MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar mewaspadai ancaman puncak musim kemarau dan potensi El Niño yang dapat memicu kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat juga diimbau mengantisipasi ketersediaan pasokan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas yang berkepanjangan.
BMKG menyebutkan, apabila kekeringan ekstrem dan suhu udara yang tinggi berlangsung dalam waktu lama, Indonesia berpotensi mengalami dampak ekologis yang serupa dengan yang terjadi di Amerika dan Eropa, meski dengan karakteristik wilayah tropis.
Suhu udara yang tinggi berpotensi memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan lahan gambut yang mudah terbakar, sulit dipadamkan, serta dapat melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar. Selain itu, peningkatan suhu perairan di wilayah ekuator juga berisiko menyebabkan fenomena pemutihan karang (coral bleaching) secara massal yang dapat mengancam keanekaragaman hayati ekosistem terumbu karang.
Menanggapi meningkatnya risiko tersebut, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mengingatkan agar negara-negara tidak hanya bergantung pada penggunaan pendingin ruangan (AC) konvensional. Penggunaan AC secara berlebihan dinilai meningkatkan konsumsi energi dan penggunaan gas refrigeran yang dapat memperburuk pemanasan global.
UNEP mendorong penerapan solusi pendinginan pasif (passive cooling), seperti memperbanyak penanaman pohon, membangun ruang perlindungan iklim, serta menerapkan tata kota yang mampu mengurangi akumulasi panas.
Sementara itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, membatasi aktivitas di bawah paparan sinar matahari secara berlebihan, serta menjaga kondisi kesehatan selama cuaca panas berlangsung. (EQ)







