MEDIALITERASI.ID | ACEH – Menarik ketika kembali melihat data terkini tentang kondisi ketenagakerjaan di Aceh per Februari 2025 yang diterbitkan oleh BPS Aceh tanggal 5 Mei 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Aceh per Februari 2025 sebesar 5,50% atau turun sebesar 0,06 point dibanding Februari 2024 (5,56%). Namun penurunan persentase TPT ini tidak diikuti dengan turunnya jumlah angka pengangguran, bahkan dibanding tahun sebelumnya justru terjadi peningkatan jumlah pengangguran. Hal ini disebabkan karena jumlah angkatan kerja yang terus bertambah setiap tahunnya, sementara tidak diikuti dengan bertambahnya jumlah angkatan kerja yang bekerja.
Kondisi ini tentu menjadi catatan penting bagi Pemerintah Aceh untuk lebih fokus dalam menemukan formula terbaik dalam mengurangi angka pengangguran. Penciptaan lapangan kerja melalui investasi maupun penciptaan wirausaha baru tentu tidak menjadi satu-satunya solusi dalam menghadapi kondisi ini. Butuh langkah cepat dan konkrit yang harus segera ditempuh untuk bangkit dari keterpurukan dunia ketenagakerjaan Aceh ini.
Kami (penulis – red) mencoba menelusuri untuk menemukan solusi dari berbagai narasumber, termasuk salah seorang diantaranya adalah Khuzaimah (25 tahun), eks mahasiswi jurusan akuntansi Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, Kab. Bireuen. Melalui pengalaman putri asal Kabupaten Bireuen ini kami mencoba menggali informasi.
Khuzaimah (ima) pernah bekerja di salah satu hotel ternama di Dubai, Uni Emirate Arab dari tahun 2023 hingga 2024.
“Dulu (tahun 2023 – red) melalui media sosial saya dapat informasi program pelatihan dan pemagangan sektor pariwisata yang dibuat Disnakermobduk Aceh. Dari ribuan pendaftar, ada ratusan peserta yang ikut seleksi program tersebut, dan alhamdulillah saya lulus hingga tahap akhir seleksi (Medichal Check Up – Red). Ada 20 orang waktu itu yang lulus. Kami semua difasilitasi untuk ikut pelatihan di LPKN Training Center Mataram selama 3 bulan, lalu dilanjutkan dengan magang di Sheraton Senggigi Beach Resort Lombok, selama 3 bulan. Dari situ saya banyak mendapatkan informasi lowongan kerja, khususnya di luar negeri. Ada beberapa peluang yang saya coba, dan akhirnya saya lulus dan bekerja di Khalidiya Palace Hotel Dubai, bersama 2 orang peserta lainnya. Walaupun saat ini saya sudah tidak lagi bekerja di Dubai, namun dengan pengalaman dan jaringan yang saya peroleh selama bekerja, peluang karir di sektor pariwisata khususnya perhotelan sangat mudah dapatkan. Saat ini saya sedang menunggu jadwal joint dengan Fourseason Hotel di Madinah, Saudi Arabia.”
Saya sangat berterimakasih kepada Pemerintah Aceh, khususnya Disnakermobduk Aceh yang telah membuka jalan karir saya, semoga pemerintah aceh tetap terus mendukung program ini karena banyak sekali yang sudah menantikan program ini dan menurut saya insyaallah aceh akan lebih maju dengan membuka jalan karir bagi pemuda pemudi yang kompeten sehingga sepulangnya ke tanah air akan ada banyak ide atau usaha yang tercipta, secara tidak langsung anak muda yang akan membantu masyarakat lainnya dalam hal membuka lapangan pekerjaan lebih banyak lagi”, ucap Khuzaimah.
Pengalaman Khuzaimah ini, menurut dapat menjadi alternatif solusi. Memberikan skill dalam bentuk pelatihan dan menerapkan keterampilan yang telah didapatkan dalam bentuk magang adalah langkah konkrit yang dapat dilakukan, karena selain merubah pola pikir (mindset – red) para peserta (pencari kerja), dalam program ini mereka juga langsung didekatkan dengan para perusahaan pengguna, sehingga tidak hanya proses magang yang dilakukan, namun bagi perusahaan juga dapat dijadikan sebagai proses seleksi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang kompeten.
Berikutnya kami akan mencoba mendapatkan informasi yang lebih konkrit terkait program ini dengan Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh selaku penyelenggara kegiatan. Nantikan informasi selanjutnya dari kami.
(Bersambung, Chapter 2).







