Fenomena tenda mewah di panggung dan peserta yang berpanas-panasan setiap tahun memantik kritik. Pengamat dan guru minta konsep upacara diubah agar lebih humanis tanpa mengurangi penghormatan pada negara
MEDIALITERASI.ID | AKARTA – Setiap tanggal 17 Agustus, pemandangan yang sama kembali terulang. Di satu sisi panggung utama dinaungi tenda besar lengkap dengan kursi dan buah segar. Di sisi lain, siswa, guru, dan warga berdiri berjam-jam di bawah terik matahari jam 9 pagi hingga ada yang tumbang.
Fenomena yang oleh masyarakat disebut “peserta kepanasan, pejabat peneduhan” ini kembali menjadi sorotan menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Dari sudut pandang protokoler, pemisahan itu punya alasan. Panggung utama memang disiapkan untuk tamu undangan senior, veteran, dan pejabat yang memiliki tanggung jawab teknis atas jalannya acara.
Namun ketika anak sekolah harus bertahan di lapangan terbuka tanpa pelindung panas, nilai simbolis upacara itu justru dipertanyakan.
“Esensi Kemerdekaan adalah Kesetaraan”
“Bukankah esensi dari kemerdekaan adalah rasa kesetaraan dan kebersamaan dalam menanggung perjuangan?” begitu pertanyaan yang mengemuka di kalangan orang tua dan guru setiap tahun.
Para pendidik menilai, siswa tidak hanya belajar dari teks proklamasi yang dibacakan di atas panggung. Mereka juga belajar dari realitas yang dilihat di depan mata.
Ketika seorang guru mendampingi muridnya berdiri berpanas-panasan sambil membagikan sisa tegukan air mineral, di situlah pelajaran empati yang sesungguhnya terjadi.
“Keteladanan tidak lahir dari kenyamanan fasilitas di bawah tenda, melainkan dari keteguhan mereka yang mau bertahan dan merawat rasa hormat di tengah terik matahari,” ungkap seorang guru dalam catatan refleksi yang beredar di media sosial.
Desakan Konsep Upacara Lebih Humanis
Para pengamat pendidikan menilai sudah saatnya konsep upacara 17 Agustus bertransformasi menjadi lebih humanis. Tujuannya bukan untuk mengurangi penghormatan pada simbol negara, melainkan menambah rasa kemanusiaan pada peserta di lapangan.
Opsi yang diusulkan beragam. Mulai dari penambahan tenda untuk barisan peserta, pembagian air minum gratis, pemangkasan durasi upacara, hingga penjadwalan ulang agar tidak tepat di puncak terik.
“Kehormatan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa megah tenda para pemimpinnya, melainkan dari seberapa protektif mereka terhadap rakyat dan generasi muda yang berdiri di hadapannya,” tulis refleksi tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Sekretariat Negara terkait perubahan teknis pelaksanaan upacara di tingkat pusat maupun daerah.
Namun diskusi soal “upacara yang adil” ini dipastikan akan kembali ramai setiap kali 17 Agustus tiba. Karena bagi banyak guru dan orang tua, pelajaran paling penting dari kemerdekaan justru ada di lapangan, bukan di atas panggung.(*)







