
ACEH TIMUR | IDI RAYEUK – Pengungsi korban banjir bandang di kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur mendesak pemerintahan mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara). Hingga satu bulan pasca bencana, ratusan keluarga masih bertahan di pengungsian tanpa kepastian tempat tinggal yang layak.
Sedikitnya 800 kepala keluarga (KK) terdampak banjir bandang di wilayah pedalaman Aceh Timur tersebut. Empat desa dilaporkan mengalami kerusakan paling parah dan dinilai tidak lagi layak huni.
“Empat desa yang terdampak paling parah dan harus direlokasi yakni Gampong Umah Sunti, Umah Tareng, Ujung Karang, dan Lokop,” kata Salamuddin, Kaur Pemerintahan Gampong Umah Sunti, saat penyaluran bantuan sandang dan pangan, Kamis (1/1/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar rumah warga di desa tersebut hanyut atau rusak berat akibat banjir bandang. Kondisi itu mendorong masyarakat mulai memikirkan relokasi ke wilayah yang dinilai lebih aman.
“Rumah kami sudah tidak ada lagi. Saat ini kami sedang mencari lokasi desa baru yang aman untuk permukiman warga,” ujarnya.
Berdasarkan hasil survei awal, lanjut Salamuddin, Gampong Ujung Karang direncanakan direlokasi ke wilayah Tembolon, sementara Gampong Umah Sunti ke lahan milik Pemerintah Daerah di sekitar Kompi Lokop.
Sementara itu, tokoh masyarakat Gampong Umah Sunti, Jamin, menyebutkan kondisi pengungsi semakin memprihatinkan. Sebanyak 116 KK dari Umah Sunti dan 55 KK dari Umah Tareng saat ini masih mengungsi di desa tetangga, sekolah, serta fasilitas umum.
“Entah sampai kapan kami harus mengungsi. Sekolah yang kami tempati akan segera aktif kembali, sehingga kami terancam harus pindah lagi,” kata Jamin.
Menurutnya, kehidupan di pengungsian jauh dari kata layak. Keterbatasan fasilitas serta rasa tidak nyaman karena menumpang di wilayah lain menjadi beban tambahan bagi para korban.
“Mengungsi terlalu lama di desa orang juga tidak mungkin karena fasilitas sangat terbatas,” tambahnya.
Menanggapi desakan warga, Bupati Aceh Timur Iskandar Al-Farlaky menyampaikan bahwa pembangunan hunian sementara masih berada pada tahap verifikasi dan pendataan.
“Pembangunan huntara sedang dalam proses verifikasi data. Semua teknis sudah dijelaskan melalui camat dan geuchik saat kami berkunjung ke Lokop beberapa waktu lalu. Saat ini tinggal mempercepat pendataan by name by address oleh aparatur desa,” tulis Iskandar melaui pesan WhatsApp, Jum’at (2/1/2026)
Ia juga menegaskan bahwa koordinasi teknis terkait pembangunan hunian sementara telah dibahas dalam rapat koordinasi tingkat kecamatan.
“Koordinasi melalui camat. Semua sudah dijelaskan dalam rapat koordinasi kemarin. Untuk Lokop, dapat ditanyakan langsung ke Camat Serba Jadi,” ujarnya.
Meski demikian, masyarakat Serba Jadi berharap proses pendataan dan verifikasi dapat segera dirampungkan agar pembangunan hunian sementara segera direalisasikan, terlebih menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya IdulFitri.
“Kami berharap ada kepastian tempat tinggal agar warga bisa menjalani kehidupan dengan lebih layak,” kata Jamin. (EQ)







