![]()
T.M. Jamil
Associate Profesor, Social Science, USK, Banda Aceh
PENGALAMAN KETIKA MENGUJI CALON DOKTOR…
MENANGIS atau TANGIS, sebuah kata pendek dengan beragam makna. Ia mengekspresikan rasa sakit, takut, dikhianati, dizalimi, sedih, kecewa, patah hati, ditinggal orang yang dicintai, minta belas kasihan, bahkan karena rasa bahagia. Ia tidak pernah mengenal tempat, waktu, jenis kelamin, dan status sosial seseorang.
Bahkan, Mantan Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pun sempat menangis, dan meneteskan air mata, karena banyaknya hujatan yang ditujukan kepadanya menjelang berakhirnya masa jabatan. Padahal, dia merasa telah berbuat banyak dan terbaik untuk membangun masyarakat dalam memimpin negeri ini selama 10 tahun dalam menjalankan amanah rakyat di masa pemerintahannya. Menangis adalah sifat insani dan manusiawi yang lumrah dan sangat wajar dalam menjalani hidup ini.
SEBAGAI peristiwa psikologis, tangis atau menangis sudah berusia sepanjang sejarah ummat manusia. Dalam kebudayaan Cina, tradisi menyewa orang untuk menangis karena salah seorang anggota keluarganya meningal dunia masih berlaku sampai sekarang ini. Berikut adalah kisah-kisah tangis dengan keberagaman sebab, dimensi dan maknanya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi orang-orang yang berhati mulia, dan jikapun harus menangis, maka menangislah.
Beberapa waktu lalu, saya menghadiri Suatu Acara Ujian Doktor Terbuka seorang kolega yang kebetulan saya juga menjadi salah seorang Promotor dan pengujinya. Secara substantif ujian berjalan lancar dan semua pertanyaan penguji dapat dijawab sang calon doktor dengan baik. Semua hadirin senang dan puas karena promovendus (baca : Calon Doktor) dapat menunjukkan expertise-nya di bidang kajian dan penelitiannya. Memang, begitulah seharusnya seorang Doktor. Sebagai prestasi akademik puncak dan tertinggi, Doktor memang wajib menguasai bidang ilmu yang ditekuninya di atas kemampuan rata-rata orang lain yang tidak bergelar Doktor.
Usai tanya jawab yang berlangsung selama dua jam lebih, pimpinan sidang mengumumkan ada jeda waktu selama lima belas menit untuk menyimpulkan predikat tingkat kelulusan calon doktor. Alhasil, sang promovendus dinyatakan lulus dengan “predikat sangat memuaskan”. Semua hadirin bertepuk tangan dan terdengar pula ucapan “Alhamdulillah” sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas prestasi yang diraih promovendus.
Ucapan rasa syukur itu sudah sepantasnya dilantunkan dengan hati yang suci kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebab, menurut saya pribadi, menjadi doktor memang tidak mudah. Lebih-lebih jika yang bersangkutan masih harus membagi waktu dengan tugas rutinnya di tempat kerja, belum lagi dengan tanggung jawabnya yang begitu besar bagi keluarga dan anak-anaknya yang senantiasa butuh perhatian dan kasih sayang. Kesabaran dan menghormati orang lain, faktor penentu untuk meraih gelar doktor.
Persoalan waktu yang molor dari jatah waktu yang ditentukan menjadi hal biasa dalam mewujudkan sebuah impian dan cita-cita mulia. Lihatlah, berapa banyak orang di sekitar kita yang gagal meraih sukses, karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam mengikuti proses yang sedang dan akan berlangsung. Saya sendiri, juga memerlukan waktu lebih dari waktu kelaziman untuk dapat menyelesaikan Studi Doktor. Padahal, jika semua berjalan normal Program Doktor bisa diselesaikan dalam waktu hanya tiga tahun.
Tentu saja, banyak hal non-akademik yang bisa membuat seseorang dalam menyelesaikan studi doktor terlambat dan tertunda. Tapi, biasanya menyangkut mengenai proses “penelitian dan bimbingan” dengan kesibukan masing-masing pihak baik promotor maupun co-promotor yang terlibat dengan promovendus dalam meraih sukses. Insya Allah, kesabaran dan ketekunan lah yang seringkali kita mampu menyelesaikan Studi Doktor dengan baik atas izin dan bimbingan Allah Azza Wajalla.
SESI berikutnya adalah sambutan promotor dan ko-promotor yang berisi tentang kesan-kesan mereka tentang sang doktor baru tersebut selama proses kuliah dan pembimbingan. Sampai di situ suasananya, masih biasa-biasa saja dan sesekali saya melihat beberapa undangan yang hadir saling berbisik tanpa saya tahu apa artinya. Suasana menjadi berubah total ketika “sang doktor baru” itu diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesannya.
Semua orang dan pihak yang telah berkontribusi dalam studinya diberi ucapan terima kasih yang mendalam dengan iringan do’a semoga ilmu dan bantuan yang diberikan akan menjadi amal jariyah yang bermanfaat kelak. Ucapan dan kata-kata tulus itu diucapkan oleh promovendus dengan suara serak, diiringi perasaan haru dan tetesan air mata yang tak terbendung kan.
SAAT itulah tiba-tiba suasana menjadi hening. Satu per satu orang yang namanya disebutkan dan diberi ucapan terima kasih, meneteskan air mata, tak terkecuali saya. Padahal, biasanya, saya selama ini bisa menahan tetesan air mata dalam situasi dan kondisi apapun. SAYA pribadi – biasanya, termasuk orang yang sulit sekali untuk mengeluarkan air mata. Tetapi, entah mengapa, kali ini saya gagal untuk tidak meneteskan air mata. Suasana haru dan sakral menyelimuti ruang ujian yang baru saja menyelenggarakan perhelatan akademik itu. Semua orang tertunduk dan terdengar sayup-sayup kata “Aamiin”, menjawab do’a sang promovendus (Doktor Baru).
Saya menjadi bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan hampir semua orang yang ada di ruang itu meneteskan air mata? Bahkan, sebagian ibu-ibu terlihat terisak-isak menangis. Itulah perhelatan akademik pertama yang pernah saya ikuti dengan suasana haru dan tangis yang menyelimutinya. Sebenarnya tangis dan tetesan air mata bukan peristiwa aneh bagi kita. Setiap orang pasti pernah menangis atau meneteskan air mata. Tetapi, karena itu merupakan peristiwa biasa, tak banyak orang memperhatikannya secara serius. Tetapi setelah acara tersebut, saya penasaran dan ingin memahami lebih dalam tentang tangis dan tetesan air mata.
Apa sebenarnya yang disebut tangis atau menangis itu? Dalam bahasa Inggris, tangis dipadupadankan dengan cry. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary (1990 : 289) cry didefinisikan sebagai “loud wordless sound expressing grief, pain, joy, etc.”. Artinya, suara tanpa kata untuk menyatakan perasaan susah, sakit, gembira, dan sebagainya. Jadi tangis merupakan ragam bahasa untuk menyampaikan pesan tanpa kata-kata. Sebuah perasaan yang hadir tanpa rekayasa. Dia hadir karena rasa dan bukan terpaksa. Masya Allah, Allahu Akbar …
Menangis bukan monopoli anak kecil, atau kaum hawa (perempuan) yang sering diidentikkan sebagai kaum lemah. Dalam sejarah manusia-manusia hebat, seperti para nabi, juga pernah menangis. Menangis bisa terjadi pada semua orang dengan segala jenis usia, jabatan dan profesi. Para ahli ilmu jiwa memahami tangis sebagai bentuk ekspresi dunia batin yang sangat dalam dan terkait dengan sumber spiritual manusia. Karena itu, umumnya orang mudah menangis jika bersentuhan dengan aktivitas spiritual dan peristiwa sakral di mana saja.
Orang Yahudi bisa menangis keras-keras ketika sedang berada di Tembok Ratapan. Orang Hindu juga menangis tatkala sembahyang di Pura. Orang Kristen juga menangis ketika melaksanakan kebaktian di Gereja. Begitu juga orang Islam. KITA bisa menangis tatkala membaca atau mendengar lantunan ayat-ayat suci dari al Qur’an yang diresapi maknanya dengan hati yang ikhlas dengan meng-agungkan Nama Allah Swt sebagai Sang Pencipta.
SAYA juga menyaksikan orang yang sedang berhaji atau ber-umrah menangis sesenggukan tatkala tawaf mengelilingi ka’bah, wukuf di padang Arafah, berdo’a di hijir Ismail dan Multazam. Banyak orang menangis tatkala melihat jenazah diusung menuju ka’bah untuk dishalatkan. Tangis juga tak kuasa ditahan tatkala berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah.
Sangat jarang di saat-saat begitu terlihat wajah yang tidak sembab karena terlalu banyak menangis. Menangis justru menjadi pemandangan lumrah. Menjadi sangat tidak lumrah tatkala di saat seperti itu orang tidak menangis. Mungkin saja jika tidak menangis saat seperti itu, hatinya telah berbalut noda dan dosa yang tak kan pernah ter-ampuni. Na’uzubillahi min zalik…!
ADA pengalaman menarik sewaktu kami ditakdirkan Allah SWT saat menunaikan “sebuah ibadah” sebagai Hamba Allah ke Baitullah. Seorang kawan yang sejak berangkat dari Tanah Air berjanji tidak akan menangis selama menjalankan ibadah umrah agar dianggap gentle (tidak cengeng), tiba-tiba justru dialah yang menangis paling dulu sambil histeris, bahkan hampir pingsan, tatkala masuk Masjidil Haram dan melihat Ka’bah. Ketika saya tanya, mengapa menangis, dia menjawab tidak bisa melukiskan dengan kata-kata atas rasa kagumnya melihat Ka’bah yang tampak gagah, sangat indah dan berwibawa.
Ka’bah yang selama ini menjadi arah kiblat waktu shalat, saat itu tepat berada di depannya. Rupanya tangisnya adalah karena rasa syukur yang tiada tara bisa melihat Ka’bah dari dekat, arah jutaan manusia menjalankan ibadah shalat, dan saat itu dia telah berada di dalamnya. Subhanallah…Allah Maha Suci…Allahu Akbar !
PERSOALANNYA adalah apa makna tangis mereka semua itu? Jawabannya tentu be-ragam. Mungkin ada yang menangis karena rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah, ada yang karena meratapi dosanya yang lalu, ada yang mengagungkan kebesaran Allah, ada pula yang takut akan ancaman dan siksaan Allah, dan masih banyak kemungkinan yang lain. Yang jelas hanya pelakunya saja yang tahu persis apa maknanya. Tangis dan tetesan air mata memang menyimpan banyak misteri. Tangis tidak selalu mengekspresikan rasa sedih.
Sebab, kenyataannya orang bisa menangis tatkala senang karena memperoleh nikmat dan rahmat Allah yang maha besar, sebagaimana dilakukan oleh para undangan Ujian Terbuka/Promosi Doktor kolega saya tadi. Mereka menangis tentu karena salah seorang kawannya telah meraih prestasi puncak menjadi Doktor, sebuah Gelar yang masih sangat langka dan tidak banyak orang yang mampu meraihnya di negeri ini tentu dengan berbagai sebab dan alasan.
Kadang-kadang bahasa tangis bisa lebih jelas maknanya daripada bahasa kata-kata. Sebab, kata sangat terbatas. Dia tidak sanggup mengungkap makna atau realitas yang ada. Sebab realitas atau kenyataan jauh lebih kompleks daripada yang bisa diungkap dengan kata-kata. Karena itu, jangan ikut bersedih tatkala melihat orang menangis atau meneteskan air mata. Sebab, puncak kebahagiaan bisa berupa tangis dan tetesan air mata. Sebaliknya, jangan cepat-cepat ikut senang tatkala melihat orang tertawa lebar. Sebab, bisa saja seseorang tertawa lebar lantaran depresi berat atau dia sedang berada dalam keadaan tidak normal (baca : mungkin juga dia sudah gila).
MELALUI tulisan ini saya ingin mengajak kita semua untuk menangis karena rasa syukur kita kepada Allah yang telah mengaruniai nikmat berupa hidup, sehingga bisa melihat indahnya dunia ini dan nikmat-nikmat yang lain yang tak terhitung jumlahnya. Karena karunia hidup pula, kita bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi untuk menjadikan hidup lebih indah dan bermakna kendati hanya lewat dunia maya atau melalui Sosial Media.
Saya juga ingin mengajak saudaraku semua sering-seringlah untuk meneteskan air mata, merenungi kesalahan-kesalahan kita masa lalu, seraya memohon ke-ampunan-Nya. Menangislah, jika memang itu diperlukan. Menangis merupakan salah satu bentuk pengakuan diri kita dihadapan Allah Swt sebagai hambaNya yang lemah.
AKHIRNYA, kepada Allah swt pula kita serahkan makna tangis dan tetesan air mata kita. Karena DIA-lah yang Maha Mengetahui atas semua takdir yang terjadi pada hamba-Nya. Ya Allah, Tuhanku … berikanlah kami kekuatan dan kesabaran untuk mampu melaksanakan semua kewajiban dari-MU dalam hidup ini, sebagai bukti pengabdian kami kepadaMU untuk mendapatkan Ridha dan Kasih Sayang-MU. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
—————-
Banda Aceh, 13 Mei 2023.







