Home / EDUKASI

Minggu, 22 Juni 2025 - 20:07 WIB

Baca Nyaring Istimewa Berbahasa Singkil

Aceh Barat Daya, 22 Juni 2025
Di tengah gempuran modernisasi dan arus informasi, inisiatif sederhana menghidupkan kembali denyut nadi budaya di Aceh. Program baca nyaring istimewa berbahasa Singkil dengan buku berjudul “Yuk Mengenal Lompong Sagu” yang ditulis oleh Megawati Munte dan ilustrator Zuhri, bukan sekadar kegiatan membaca biasa; ia adalah jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan aksara indatu. Baca nyaring istimewa yang digagas oleh Sigupai Mambaco ini sudah dua kali dilaksanakan.

Kegiatan kali ini dilaksanakan di Banda Bungo desa tangah dengan pemandangan sawah.
“Ini bukan hanya tentang membaca, tapi juga tentang melestarikan, selain itu kenapa ini bahasa nyaring istimewa karena kita memakai property, mengerjakan proyek setelah membaca buku atau tetap ada agenda baca bukunya yang berkaitan dengan proyek yang dilaksanakan. Hari ini me” ujar Nita, Pendiri Sigupai Mambaco.

Baca Juga  Mahasiswa UIA Sabet Juara di Kompetisi Video Bursa Efek Indonesia

Buku berjenjang ini, harapannya menjadi hal baru bagi anak sesuai usianya. Untuk orangtua ini menjadi nostalgia tentang masa silam. Baca nyaring bukan hanya baca, namun melibatkan proses diskusi interaktif ketika membaca dan setelah sesi baca.

Selain itu, aktivitas membuat lompong sagu hingga proses memakannya bersama adalah proses yang ditempuh oleh anak.
“Kita dapat mengenal pembuatan lompong sagu secara langsung, dan dapat bertemu dengan kawan-kawan.” Ujar Salwa (9 tahun), salah satu peserta.
“Bagi orangtua setelah kegiatan ini, bisa membuat lompong sagu bersama anak. Menurut saya, Alhamdulillah acara hari ini sangat bagus, kalau bisa acara begini di buat seminggu sekali. Jadi, bisa memperluas wawasan anak dan orang tua.” Ujar Ami, salah satu orangtua yang mendampingi anaknya ikut acara ini.

Baca Juga  LPM Al Kalam IAIN Lhokseumawe Follow Up Tinggkatkan Jurnalistik

21 pendaftar kegiatan baca nyaring istimewa ini menjadi bukti bahwa di tengah hiruk pikuk globalisasi, upaya melestarikan bahasa dan budaya lokal bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan dan mereka peduli. Sigupai Mambaco ingin meneruskan semangat, memastikan bahwa kekayaan warisan tak benda ini akan terus hidup, dari generasi ke generasi. (NJ).

Share :

Baca Juga

ACEH

Resmi Membuka PBAK, Rektor UIA Tekankan Integrasi Nilai Islam dan Akademik

EDUKASI

Tembus 30 PTKIS Terpilih, UIA Didampingi Kemenag Menuju Akreditasi Unggul

BERITA

Studi BRIN: Tsunami Pangandaran 2006 Bisa Capai 8 Meter Lebih karena Gempa Megathrust dan Longsor Laut

EDUKASI

Mahasiswa PNL Kembangkan TAKO.YU, Takoyaki Ikan Keumamah Khas Aceh

EDUKASI

Wakil Aceh di Ajang Nasional, Mahasiswa UIA Raih Runner Up 2 Duta Pendidikan

BERITA

Dari Membaca ke Menulis: Pelajar Aceh Utara Diasah Jadi Pengulas Buku yang Kritis

ACEH

Peringati 21 Tahun Damai Aceh, Bupati Aceh Timur Ajak Warga Doa Bersama dan Jaga Perdamaian untuk Anak Cucu

EDUKASI

Tingkatkan Mutu Akademik, Prodi Ekonomi Syariah UIA Sambut Asesmen Lapangan LAMEMBA