MEDIALITERASI.ID | ACEH UTARA – Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh Utara dalam lima hari terakhir memicu respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Bupati H. Ismail A. Jalil, MM, atau yang akrab disapa Ayah Wa, turun langsung memimpin distribusi logistik dan penguatan penanganan darurat di sejumlah titik pengungsian yang masih terisolir, Selasa (2/12/2025).
Penetapan status Tanggap Darurat Banjir, Longsor, dan Angin Kencang telah dikeluarkan oleh Bupati pada 25 November 2025. Status ini menjadi dasar bagi seluruh perangkat daerah untuk mempercepat evakuasi, penyaluran bantuan, serta membuka akses wilayah yang terputus.
Sejak pagi, Bupati Ayah Wa memimpin rakor lapangan, memerintahkan distribusi logistik masa panik ke posko induk kecamatan dan memprioritaskan warga yang terisolir. Ia turut mengecek jalur distribusi yang terdampak lumpur dan memastikan bantuan tiba tepat waktu.
“Kita pastikan warga terdampak mendapatkan bantuan hari ini. Tidak ada yang boleh menunggu, terutama kelompok rentan di pengungsian,” tegasnya dalam koordinasi di posko Lhoksukon.
Bupati juga memerintahkan pengerahan perahu karet, RIB, serta mobil operasional untuk menembus desa-desa yang masih tergenang.
Salah satu kendala utama adalah putusnya jaringan komunikasi, baik internet maupun layanan telepon, di sejumlah kecamatan.
“Komunikasi harus segera pulih. Ini kunci koordinasi evakuasi dan distribusi bantuan,” perintah Ayah Wa kepada dinas terkait.
Kondisi ini membuat beberapa laporan korban terlambat diterima posko induk.
34.756 KK Mengungsi, 99 Meninggal, 115 Hilang
Data posko bencana hingga pukul 15.12 WIB melaporkan:
Korban terdampak: 56.684 KK (164.322 jiwa)
Pengungsi: 34.756 KK (115.927 jiwa)
Meninggal: 99 jiwa
Hilang: 115 jiwa
Lokasi pengungsian: 447 titik
Kelompok rentan: Ibu hamil: 198, Balita: 1.248, Lansia: 1.687, Disabilitas: 58 jiwa
Kerusakan berat terjadi di berbagai fasilitas dan infrastruktur:
Rumah: 3.970 rusak berat, 12.685 sedang, 15.890 ringan
Pesantren/Dayah: 10 rusak berat, 195 sedang, 6 ringan
Tanggul sungai: 21 titik rusak berat
Jembatan: 37 rusak (32 berat)
Jalan: 93 ruas rusak (83 berat)
Sekolah: 246 rusak berat
Selain rumah, 12.782 hektare sawah dan 10.653 hektare tambak juga terendam banjir dan lumpur.
Bupati menekankan perlunya pengerahan alat berat untuk membuka akses jalan, menormalisasi saluran pembuangan, dan memperbaiki tanggul jebol.
Lima wilayah yang belum dapat diakses secara penuh adalah: Langkahan, Baktia, Baktia Barat, Sawang dan Lapang.
Ayah Wa menegaskan bahwa ibu hamil, balita, lansia, dan penyandang disabilitas harus mendapatkan layanan cepat di pengungsian.
“Jangan sampai ada warga yang kekurangan makanan, obat-obatan, atau akses layanan darurat. Petugas harus memastikan keamanan dan kebutuhan perempuan serta anak-anak,” katanya.
Bupati memerintahkan percepatan pemulihan listrik, jaringan komunikasi, air bersih, sanitasi, serta gas elpiji di seluruh titik pengungsian. Upaya ini diperkuat dengan kerja sama BPBD, Basarnas, TNI/Polri, PMI, relawan, dan nelayan setempat.
Bupati Ayah Wa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan warga hingga seluruh titik banjir surut, daerah terisolir terbuka, dan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
“Kita akan terus berada di lapangan sampai masyarakat kembali aman. Prioritas kita adalah keselamatan, evakuasi, dan pemulihan.” tutupnya. (EQ)









