Home / BERITA / MANACANEGARA

Selasa, 30 Juni 2026 - 22:01 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Korban Jiwa Diperkirakan Bertambah

MEDIALITERASI.ID | PARIS  – Otoritas kesehatan di berbagai negara Eropa meningkatkan status kewaspadaan menyusul gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan tersebut sejak 20 Juni 2026. Fenomena cuaca yang disebut sebagai gelombang panas terparah dalam sejarah pencatatan di Eropa itu telah menyebabkan gangguan terhadap layanan publik, transportasi, kesehatan, hingga aktivitas masyarakat.

Menurut laporan Reuters, Jumat (26/6), suhu udara di sejumlah negara mencapai rekor tertinggi untuk bulan Juni. Di Prancis, suhu di Paris tercatat mencapai 40,9 derajat Celsius, sementara Inggris memecahkan rekor suhu tertinggi selama tiga hari berturut-turut dengan temperatur mencapai 36,9 derajat Celsius. Italia diperkirakan akan mengalami suhu hingga 40 derajat Celsius pada akhir pekan.

Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengatakan pemerintah mengantisipasi meningkatnya jumlah korban akibat cuaca ekstrem tersebut.

“Akan ada konsekuensi berupa bertambahnya jumlah kematian,” ujar Rist kepada wartawan.

Gelombang panas juga memaksa sejumlah negara mengambil langkah darurat. Pemerintah Prancis membatalkan berbagai acara berskala besar, termasuk Festival Musik Solidays, sementara penyelenggara Festival Pride menjadwalkan ulang kegiatan mereka. Di Belgia, rekonstruksi Pertempuran Waterloo yang sedianya digelar akhir pekan juga dibatalkan akibat suhu ekstrem.

Di Belanda, pemerintah menetapkan status peringatan merah hampir di seluruh wilayah karena suhu diperkirakan mendekati 40 derajat Celsius. Ratusan sekolah ditutup sebagai langkah pencegahan.

Sementara itu, Met Office Inggris memperpanjang status peringatan merah untuk sebagian besar wilayah Inggris selatan dan timur hingga hari ketiga, pertama kalinya dalam sejarah. Layanan darurat di London melaporkan peningkatan permintaan bantuan hingga 50 persen, sedangkan kepolisian mengonfirmasi seorang remaja meninggal dunia setelah memasuki sebuah danau di wilayah Inggris tengah saat cuaca panas.

Baca Juga  Keluarga Besar WAG The Light From Pase Salurkan Bantuan Banjir Aceh Utara

Dampak gelombang panas juga dirasakan pada sektor transportasi. Di Jerman, permukaan jalan tol A2 mengalami retak dan melengkung akibat suhu tinggi. Perusahaan kereta api Austria memperingatkan rel berpotensi melengkung dalam beberapa hari ke depan.

Di Swedia, suhu ekstrem menyebabkan rel kereta melengkung hingga mengakibatkan sebuah kereta barang anjlok, sehingga jalur kereta antara Stockholm dan Gothenburg sempat terhenti.

Selain transportasi, sektor kesehatan menghadapi tekanan berat. Rumah sakit di Inggris melaporkan suhu tinggi mengganggu pengoperasian sejumlah peralatan medis penting, termasuk mesin MRI dan alat terapi kanker. Dokter di Prancis juga melaporkan peningkatan signifikan panggilan darurat dan jumlah pasien yang memerlukan penanganan medis.

Dokter layanan gawat darurat Paris, Patrick Pelloux, mengungkapkan bahwa sebanyak 55 orang meninggal dunia dalam kurun waktu 24 jam di bawah penanganan layanan darurat kesehatan di Paris.

“Lima puluh lima kematian merupakan angka yang sangat besar. Biasanya hanya tiga atau empat kasus dalam 24 jam. Ini jelas merupakan kelebihan angka kematian akibat gelombang panas,” kata Pelloux kepada Reuters.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), gelombang panas yang bergerak dari Semenanjung Iberia menuju Eropa Barat diperkirakan bergeser ke Eropa Tengah dan kawasan Balkan pada akhir Juni.

Baca Juga  Dialog Damai Papua: Mediasi Internasional oleh PBB untuk Penyelesaian Konflik, Tolak Pendekatan Domestik

Berdasarkan Reuters Climate Monitor, suhu di beberapa wilayah mencapai 18 derajat Celsius di atas rata-rata musiman. Para ilmuwan menjelaskan kondisi tersebut dipicu oleh pola atmosfer yang dikenal sebagai Omega Block, yaitu pola tekanan tinggi yang menjebak massa udara panas di suatu wilayah dalam waktu lama.

Kelompok ilmuwan World Weather Attribution menyatakan gelombang panas kali ini merupakan yang paling parah yang pernah tercatat di kawasan yang mereka teliti. Menurut mereka, perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat peluang terjadinya suhu malam yang sangat panas meningkat hingga 100 kali lipat dibandingkan dua dekade lalu.

Data International Energy Agency (IEA) yang dirilis pada Juli 2025 juga menunjukkan hanya sekitar 20 persen rumah tangga di Eropa yang memiliki pendingin udara (AC). Kondisi tersebut memperburuk dampak gelombang panas, mengingat sebagian besar bangunan di Eropa Utara dirancang untuk mempertahankan kehangatan saat musim dingin, bukan untuk menghadapi suhu ekstrem.

Gelombang panas ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap sektor pertanian, pariwisata, pendidikan, dan layanan kesehatan di berbagai negara Eropa. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kejadian cuaca ekstrem seperti ini diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring meningkatnya perubahan iklim global.

Sumber: Reuters / EQ

Share :

Baca Juga

BERITA

Ditengah Pemanasan Global di Eropa BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrem, Karhutla, dan Pemutihan Karang saat Puncak Kemarau

ACEH

Deli Serdang Gelontorkan Rp 50 Miliar untuk Pemulihan Aceh Timur Pasca Banjir

ACEH

Bupati Al-Farlaky Luncurkan Aplikasi Si AZIS 

ACEH

Bupati Al- Farlaky Buka Pelatihan Pupuk Organik 

BERANDA

“Jiwa dari Permainan”: Surat Timnas Iran untuk Seattle Viral Usai Imbang 1-1 Lawan Mesir di Piala Dunia

BERANDA

Ini Kotor, Ini Sampah!” Ucapan Warek UNY ke Mahasiswa Soal Spanduk MBG Viral, Picu Debat Kebebasan Ekspresi di Kampus
Barang bukti dan pelaku peredaran 13 karung sabu di wilayah Aceh. Foto: Dok. Istimewa

BERANDA

Bareskrim Gagalkan 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh Senilai Rp585 Miliar di Lhokseumawe, Dua DPO Diburu

BERANDA

Samba vs Ninja & Singa Atlas Tantang Kincir Angin: Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Bakal Meledak!