IDI RAYEUK | MEDIALITERASI.ID — Di tengah gencarnya pemerintah membangun hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir bandang Oktober 2025 di Aceh Timur, masih ada warga yang terlewatkan. Dialah Tgk. Muhammad Safrizal, yang akrab disapa Tgk. Amad.
Pria yang tinggal di gubuk tak layak huni beralaskan tanah di Lorong Makmur, Desa Meunasah Puuk, Kecamatan Idi Rayeuk, itu harus pasrah. Gubuknya pernah roboh diterjang banjir bandang Oktober 2025 lalu. Ironisnya, hingga akhir September 2026, belum ada satu pun bantuan pemerintah yang menyentuhnya.
Kepada awak Medialiterasi.id, Tgk. Amad menuturkan kisah pilunya dengan suara bergetar. Sejak musibah itu, ia bersama istri dan empat anaknya yang masih balita hidup dalam keterbatasan yang luar biasa.
“Sejak musibah banjir bandang, saya bersama istri dan 4 anak yang masih balita sudah pasrah dengan keadaan,” ujar Tgk. Amad miris.
Yang membuat dadanya semakin sesak adalah kenyataan di sekitarnya. Ia menyaksikan tetangga-tetangganya satu per satu mendapatkan bantuan huntara, Jaminan Hidup (Jadup), bahkan ada yang sudah menempati huntap percontohan yang diresmikan dan dikunjungi langsung oleh Bupati Aceh Timur bersama rombongan.
“Saya hanya bisa mengelus dada saat orang mendapat bantuan huntara dan Jadup, bahkan ada yang sudah mendapatkan huntap yang menjadi percontohan dan dikunjungi langsung oleh Bupati,” sebutnya.
Kalimat yang keluar dari bibirnya setelah itu begitu pilu, menggambarkan keputusasaan yang mendalam.
“Akankah selamanya saya akan seperti ini,” gumamnya pilu.
Tgk. Amad menegaskan, bukan karena ia malas berusaha. Setiap hari ia banting tulang, namun rezeki yang didapat tak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk membangun kembali gubuknya yang roboh.
“Bukannya saya tidak berusaha, tapi rezeki yang saya dapatkan tiada jua mampu menutupi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Di akhir perbincangan, dengan sisa harapan yang ia punya, Tgk. Amad menitipkan pesan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Timur.
“Pada akhirnya kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, saya berharap kepedulian sepantasnya agar saya mampu bangkit dari keterpurukan ini,” tutupnya lirih.
Kisah Tgk. Amad menjadi potret buram masih adanya warga yang tercecer dari pendataan bantuan pasca-bencana. Publik kini menanti, akankah jerit pilu dari Lorong Makmur ini sampai ke Pendopo Bupati (Redaksi)







