Home / OPINI

Rabu, 9 Juli 2025 - 16:07 WIB

Wartawan Bukan Musuh Negara: Ketika Pers Menjadi Penjaga Nurani Bangsa

Oleh: Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH.

Di tengah derasnya arus informasi dan semakin kompleksnya tantangan bangsa, ada satu profesi yang tetap berdiri di garis depan, meski tak selalu mendapat penghargaan semestinya: wartawan.

Di jalan-jalan sempit kampung, di lorong pengadilan, bahkan di balik pagar-pagar gedung pemerintahan, para jurnalis bekerja dalam diam—menulis, memotret, menggali, dan menyuarakan apa yang banyak orang takut untuk katakan. Meski kadang dianggap mengganggu, wartawan sesungguhnya bukan musuh siapa pun. Mereka hanya menjalankan tugas, mewakili suara rakyat, dan menjadi saksi sejarah atas perjalanan bangsa.

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, pakar hukum dan pembina insan pers nasional, menegaskan bahwa wartawan adalah bagian dari pilar demokrasi. “Ketika rakyat tak mampu bicara, maka pers yang menyuarakan. Ketika ada kezaliman, maka pers menjadi alarm keadilan,” ujarnya dalam sebuah diskusi pers di Jakarta.

Baca Juga  HARI INI 14 PEBRUARI 2024 SETELAH PENCOBLOSAN ; TAK ADA LAGI PENDUKUNG ANIES, PRABOWO DAN GANJAR

Namun idealisme sering berhadapan dengan kenyataan pahit. Tak sedikit wartawan di daerah yang masih dianggap remeh, bahkan dituduh sebagai “wartawan bodrek” atau “pencari amplop.” Tuduhan ini muncul bukan karena fakta, melainkan karena ketakutan: takut diberitakan, takut kebusukannya terbongkar.

Padahal, kata Prof. Sutan, “Jika pemberitaan dilakukan sesuai kode etik jurnalistik—berimbang, faktual, dan terkonfirmasi—maka tak ada alasan untuk merasa terganggu. Kecuali memang ada yang ingin disembunyikan.”

Ia juga menyoroti peran Dewan Pers yang dinilainya perlu lebih inklusif terhadap organisasi dan komunitas wartawan di seluruh pelosok negeri. “Jangan sampai ada kesan bahwa hanya yang dekat dengan pusat yang dianggap sah. Padahal jurnalisme hidup di mana-mana, dari ibu kota sampai desa terpencil,” tambahnya.

Bukan hanya menjadi saksi, jurnalis juga sering menjadi penentu arah. Dalam banyak kasus—mulai dari penggusuran warga, korupsi pejabat, hingga mafia tanah—peran pers begitu vital. Tanpa berita, banyak ketidakadilan akan tenggelam dalam diam.

Baca Juga  PANJI GUMILANG AKAN TUMBANG DAN BERLANJUT KE MEJA SIDANG

Tapi risiko yang mereka tanggung sangat besar. Intimidasi, ancaman, bahkan kriminalisasi masih menjadi bayang-bayang bagi banyak wartawan di Indonesia. Sayangnya, belum semua kasus kekerasan terhadap jurnalis ditangani serius oleh penegak hukum.

“Inilah pentingnya solidaritas antar pers, dan pentingnya negara hadir bukan untuk membungkam, tetapi untuk melindungi,” tegas Prof. Sutan.

Bagi Prof. Sutan, insan pers adalah penjaga nurani bangsa. Tanpa pers yang merdeka, suara rakyat akan tumpul. Tanpa jurnalis yang jujur, demokrasi akan kehilangan arah.

Ia menutup dengan pesan menyentuh, “Kalau tidak ada yang perlu disembunyikan, maka tidak ada yang perlu ditakutkan dari kerja wartawan. Karena yang mereka lakukan bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membangunkan nurani bangsa.”

Share :

Baca Juga

OPINI

Ketika Laporan Manis Mengalahkan Kenyataan Pahit Pemulihan Listrik Aceh

OPINI

Negara Gagal Membaca Peringatan Alam : Sumatera Tenggelam, Kekuasaan Sibuk Mencuci Tangan

OPINI

Banjir Aceh 2025: Ketika Alam Mengingatkan, Manusia Harus Bermuhasabah dan Berbenah

OPINI

Banjir Ini: Cermin Kegagalan Negara dalam Melindungi Rakyatnya Melalui Kebijakannya

OPINI

Belajar dari Sejarah dan Bencana: Sudah Saatnya Aceh Mengaktifkan Transportasi Laut Secara Berkala

OPINI

Selamat Memakan Prosedur: Ketika Birokrasi Lebih Mengutamakan Kepatuhan dibanding Keselamatan Manusia

OPINI

Banjir Aceh 2025: Ujian Kemanusiaan, Peringatan Ilahi, dan Seruan Berbenah

OPINI

Kenaikan Harga di Tengah Bencana: Ujian Kemanusiaan dan Tanggung Jawab Negara