
Simpang Tiga Sigli — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Gajah Mate, Selasa (15/9/2026) malam Rabu, berlangsung meriah dan penuh nuansa religius. Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang keteladanan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang memperbanyak selawat dan zikir, mempererat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, serta merawat seni dan budaya masyarakat Aceh.
Rangkaian kegiatan diisi dengan berbagai aktivitas keagamaan dan sosial. Salah satu agenda yang mendapat perhatian masyarakat adalah santunan kepada anak yatim dan piatu. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Maulid sekaligus wujud kepedulian masyarakat terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang bersama.
Santunan tersebut memberikan warna tersendiri dalam peringatan Maulid. Kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya diwujudkan melalui zikir dan selawat, tetapi juga melalui kepedulian terhadap sesama, terutama anak yatim dan piatu.
Setelah kegiatan santunan, rangkaian Maulid dilanjutkan dengan zikir, selawat dan penampilan seni tradisional Aceh. Sejumlah kelompok zikir dan grup rapai tampil secara bergantian di hadapan masyarakat sehingga suasana Maulid berlangsung semarak hingga selesai. Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan Group Zikir Laskar Thaliban Dayah Tgk Chiek di Coh. Kelompok tersebut turut mengumandangkan zikir dan selawat sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan tersebut digerakkan secara bersama oleh masyarakat dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk generasi muda. Ketua pelaksana Bg. Adi Mudriki, bersama Arkarari dan Tgk. Mursyidin sebagai pembawa acara, turut mengambil peran dalam menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.
Keterlibatan anak muda menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan Maulid. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga ikut membantu mengelola dan menyukseskan kegiatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dan kebudayaan masih memiliki ruang yang kuat di tengah kehidupan generasi muda masyarakat Aceh.
Tgk. Asnawi: Rasulullah SAW Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak
Setelah rangkaian kegiatan sosial dan keagamaan tersebut, acara dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan Tgk. Asnawi Arakundoe sebagai mubalig. Dalam dakwahnya, Tgk. Asnawi mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan.
Tgk. Asnawi menekankan bahwa Rasulullah SAW diutus ke muka bumi dengan misi membimbing manusia dan menyempurnakan akhlaknya. Karena itu, menurutnya, peringatan Maulid hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki perilaku dan kehidupan masyarakat.
“Rasulullah SAW diutus ke muka bumi untuk memperbaiki akhlak manusia. Karena itu, kalau kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, maka akhlak beliau harus menjadi teladan dalam kehidupan kita,” ujar Tgk. Asnawi dalam dakwahnya. Ia mengajak masyarakat untuk meneladani Rasulullah SAW dalam berbagai aspek kehidupan, seperti menjaga kejujuran, amanah, persaudaraan, kasih sayang, kesabaran serta menghormati sesama.
Menurut Tgk. Asnawi, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui perayaan Maulid, memperbanyak selawat dan zikir. Kecintaan tersebut harus tercermin dalam sikap, ucapan dan perilaku sehari-hari.
Peringatan Maulid, lanjutnya, semestinya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Masyarakat perlu melihat kembali sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah SAW telah diwujudkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak hanya menjadikan tokoh-tokoh populer sebagai idola, tetapi mengenal, mencintai dan meneladani Rasulullah SAW sebagai uswah hasanah atau teladan yang baik. “Jangan sampai kita hanya pandai berselawat, tetapi akhlak kita tidak mencerminkan akhlak Rasulullah SAW. Selawat harus mendorong kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih santun, lebih jujur, lebih peduli dan lebih mencintai sesama,” pesannya.
Pesan tentang pentingnya selawat tersebut memiliki landasan dalam Al-Qur’an. Surah Al-Ahzab ayat 56 menyebutkan bahwa Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi serta memerintahkan orang-orang beriman untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada beliau.
Tgk. Asnawi juga mengingatkan masyarakat tentang besarnya kecintaan para sahabat dan ulama terdahulu kepada Rasulullah SAW. Kecintaan tersebut diwujudkan antara lain dengan mempelajari hadis, mengikuti sunnah dan berusaha menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.
Karena itu, generasi muda perlu memahami bahwa menjadikan Rasulullah SAW sebagai idola bukan hanya persoalan mengagumi sosok beliau, tetapi juga berusaha meniru akhlak dan keteladanan yang beliau ajarkan.
Maulid sebagai Momentum Memperkuat Silaturahmi
Selain sebagai kegiatan keagamaan, Maulid di Gampong Pulo Gajah Mate juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan masyarakat. Warga dari berbagai kalangan dapat berkumpul, mengikuti zikir, berselawat, mendengarkan tausiah serta berbagi kebahagiaan bersama. Kehadiran masyarakat dalam satu kegiatan tersebut turut memperkuat hubungan sosial dan silaturahmi antarsesama warga.
Geusyik Gampong Pulo Gajah Mate mengatakan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan masyarakat setiap tahun. Kegiatan tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi masyarakat untuk berkumpul sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan, kepedulian sosial dan kebersamaan dalam kehidupan gampong.
Kehadiran santunan bagi anak yatim dan piatu juga memperlihatkan bahwa semangat Maulid tidak hanya berkaitan dengan mengenang Rasulullah SAW, tetapi juga berusaha menghadirkan nilai kasih sayang dan kepedulian sosial yang menjadi bagian penting dari ajaran Islam.
Ketika Zikir, Selawat dan Rapai Bersatu
Peringatan Maulid di Gampong Pulo Gajah Mate juga memperlihatkan kuatnya hubungan antara kehidupan keagamaan dan kebudayaan masyarakat Aceh. Zikir dan selawat menjadi ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW, sedangkan rapai hadir sebagai bagian dari ekspresi seni dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keduanya hadir dalam satu rangkaian kegiatan sehingga Maulid tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat identitas budaya masyarakat.
Perpaduan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat Aceh memiliki hubungan yang erat antara agama, tradisi dan kebudayaan. Kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang pelestarian budaya, sementara budaya dapat menjadi medium untuk memperkuat kebersamaan masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, kegiatan semacam ini memiliki arti penting. Generasi muda tidak hanya perlu diperkenalkan dengan teknologi dan perubahan zaman, tetapi juga perlu diberi ruang untuk mengenal agama, tradisi, seni dan budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakatnya.
Anak Muda Menjadi Kekuatan Pelestarian Tradisi
Keterlibatan anak muda Gampong Pulo Gajah Mate dalam kegiatan Maulid menjadi bagian penting dari keberlanjutan tradisi masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil bagian dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan. Keterlibatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar tentang tanggung jawab, kebersamaan, kepedulian sosial serta nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan.
Tradisi akan tetap hidup apabila generasi penerus diberikan ruang untuk ikut memiliki, mengelola dan mengembangkannya. Dalam konteks tersebut, Maulid menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia dapat menjadi ruang pendidikan informal bagi generasi muda untuk mengenal agama, sejarah, seni, tradisi dan kehidupan sosial masyarakatnya.
Maulid Bukan Sekadar Kemeriahan
Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Gajah Mate bukan semata-mata tentang kemeriahan acara. Zikir, selawat dan rapai memang menjadi bagian yang menarik perhatian masyarakat. Santunan anak yatim dan piatu juga menjadi wujud kepedulian sosial. Namun, pesan yang lebih mendalam adalah bagaimana seluruh rangkaian kegiatan tersebut mampu menghadirkan kembali keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Maulid mengingatkan masyarakat untuk memperkuat persaudaraan, menjaga silaturahmi, menghormati sesama, memperbanyak selawat, menyantuni mereka yang membutuhkan, menjaga amanah dan membangun kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Bagi generasi muda, pesan tersebut menjadi semakin penting. Mereka bukan hanya pewaris teknologi dan perubahan zaman, tetapi juga pewaris nilai agama dan kebudayaan masyarakat. Dari Gampong Pulo Gajah Mate, lantunan zikir dan selawat, tabuhan rapai, serta kepedulian kepada anak yatim dan piatu berpadu dalam satu pesan: kecintaan kepada Rasulullah SAW hendaknya tidak berhenti pada lisan dan perayaan, tetapi diwujudkan melalui akhlak, kepedulian dan keteladanan dalam kehidupan.
Dengan demikian, Maulid bukan hanya tentang mengenang Rasulullah SAW, tetapi juga tentang bagaimana umat terus berusaha menghadirkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam keluarga, masyarakat dan kehidupan sehari-hari. [JA]







