![]()
Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Pengamat Politik, USK, Banda Aceh
“Orang Yang Suka Cari Muka Akan Kehilangan Muka, Saat Muka Aslinya Terbuka”.
MAHASISWA, padanya melekat sebuah titel dan gelar kebanggaan yang mempunyai arti tersendiri bagi orang-orang yang menyandangnya. Sungguh mulia, ‘gelar’ tersebut, jika kita mampu berbuat yang terbaik untuk bangsa ini. Dari dulu sampai sekarang Mahasiswa selalu dianggap sebagai social agent of change, yakni “pahlawan yang selalu berada di garis terdepan dalam memerangi penindasan oleh tirani yang berkuasa dan berada pada garis terdepan dalam segala perubahan yang lebih baik”.
MASIH INGATKAH sebuah peristiwa revolusi besar tahun 1998 yang lalu?. Ketika itu mahasiswalah yang berdiri di garis terdepan menuntut rezim Soeharto yang sedang berkuasa selama lebih dari 32 tahun saat itu untuk segera mengundurkan diri. Rakyat sudah tidak kuat lagi dengan segala kebijakan yang terus menguntungkan penguasa dan merugikan rakyat. Bayangkan Pak Harto berkuasa selama lebih 32 tahun tanpa tergantikan?.
Hhmmmm…“Emangnya ini negara milik siapa?”. Ya.. dan Alhamdulillah pada akhirnya, Almarhum Bapak Soeharto dengan hati terbuka harus mengakui kalau memang kepemimpinannya sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, karena rakyat tidak lagi mempercayai dan membutuhkannya.
Begitulah seharusnya seorang pemimpin, jika dianggap tercela dan harga dirinya ternoda, segera mengundurkan diri, tanpa harus dipaksa. Apalagi harus berkilah : “kita tunggu saja proses yang sedang berjalan, dan mari kita mengedepankan azas praduga tak bersalah”. Ya, bagi saya sendiri, bahasa itu sah-sah saja diucapkan oleh siapapun. Tapi yang jauh lebih penting adalah jujurlah pada hatinya masing-masing, jika kita ingin bangsa ini terhormat.
MOHON MAAF, mungkin kita harus salut untuk Pak Harto. Sebuah sikap seorang negarawan telah ditunjukkan dan pantas untuk dipuji. Meskipun hal ini, masih terbuka untuk didiskusikan dan diperdebatkan. Semangat juang para Mahasiswa kala itu mampu meruntuhkan ‘rezim otoritarian’ yang sedang berkuasa, tentu saia tulisan ini tidak bermaksud dan mengajak siapapun untuk berbuat seperti itu. Namun, yang perlu dicermati adalah marilah kita bangun bangsa ini dengan santun dan beradab untuk mewujudkan masyarakat yang bermartabat. Untuk mencapai tujuan yang bermoral, harus kita lakukan dengan cara-cara yang bermoral dan mulia pula.
Baca Juga : MARI KITA BELAJAR DARI POHON MANGGA ; DILEMPARI BATU, DIBALAS DENGAN BUAH
Berkaitan dengan itu, mari kita lihat bersama kondisi Mahasiswa Indonesia sekarang. Apakah masih sama atau malah totally different dengan sebelumnya. Banyaknya perguruan tinggi belum juga menunjukkan Bangsa ini mampu berada di jalur Negara yang Maju. Kemiskinan, Kejahatan, serta Korupsi malah semakin merajalela, menjamur dan menggurita di Negara ini. DPR yang notabene-nya sebagai Wakil rakyat “yang terhormat” tak mampu menyelesaikan persoalan ini karena mereka sendiri penuh dengan berbagai masalah. Lihatlah, bahkan kebijakan-kebijakan blunder yang dikeluarkan oleh DPR semakin membuat sengsara rakyat jelata. Belum lagi dalam realitas sosial hari ini – masih ada oknum anggota DPR yang nyambi sebagai “mafia anggaran atau makelar proyek”. Masya Allah – Kadang-kadang hati kita berbisik, Masih pantaskah kita menyebut mereka anggota terhormat? Wallahu ‘aklam. Semoga kekuasaan Allah Swt melebihi dari segala-galanya.
Mahasiswa, Tak sedikit pula mahasiswa yang turun ke jalan menyuarakan suara rakyat, berharap suara dari hati nurani rakyat didengar oleh orang-orang yang sedang duduk manis memerintah Bangsa ini. Akan tetapi, banyak pula mahasiswa yang acuh tak acuh dengan kondisi bangsa ini. Seolah mereka sudah kehilangan substansi sebagai seorang Mahasiswa atau mungkin malah tidak tahu apa makna seorang Mahasiswa. Hal ini menjadikan para pelaku “kejahatan politik dan kejahatan ekonomi” semakin membabi buta mengeruk uang negara untuk diri, keluarga dan konco-konconya.
RINTAHANMU, PILU KURASA
Indonesia, Aku Masih Tetap Mencintaimu
Sungguh, Cintaku Suci Dan Murni Padamu
Ingin Selalu Kukecup Keningmu
Seperti Kukecup Kening Istri atau Kekasihku
Tapi Mengapa Air Matamu
Masih Menetes-Netes Juga
Dan Rintihmu Pilu Kurasa?
Burung-Burung Bernyanyi Menghiburmu
Pesawat-Pesawat Menderu Membangkitkanmu
Tapi Mengapa Masih Juga Terdengar Tangismu?
Apakah Kau Tangisi Hutan-Hutan
Yang Tiap Hari Digunduli Pemegang HPH?
Apakah Kau Tangisi Hutang-Hutang Negara
Yang Terus Menumpuk Jadi Beban Bangsa?
Apakah Kau Tangisi Nasib Rakyatmu
Yang Makin Tergencet Kenaikan Harga?
Atau Kau Sekadar Merasa Kecewa
Karena Rupiahmu Terus Dilindas Dolar Amerika
Dan IMF Atau Apalah Namanya, Rentenir Kelas Dunia Itu,
Terus Menjerat Dan Mengendalikan Langkahmu?
Ah, Apapun Yang Terjadi Padamu
Indonesia, Aku Tetap Mencintaimu
Ingin Selalu Kucium Jemari Tanganmu
Seperti Kucium Jemari Tangan Ibuku
Sungguh, Aku Tetap Mencintaimu
Karena Itulah, Ketika Orang-Orang
Ramai-Ramai Membeli Dolar Amerika
Tetap Kubiarkan Tabunganku Dalam Rupiah
Sebab Sudah Tak Tersisa Lagi Saldonya!
Adik-adikku Yang Amat Terpelajar !!! Sebagai mahasiswa ada segunung tanggung jawab sosial yang dirimu harus junjung bersama. Jika tak mampu turun ke jalan (dan ini juga sangat tidak dianjurkan, karena hal tersebut dapat menggangu proses belajarmu), namun saya menyarankan untuk dapat melawan kemunafikan oknum penguasa dan ketidak-adilan, lakukanlah dengan tulisan-tulisan cerdas yang santun untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik dan bermartabat. Oleh karena itu, dengan menulis telah menunjukkan intelektualitasmu sebagai seorang mahasiswa yang hebat dan peduli akan kehidupan sosial dan masyarakat ini yang semakin carut mawut. Insya Allah Berkah! (Salam Perjuangan, @TM, Mantan Aktivis Mahasiswa Era 80-an)
Banda Aceh, 11 Juni 2023







