Home / EDUKASI / FEATURE

Senin, 20 Juli 2026 - 23:41 WIB

Membangun Sekolah Tanpa Kekerasan, Sukma Bangsa Ajak Guru Menjadi Agen Perdamaian

MEDIALITERASI.ID | LHOKSEUMAWE – Suasana ruang seminar di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe terasa berbeda. Para guru, kepala sekolah, dosen, hingga mahasiswa tidak hanya datang untuk mendengarkan materi, tetapi juga diajak merefleksikan satu pertanyaan mendasar: bagaimana menciptakan sekolah yang benar-benar aman dan bebas dari kekerasan?

Bagi Sekolah Sukma Bangsa, perdamaian bukan sekadar slogan yang terpampang di dinding sekolah. Perdamaian merupakan budaya yang dibangun melalui kesadaran, dialog, dan keberanian menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Semangat itu menjadi benang merah dalam Seminar “Membangun Budaya Damai melalui Pendidikan Damai dan Pengelolaan Konflik di Sekolah” yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun Sekolah Sukma Bangsa.

Sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas guru Bimbingan dan Konseling, kepala sekolah, dosen, serta mahasiswa dari Universitas Malikussaleh dan UIN Sultanah Nahrasiyah. Kehadiran mereka mencerminkan besarnya perhatian terhadap pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan menghargai setiap individu.

Seminar dibuka oleh Penasihat Yayasan Sukma, Khoiruddin Bashori, yang mengingatkan bahwa konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Menurutnya, yang terpenting bukan menghindari konflik, melainkan mengelolanya dengan pendekatan win-win solution sehingga semua pihak dapat menemukan jalan keluar tanpa melahirkan pihak yang merasa dikalahkan.

Baca Juga  Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Guru

Pemahaman tersebut kemudian diperdalam melalui paparan Hijriati Meutia, Senior Master Teacher Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Sekolah Sukma Bangsa Bireuen. Ia mengajak peserta melihat bahwa kekerasan di sekolah tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Pengabaian, pengucilan, hingga perlakuan yang merendahkan martabat seseorang juga merupakan bentuk kekerasan yang sering luput dari perhatian.

Pandangan serupa disampaikan Dewi Puspita Sari, Senior Master Teacher Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Ia menekankan bahwa pendidikan damai perlu menjadi bagian dari budaya sekolah, mengingat praktik perundungan, pengucilan, dan berbagai konflik antarsiswa masih kerap terjadi tanpa disadari oleh orang dewasa.

Tidak hanya menyajikan teori, seminar ini juga menghadirkan pengalaman nyata melalui para focal point Kelas Manajemen Konflik Berbasis Sekolah (MKBS). Ikhwani membagikan praktik pendampingan siswa menggunakan pendekatan studi kasus, sedangkan Siti Rahmi menjelaskan pentingnya membangun ruang dialog antara sekolah, siswa, dan orang tua sebagai fondasi pembentukan karakter.

Baca Juga  FH Unimal Jalin Kerja Sama dengan 27 Lembaga Penegak Hukum: Dukung Tridharma dan Program Nasional

Pada sesi refleksi, Direktur Program Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Sekolah Sukma Bangsa, Dody Wibowo, menegaskan bahwa membangun budaya damai bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kegiatan. Menurutnya, penerapan Manajemen Konflik Berbasis Sekolah membutuhkan komitmen jangka panjang serta konsistensi seluruh warga sekolah.

Menjelang penutupan, Khoiruddin Bashori menyampaikan sebuah pesan sederhana namun sarat makna.

“Jika hati sudah dipenuhi dengan cinta, maka tidak ada ruang untuk kekerasan.”

Pesan itu menjadi penegas bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan empati, menghargai perbedaan, dan membangun karakter yang menjunjung tinggi perdamaian.

Melalui seminar tersebut, Sekolah Sukma Bangsa berharap semakin banyak pendidik yang mampu menjadi agen perdamaian. Sebab, sekolah yang bebas dari kekerasan tidak lahir secara kebetulan, melainkan dibangun dari kepedulian, keteladanan, dan komitmen setiap orang yang berada di dalamnya.

Kontributor : Dewi Puspita Sari 

Share :

Baca Juga

ACEH

Ini Pesan Bupati Aceh Timur untuk Mahasiswa: Jaga Kekompakan dan Rawat Asrama IKAPA
Masuk Jaringan Global, UIA Paya Lipah Hadiri WCCE 2026 Kemenekraf RI

BERITA

Hadiri WCCE 2026, Rektor UIA Dorong Penguatan Sektor Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah

BERITA

Tgk Zulfikar Harapkan Peningkatan Sarana Pendidikan pada Hari Santri Nasional 2026

ACEH

Bunda PAUD Julok Sambangi SD/MI Ajarkan Edukasi Konservasi Sejak Dini

ACEH

Bupati Al-Farlaky Salurkan Bantuan Kitab untuk Dayah di Aceh Timur

BERITA

Bupati Al-Farlaky Kembali Raih Penghargaan, Kali Ini Dari ILMA 2026, Katagori Inovasi Fiskal dan Penanganan Bencana

ACEH

Bupati Al-Farlaky Hadiri Muzakarah Dayah Keude Dua
Wisuda 227 Lulusan, UIA Berikan Apresiasi Prodi Unggul Hadiah Umrah

BERITA

Penguatan Mutu Menuju 2030, UIA Gelar Wisuda Angkatan XXXVIII di Kampus Paya Lipah