MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Perhelatan kebudayaan tahunan Sangerday Fest 2026 akan menggelar rangkaian kegiatan pra-acara (pra-event) pada 11–12 September 2026 di Aula dan Pelataran Museum Tsunami Banda Aceh.
Agenda ini bertindak sebagai panggung pembuka (curtain raiser) menuju Puncak Peringatan Hari Sanger yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Oktober mendatang.
Penyelenggaraan Sangerday Fest 2026 secara resmi memperoleh dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Hibah Kebudayaan Kategori Pendayagunaan Ruang Publik Tahun 2025. Alokasi pendanaan ini disalurkan melalui sinergi Dana Indonesiaraya bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai bentuk kepedulian negara terhadap akselerasi ekonomi kreatif serta pemajuan kebudayaan lokal di Aceh.
Secara sosiokultural, komoditas kopi Sanger merepresentasikan konstruksi nilai kebersamaan dan solidaritas sosial melalui filosofi “Sama-Sama Ngerti”.
Norma interaksi sosial tersebut lahir pada era 1990-an dari ruang diskursus informal antara kalangan mahasiswa dan pemilik warung kopi lokal. Gerakan perayaan ini pertama kali diinisiasi oleh Komunitas @iloveaceh bersama Fahmi Yunus, kemudian dikembangkan secara berkelanjutan guna mendorong transformasi produk turunan kopi menjadi aset ekonomi kreatif yang berdaya saing.
“Pemilihan Museum Tsunami Banda Aceh sebagai lokasi penyelenggaraan diposisikan sebagai strategi aktivasi third space (ruang ketiga) yang dinamis. Pendekatan ini secara kontekstual memadukan memori kolektif atas resiliensi bencana dengan ekspresi kebudayaan urban generasi muda,” kata Panitia Penyelenggara Nasrul, Rabu, 5 Agustus 2026.
Selama dua hari, rangkaian acara menghadirkan beragam agenda interaktif, mulai dari workshop, creative market expo, urban culture performance, dan seni mural yang semua mengusung konsep bertema budaya kopi dan ruang publik.
Nasrul menyebutkan, pada hari pembukaannya akan menampilkan pertunjukan musik etnik dan pentas seni budaya di panggung utama.
“Panitia penyelenggara membuka seluruh rangkaian kegiatan pra-acara ini untuk masyarakat umum, wisatawan, dan komunitas kreatif tanpa dipungut biaya, sebagai upaya mewujudkan panggung kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya.[af]






