Oleh: Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH.
Di tengah derasnya arus informasi dan semakin kompleksnya tantangan bangsa, ada satu profesi yang tetap berdiri di garis depan, meski tak selalu mendapat penghargaan semestinya: wartawan.
Di jalan-jalan sempit kampung, di lorong pengadilan, bahkan di balik pagar-pagar gedung pemerintahan, para jurnalis bekerja dalam diam—menulis, memotret, menggali, dan menyuarakan apa yang banyak orang takut untuk katakan. Meski kadang dianggap mengganggu, wartawan sesungguhnya bukan musuh siapa pun. Mereka hanya menjalankan tugas, mewakili suara rakyat, dan menjadi saksi sejarah atas perjalanan bangsa.
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, pakar hukum dan pembina insan pers nasional, menegaskan bahwa wartawan adalah bagian dari pilar demokrasi. “Ketika rakyat tak mampu bicara, maka pers yang menyuarakan. Ketika ada kezaliman, maka pers menjadi alarm keadilan,” ujarnya dalam sebuah diskusi pers di Jakarta.
Namun idealisme sering berhadapan dengan kenyataan pahit. Tak sedikit wartawan di daerah yang masih dianggap remeh, bahkan dituduh sebagai “wartawan bodrek” atau “pencari amplop.” Tuduhan ini muncul bukan karena fakta, melainkan karena ketakutan: takut diberitakan, takut kebusukannya terbongkar.
Padahal, kata Prof. Sutan, “Jika pemberitaan dilakukan sesuai kode etik jurnalistik—berimbang, faktual, dan terkonfirmasi—maka tak ada alasan untuk merasa terganggu. Kecuali memang ada yang ingin disembunyikan.”
Ia juga menyoroti peran Dewan Pers yang dinilainya perlu lebih inklusif terhadap organisasi dan komunitas wartawan di seluruh pelosok negeri. “Jangan sampai ada kesan bahwa hanya yang dekat dengan pusat yang dianggap sah. Padahal jurnalisme hidup di mana-mana, dari ibu kota sampai desa terpencil,” tambahnya.
Bukan hanya menjadi saksi, jurnalis juga sering menjadi penentu arah. Dalam banyak kasus—mulai dari penggusuran warga, korupsi pejabat, hingga mafia tanah—peran pers begitu vital. Tanpa berita, banyak ketidakadilan akan tenggelam dalam diam.
Tapi risiko yang mereka tanggung sangat besar. Intimidasi, ancaman, bahkan kriminalisasi masih menjadi bayang-bayang bagi banyak wartawan di Indonesia. Sayangnya, belum semua kasus kekerasan terhadap jurnalis ditangani serius oleh penegak hukum.
“Inilah pentingnya solidaritas antar pers, dan pentingnya negara hadir bukan untuk membungkam, tetapi untuk melindungi,” tegas Prof. Sutan.
Bagi Prof. Sutan, insan pers adalah penjaga nurani bangsa. Tanpa pers yang merdeka, suara rakyat akan tumpul. Tanpa jurnalis yang jujur, demokrasi akan kehilangan arah.
Ia menutup dengan pesan menyentuh, “Kalau tidak ada yang perlu disembunyikan, maka tidak ada yang perlu ditakutkan dari kerja wartawan. Karena yang mereka lakukan bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membangunkan nurani bangsa.”








