Home / EDUKASI

Selasa, 11 April 2023 - 19:59 WIB

PILIH MANA, AKTIVIS KAMPUS ATAU MENJADI “MAHASISWA KUPU-KUPU”?


Oleh :
T.M. Jamil TA, Dr., Drs., M.Si.
Aktivis Mahasiswa Angkatan 80-an, dan Saat Ini Dosen pada USK, Aceh.

PADA SUATU HARI, Ketika saya mendapatkan suatu kehormatan untuk menjadi Pembicara dalam sebuah Acara Seminar yang Bertema : “Mahasiswa, Tantangan dan Masa Depannya” pada sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Sumatera Utara, kira-kira 2 tahun yang lalu, Setelah saya memperkenalkan diri dan sedikit berbasa basi karena memang yang saya hadapi saat itu “kader umat, cantik, tampan dan cerdas”, tiba-tiba seorang mahasiswi berdiri dan memberikan salam – lalu, bertanya dalam acara diskusi itu. Bapak Pembicara dan Narasumber, yang saya hormati … Izinkanlah saya untuk bertanya kepada Bapak, apakah dulu ketika menjadi mahasiswa, Bapak lebih memilih, mementingkan kuliah atau organisasi?

Mohon jawaban Bapak sekaligus nasehat, dan motivasi untuk kami. Atas kesediaan Bapak menjadi narasumber dan hadir di sini, kami ucapkan terima kasih. Semoga hubungan silaturrahmi ini tetap abadi sepanjang masa. Suasana begitu bersemangat dan tepuk tangan bergumuruh, semakin membuat saya merasa senang, bahagia, dan sangat dimuliakan hari itu.

Lalu diikuti oleh beberapa mahasiswa lain juga bertanya tentang mahasiswa dan tantangannya di masa depan. Semua pertanyaan itu sangat baik dan terkesan mereka kader-kader umat yang berkualitas. Insya Allah, mereka calon pemimpin yang amanah di masa depan. Setelah saya mendengar pertanyaan dari para mahasiswa, saya terdiam sejenak – sambil berpikir untuk memberikan jawaban. Sekurang-kurangnya mereka bisa terhibur dalam ocehan saya melalui pendekatan akademik yang santun.

JUJUR saja, saya pun bingung (meskipun saya seorang alumni S3 dan bergelar Doktor), untuk menjawab pertanyaan mahasiswa/mahasiswi tersebut pada saat itu. Namun, sebagai seorang pendidik, saya tidak ingin mengecewakan siapapun yang bertanya, meskipun jawaban saya kadang-kadang tidak seperti yang mereka inginkan. Tapi setidak-tidaknya, saya telah berusaha untuk menghargai sebuah pertanyaannya. Beginilah kira-kira, jawaban saya pada saat itu.

Adik-adikku yang dicintai Allah. Dirimu semua sungguh mulia, karena dirimu harapan bangsa dan dambaan Ummat! Kuliah memang tujuan utama kita dan mengapa kita sekarang ada di sini (bangku perkuliahan). Akan tetapi, berbeda dengan saya dulu, yang tujuan kuliah bukan untuk mencari ilmu dan biar cepat tamat kuliah dengan IPK tinggi dan lulus Cumlaude, Meskipun saya pada akhirnya juga memiliki IPK yang baik dan Lulus dengan Predikat Cumlaude dan mendapatkan pekerjaan yang lumayan mulia.

Oh Ya adik-adik … kenapa tujuan kuliah saya bukan untuk itu? Tujuan utama saya sendiri kuliah adalah untuk mencari teman sebanyak-banyaknya, akan tetapi di tengah proses tersebut, tertariklah saya dengan organisasi (Dulu istilahnya, Senat Mahasiswa, BPM, BKK, HMI, PII, GMII, dan lain-lain). Kondisi seperti ini telah membuat saya semakin galau lagi, istilah anak muda sekarang, dan saya paling tidak suka dalam hidup ini, kalau hanya fokus ke satu tujuan dengan mengesampingkan tujuan lainnya.

DULU – Ketika saya masih menjadi Mahasiswa dan aktif dalam berbagai organisasi kampus, misalnya Himpunan Jurusan/Prodi, SEMA, BPM atau mungkin BEM istilah sekarang, kami sangat dekat dan membina hubungan baik dengan pimpinan kampus, fakultas maupun jurusan atau program studi. Setiap program yang akan kami lakukan selalu dimusyawarahkan dengan pimpinan, dosen dan juga para mahasiswa sebagai anggota himpunan. Jadi pimpinan tidak hanya diminta untuk tanda tangan surat undangan saja. Begitu juga saat adik-adik mahasiswa baru datang atau tahun ajaran baru, kami pihak himpunan selalu membuat acara silaturrahmi antara mahasiswa lama dengan mahasiswa baru, peusijuek alumni, dan para dosen jurusan atau prodi kami undang – mereka semua hadir, agar mereka dikenal oleh adik-adik kami mahasiswa baru.

Baca Juga  Mahasiswa KKN - MK UNIMAL Lakukan Pengecatan Dayah, Mengajar dan Bimbing Pemberdayaan Masyarakat

Pertanyaannya, kenapa hampir semua dosen hadir pada waktu itu? Karena kami sudah menghubunginya jauh-jauh hari sebelum kita tentukan jadwal acaranya. Dan kalau untuk kondisi mahasiswa saat ini, saya sendiri tidak pernah tahu, karena saya sendiri mungkin kurang begitu dekat dengan mahasiswa juga. Memang saya sering diundang jika ada acara, tapi hari ini diantar undangan, dan esok harinya acara. Jadi, saya tidak pernah bisa hadir karena bertepatan dengan jadwal lain. Mungkin mahasiswa sekarang jauh lebih baik lagi, karena mereka hidup di zaman teknologi, tidak perlu lagi untuk bersilaturrahim (face to face) dengan dosen – cukup saja via facebook, istagram, atau via Telegram). Semua yang kami lakukan pada waktu itu sebagai bentuk membelajarkan diri dan juga kami ingin para dosen selalu memberikan perhatian lebih untuk kami. Karena bagi kami mereka adalah “orangtua” kami kedua. Lebih-lebih lagi, kami hampir semua anak perantauan, tentu kami sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang mereka. Inilah sekilas kenangan saya ketika menjadi mahasiswa waktu itu.

Adik-adikku … Kuliah memang penting, dan sangat penting bahkan karena dengan kuliah, nilai bagus, lulus cepat akan mendapatkan kesempatan kerja yang baik dan cepat pula untuk menikah, padahal hal ini belum tentu, kenapa? Ya, karena untuk mencapai titik (setelah kuliah) kita pasti akan mengalami kesulitan dan rintangan yang lebih besar lagi. Beda kisahnya, jika kita punya saudara, family dan keluarga atau mungkin juga teman yang memiliki usaha atau perusahaan yang mapan, kita bisa ikut kerja bersama mereka. Tapi jikalau kita tidak ada link tersebut pastinya kita akan kesulitan, (mau ngapain ya ini), dan pasti banyak pertanyaan mengenai diri kita sendiri (kalau anda semua menyadarinya) dan itu pasti terjadi, kalau kita hanya mementingkan kuliah saja. Mungkin kita bisa sukses dalam studi, tapi kita akan gagal dalam “bermasyarakat”.

Organisasi sendiri memang bukan tujuan utama saya saat kuliah dulu, dan mungkin bagi sebagian orang menganggap buat apa ikut organisasi, toh tidak akan menghasilkan uang dan juga hanya menghabiskan dan menyia-nyiakan waktu saja. MUNGKIN juga benar hal itu (apabila kita tidak peka dan sadar diri).

UNTUK apa ikut banyak organisasi, tapi kita tidak mendapatkan sesuatu apapun kalau kita tidak menjalaninya dengan rasa (sungguh- sungguh). Organisasi kecilpun pasti memiliki masalah, apalagi organisasi besar. Ya, bagi saya waktu itu tantangan dan permasalahan inilah yang akan mendewasakan kita, yang akan membuat nilai lebih untuk orang yang ikut berorganisasi, bila kita peka dan tanggap maka kita akan berkembang, tapi kalau hanya mengikuti alur saja pasti tidak akan pernah mendapatkan apa-apa.

Nah, Bagaimana menurutmu? Pilih masuk Organisasi atau hanya utamakan Kuliah? kembali lagi pada pribadi kita masing-masing, kalau kita dapat menguasai dua-duanya mengapa tidak?. Tapi yang paling penting, jangan karena kita sibuk di organisasi, kuliahnya berantakan. Dan para mahasiswa selalu terkesan bagaikan seorang pengusaha rugi, yang sibuk hanya untuk mencari uang setoran. Jadi, jangan sampai mahasiswa mengesampingkan kuliah hanya demi organisasi, dan jangan pula menganggap kuliah itu yang paling utama, sehingga semua aktifitas difokuskan di perkuliahan tanpa ada organisasi. Akan tetapi, jika kita sudah merasa lebih, itu nilai plus buat anda, tinggal bagaimana anda mengimprove hal tersebut. Sehingga dengan cara seperti itu akan dapat mendewasakan kita saat menghadapi berbagai persoalan dalam hidup ini. Adik-adikku, Generasi Muda Islam Harapan Bangsa. Banyak yang beranggapan bahwa berorganisasi hanya untuk sekedar menyibukkan diri dan mengisi luangnya waktu. Agaknya, paradigma tersebut memang betul, tetapi jika kita lihat lebih mendalam lagi, berorganisasi berarti menjatuhkan diri kita secara sengaja ke dalam lembah agar bisa kembali naik ke puncak kemenangan.

Baca Juga  Unimal Gelar Wisuda Perdana di Auditorium Abdul Wahab Dahlawy

Mengapa Harus “Menjatuhkan Diri?” Perlu digaris bawahi “menjatuhkan diri” di sini adalah sebuah analogi bagaimana kita sengaja keluar dari zona nyaman (comfort zone) kita. Banyak mahasiswa yang terlalu nyaman dengan apa yang mereka miliki dan lakukan sekarang, seperti terlalu nyaman dengan berbagai gadget electronic mereka, pergi ke kampus, mampir ke kantin, atau ke perpus, lalu pulang lagi ke kost atau yang sering disebut dengan Mahasiswa “Kupu-Kupu” (Kuliah Pulang – Kuliah pulang), dan mahasiswa tersebut terlalu nyaman dengan pandangan yang menyatakan bahwa berorganisasi hanya akan mengganggu kuliah. Menurut hemat saya pribadi, justeru dengan kita mampu keluar dari zona nyaman tersebut akan membuka wawasan akademik kita sebagai mahasiswa, bahwa kuliah tidak hanya sekedar menghadiri perkuliahan, tetapi juga mempunyai tanggung jawab akademik dan sosial yang diperoleh tidak hanya menghadiri perkuliahan. Oleh karena itu, saran saya, janganlah Adik-adik yang berhadir hari ini menjadi “Mahasiswa Kupu-Kupu”.

Mengapa harus ke “Lembah?” Saya beranggapan bahwa organisasi adalah sebuah “lembah” yang curam dan sangat dalam. Dalam lembah tersebut terdapat banyak tantangan, langkah, konsep, dan strategi agar kita mampu keluar kembali dari lembah tersebut. Proses tersebutlah yang membuat kita “belajar” tentang kehidupan, seperti bagaimana kita bekerjasama untuk mencapai puncak, menyusun strategi, menyusun langkah, dan mencari solusi. Jika ditarik lebih dalam lagi, “emosi” yang keluar dari kerja sama tersebut semakin membuat kita belajar tentang menghargai dan menghormati orang lain serta argument orang lain. Mereka yang mampu melewati semua proses tersebut, tentunya akan keluar dari “lembah” dengan membawa “bekal” kehidupan yang luar biasa. Namun, mereka yang tidak mampu dan tidak mau melewati proses tersebut, tentunya hanya akan tertinggal dan “terkubur” dalam “lembah”.

Mengapa Harus Ber-organisasi? Dari dua analogi di atas, tentunya dapat ditarik secuil kesimpulan bahwa berorganisasi membawa banyak manfaat kepada kita. Pertama, bertemunya satu teman dengan teman yang lain dengan berbagai gaya dan sikap di berbagai kegiatan, tentunya akan menghasilkan pertukaran ilmu (knowledge exchnage) dan juga mungkin akan mendapatkan cinta. Kedua, proses yang kita lalui dalam organisasi tentunya “mendewasakan” kita dalam kehidupan yang nyata. Terakhir, apa lagi yang kita tunggu, jika tidak segera masuk di dalam sebuah organisasi. It’s the time for you to improve your ability. Sehingga kelak akan disebut mahasiswa yang sukses dalam studi, keluarga dan cinta. Hebat bukan?. Inilah kira-kira hasil pembahasan saya pada waktu itu, semoga bermanfaat bagi siapapun yang ingin mendewasakan diri agar mampu menatap masa depan yang penuh romantika dan tantangan. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Nanggroe Aceh Darussalam, Rabu 12 April 2023

Share :

Baca Juga

EDUKASI

SNBT Bukan Takdir : Jangan Jadikan Kampus Impian Sebagai Berhala Masa Depan

EDUKASI

13 Mahasiswa KPI UIN Suna Lolos Beasiswa Bank Indonesia 2026

ACEH

Baitul Mal Aceh dan FDP Salurkan Bantuan Usaha untuk Tingkatkan Kemandirian Mualaf

BERANDA

Puluhan Miliar Dana OSF Mengalir ke LSM dan Lembaga Akademis Indonesia, Apa Saja Programnya?

ACEH

Bupati Al-Farlaky Mengucapkan Selamat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Kapolda Aceh Resmikan Gedung Utama Polres Aceh Timur, Bupati: Perkuat Sinergi Jaga Keamanan