Oleh : Dedy Haryadi Hasan ST MSM (Mahasiswa Doktoral UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)
OPINI – Di tengah disrupsi teknologi dimulai dari generative AI hingga ekonomi hijau di mana lulusan yang hanya kuat pada hard skill kian mudah tergantikan. Dunia kerja justru makin “membayar mahal” keterampilan nonteknis seperti berpikir analitis-kritis, komunikasi, kolaborasi lintas-disiplin, kepemimpinan, ketangguhan mental, dan literasi digital-etik. Laporan World Economic Forum (WEF) Future of Jobs 2023 menempatkan analytical thinking, creative thinking, leadership & social influence, serta keterampilan terkait AI/Big Data sebagai kompetensi paling dibutuhkan hingga 2027. Perubahan komposisi keterampilan dasar kerja bahkan diproyeksikan bergeser sekitar 44% dalam lima tahun. Ini alarm bagi pendidikan tinggi kita untuk bergeser dari kuliah “transfer pengetahuan” menjadi “tempat menempa karakter & daya lenting”.
Dalam konteks Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional Februari 2024 berada di 4,82% dan turun ke 4,76% pada Februari 2025 yaitu membaik dari sebelumnya namun belum menghapus paradoks “sarjana menganggur”. Komposisi pengangguran tetap relatif menonjol pada lulusan menengah kejuruan dan sebagian lulusan perguruan tinggi di mana ada indikasi adanya skills gap (termasuk sisi soft skill) yang belum tertutup oleh kurikulum.
Di saat bersamaan, total pengguna internet Indonesia menembus 79,5% (221 juta pengguna) yang membuka peluang pembelajar tanpa hambatan tempat dan terbatas waktu serta hybrid work namun sekaligus menuntut etika digital, self-regulation, dan kecerdasan sosial yang kuat. Tanpa soft skill, konektivitas justru memperlebar jurang kualitas kerja dan well-being.
Tulisan ini menawarkan lensa Islam atas soft skill, memeriksa praktik kampus termasuk Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) dan merumuskan langkah konkret agar universitas kita menjadi kawah candradimuka “insan ulul albab” yang cakap ilmu, matang akhlak, dan luwes berkolaborasi.
Soft Skill dalam Perspektif Islam, Akhlak sebagai Inti Kompetensi Abad 21
Islam sejak awal memuliakan adab, amanah, komunikasi santun, kepemimpinan, dan kolaborasi di mana yang hari ini kita sebut soft skills. Beberapa pilar kunci:
1. Komunikasi etis & empatik.
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (Ahsan).” (QS. Al-Isra’: 53). Komunikasi yang clear, kind, and constructive bukan sekadar teknik retorika, melainkan ibadah yang mencegah konflik dan salah paham.
2. Pengendalian diri & kecerdasan emosional.
Nabi SAW bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim). Self-mastery adalah fondasi emotional intelligence yang menentukan kualitas keputusan, kerja tim, dan kepemimpinan.
3. Kepemimpinan berimbang (adil, melayani, visioner).
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari & Muslim). Kepemimpinan di sini bukan jabatan, tetapi kompetensi memengaruhi dan menumbuhkan orang lain, servant leadership, dan akuntabilitas.
4. Kolaborasi & tolong-menolong dalam kebaikan.
“Tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Maidah: 2). Teamwork lintas latar belakang menjadi syarat inovasi dimulai dari riset interdisipliner sampai proyek capstone bersama industri.
Dengan demikian, soft skill dalam Islam bukan tempelan afterthought, melainkan ruh pendidikan: integrasi akal (intellect), hati (ethics), dan laku (practice). Di era AI, uniquely human skills berlandaskan akhlak justru menjadi pembeda paling sulit diautomasikan.
Mengapa Mahasiswa Indonesia Butuh Soft Skill yang Lebih Tangguh?
Industri bergerak lebih cepat daripada kurikulum. WEF mengindikasikan percepatan perubahan kompetensi kerja; employers menilai hampir setengah dari keterampilan inti pekerjaan akan berubah dalam lima tahun mendatang. Tanpa lifelong learning mindset dan kemampuan adaptif, lulusan mudah ketinggalan.
TPT menurun namun mismatch tetap nyata. TPT Februari 2024-2025 memang menurun, tetapi komposisinya menunjukkan skills mismatch, termasuk pada lulusan universitas. Ini menggambarkan bahwa transisi sekolah ke dunia kerja tidak otomatis; soft skill komunikasi, problem solving, teamwork, leadership—akan menjadi “pelumas” yang mempercepat penyerapan kerja.
Ekonomi digital & kerja jarak jauh menuntut digital civility dan self-leadership. Dengan 79,5% penetrasi internet, kampus harus mengajarkan etika digital, remote collaboration, project management, dan AI literacy agar konektivitas mengangkat produktivitas, bukan memperluas disinformasi dan burnout.
Bukti riset pembangunan. Kajian OECD dan Bank Dunia menekankan kebutuhan Indonesia memperkuat kompetensi non-rutin (analitis, interpersonal, digital) untuk kualitas pekerjaan lebih baik dan ketahanan pasar kerja jangka panjang.
Mengartikulasikan Soft Skill dari Kaca Mata Qur’ani
1. Analytical Creative Thinking sebagai amanah intelektual.
Al-Qur’an berulang kali memanggil “afala ta’qilun/tafakkarun/tadabbarun” di mana ajakan mengaktifkan nalar kritis dan imajinasi kreatif. Di ruang kuliah, ini berarti mengganti teaching to the test dengan inquiry-based learning, design thinking, dan proyek lintas-disiplin. Di laboratorium riset, creative thinking yang berakhlak melahirkan inovasi bermanfaat (maslahah), bukan sekadar mengejar sitasi.
2. Communication & Collaboration sebagai adab bermasyarakat
(QS. Al-Isra’:53) menuntun kita memilih kata terbaik (ahsanu qawlan), sementara (QS. Al-Maidah:2) melatih kerja sama dalam kebaikan. Debat kelas, diskusi studio, atau scrum meeting proyek startup menjadi latihan nyata: mendengar aktif, argumentasi berbasis data, conflict resolution, dan win–win thinking.
3. Self-mastery, Resilience, dan Growth Mindset
Hadis kekuatan sejati adalah pengendalian marah memberi kerangka emotional regulation dan resilience. Kampus bisa menerjemahkannya dalam coaching & mentoring, reflective journaling, hingga mindfulness yang selaras dengan dzikrullah agar mahasiswa tangguh menghadapi revisi, kritik peer-review, dan ketidakpastian karier.
4. Leadership & Social Influence yang rahmatan lil ‘alamin
Kepemimpinan dalam Islam mendorong kemaslahatan, keadilan, dan keberanian mengambil keputusan. Mahasiswa perlu ruang memimpin organisasi, proyek sosial, dan venture berbasis nilai yang menempa strategic thinking, negosiasi, dan integritas.
Penutup : Dari “Lulusan Cakap” ke “Insan Ulul Albab”
Penguatan soft skills bukan pelengkap kurikulum tetapi akan menjadi fondasi akhlak dan daya saing yang membuat ilmu bermanfaat. Islam menuntun adab sebelum ilmu; WEF mengonfirmasi bahwa human skills di antaranya analitis, kreatif, kepemimpinan, kolaborasi, dan keingintahuan adalah mata uang baru pekerjaan. Kampus yang berhasil menciptakan soft skills secara terukur akan menutup skills mismatch, mempercepat serapan kerja, sekaligus melahirkan penerus bangsa yang mampu memimpin transformasi digital-hijau dengan etika.
Mari memperlakukan kelas, organisasi mahasiswa, capstone, dan MBKM sebagai majlis taklim modern menjadi tempat akal dilatih berpikir jernih, lidah dijaga berkata baik, emosi ditata agar tangguh, dan kepemimpinan ditempa untuk maslahat. Inilah jalan cepat Indonesia mencetak “Insan Ulul Albab’’ yang berilmu, beradab, dan berdaya cipta yang tak mudah digantikan mesin.
Lhokseumawe, 23 Agustus 2025







