Home / BERITA

Minggu, 5 Oktober 2025 - 21:38 WIB

Dr. Tasrif M. Saleh: Supremasi Keteladanan Harus Menjadi Jiwa Seluruh Anggota Polri

MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Penasehat Inpoin Center, Dr. Tasrif M. Saleh, menegaskan bahwa Polri perlu memperbaiki citra di masyarakat dengan menghadirkan teladan yang baik, jujur, dan berintegritas di setiap level kepemimpinan.

Menurut Tasrif, kemarahan publik terhadap Polri selama ini tidak lepas dari minimnya refleksi nilai keteladanan di tengah masyarakat. Padahal, banyak perwira dan pimpinan Polri yang memiliki kejujuran serta dedikasi tinggi.

“Banyak elite dan pimpinan Polri yang baik dan jujur. Bahkan, banyak ‘Jenderal Hoegeng’ baru yang lahir. Hanya saja, keteladanan itu belum tercitrakan dengan baik di mata publik,” ujar Tasrif di Jakarta, Minggu (5/10/2025).

Pria jebolan Program Doktor (S3) Universitas Jayabaya itu mendorong agar Polri melakukan transformasi budaya internal sebagai wujud pelaksanaan amanat reformasi Polri 1999, yakni menegakkan supremasi keteladanan.

Baca Juga  Moto3 Bukan Soal Mesin Kencang: Skill, Strategi dan Slipstream Jadi Kunci Kemenangan

“Tuntaskan pekerjaan rumah Polri, yaitu menegakkan supremasi keteladanan bagi seluruh anggota,” tegasnya.

Tasrif menilai, keteladanan yang dimulai dari jajaran elite harus mampu menyatu dan menjadi contoh bagi seluruh aparat di lapangan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar anggota Polri tidak tergoda dengan budaya flexing atau pamer barang mewah yang marak di kalangan publik.

“Budaya flexing menumbuhkan emosi negatif. Pesan yang diterima publik adalah kesan arogansi, kesombongan, dan haus akan kekayaan,” ungkapnya.

Ia menilai, perilaku tersebut dapat mendorong terjadinya praktik korupsi dan kolusi di tubuh institusi demi memenuhi hasrat pamer kekayaan, yang justru memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Baca Juga  Bareskrim Polri Dalami Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Atlet Panjat Tebing Pelatnas

Tasrif juga menyoroti praktik penggunaan strobo atau sirine secara berlebihan di jalan raya yang dapat memicu emosi publik.

“Pemakaian strobo atau sirine ‘tot-tot wuk-wuk’ dalam mengawal elite menjadi simbol arogansi. Sama halnya dengan perilaku sebagian pejabat atau keluarga polisi yang memamerkan kemewahan di media sosial,” ujarnya.

Menurutnya, Polri sejatinya telah memiliki Tri Brata dan Catur Prasetya sebagai pedoman etika, namun nilai-nilai luhur tersebut belum sepenuhnya ter internalisasi dalam budaya aparat.

“Agar reformasi Polri tidak hanya menjadi wacana, perlu ditegaskan bagian mana yang harus diperbaiki. Keteladanan aparat adalah fokus utamanya,” pungkas Tasrif. (David Malau)

Share :

Baca Juga

ACEH

Warga Desak Transparansi PSR, Dinas Perkebunan Aceh Timur Diminta Buka Data Hibah Miliaran

BERITA

National Law Forum 2026 Bahas Tata Kelola AI dan Kedaulatan Digital Indonesia

ACEH

DPW Partai Aceh Dukung Penuh DOB Peureulak Raya: “Untuk Kesejahteraan Masyarakat”

BERANDA

Gaspol di MotorLand Aragon: Veda Ega Bidik Poin, Perebutan Podium MotoGP 2026 Makin Panas

ACEH

Duka Pante Panah: Sambaran Petir Tewaskan 1 Orang, 2 Korban Dirawat di RSUD Zubir Mahmud*

ACEH

Bupati Al-Farlaky Kebut Huntap Pascabanjir: Data Harus Akurat, Kualitas Jangan Dikompromi

ACEH

Mualem Rotasi Nasir dari Sekda ke Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Aceh

ACEH

Dibawa ke Lahan Kosong Belakang Sekolah, Siswa SMAN di Bener Meriah Dikeroyok Senior Hingga Kritis