kampus dalam menyuarakan fakta dan membela kebenaran. Ia menegaskan bahwa pelatihan seperti ini akan menjadi agenda rutin LPM Al-Kalam dalam membangun budaya jurnalistik yang profesional dan beretika.
Kesuksesan kegiatan ini turut didukung oleh berbagai sponsor dan mitra media yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, seperti Depo Cleo Lhokseumawe, iNews Portal Aceh, AJNN, Radar Aceh, Media Literasi, PT Radio Citra Multi Swara, dan sejumlah media lokal lainnya.
Di tengah derasnya arus informasi dan kabar palsu, ruang-ruang seperti yang dibangun LPM Al-Kalam menjadi penting. Tempat di mana mahasiswa belajar bukan hanya menulis berita, tapi juga membentuk karakter, membangun integritas, dan menyuarakan suara yang terpinggirkan dengan data dan dengan rasa. (Alya Nadila)







