MEDIALITERASI.ID | JAKARTA — Badan sepak bola tertinggi dunia, FIFA, kembali menjadi sorotan. Di bawah kepemimpinan Presiden Gianni Infantino, serangkaian kebijakan dan keputusan FIFA dinilai publik dan pengamat semakin menjauh dari nilai-nilai sportivitas, dan lebih condong pada kepentingan finansial serta politik.
Rangkaian kontroversi ini memuncak menjelang Piala Dunia 2026, dan memicu kritik luas dari komunitas sepak bola global.
Berikut 8 keputusan dan peristiwa yang paling banyak dikritisi selama era Infantino:
1. Arab Saudi Ditunjuk Tuan Rumah Piala Dunia 2034 Tanpa Kompetisi Ketat
Proses penunjukan tuan rumah Piala Dunia 2034 dinilai “dipermudah”. Setelah format penawaran Piala Dunia 2030 diubah, Arab Saudi menjadi satu-satunya kandidat kuat untuk 2034.
Tak lama berselang, FIFA mengumumkan kerja sama sponsor global senilai miliaran dolar dengan Aramco, perusahaan minyak milik negara Saudi. Kritikus menilai ada konflik kepentingan antara keputusan politik dan komersial.
2. Favoritisme di Piala Dunia Klub 2025
Inter Miami yang diperkuat Lionel Messi mendapat jatah lolos otomatis ke Piala Dunia Klub 2025 meski MLS Cup saat itu belum selesai.
Keputusan ini menuai protes karena LA Galaxy yang mengalahkan Inter Miami di play-off justru tidak mendapat undangan. Pengamat menyebut keputusan itu sebagai bentuk “komersialisasi nama besar”.
3. Penghargaan Khusus untuk Donald Trump
FIFA membuat penghargaan khusus dan menyerahkannya kepada Presiden AS Donald Trump dalam acara drawing Piala Dunia 2026. Trump juga menerima replika Trofi Piala Dunia Klub untuk dipajang di Gedung Putih.
Langkah ini dikritik karena dianggap mencampuradukkan sepak bola dengan politik praktis.
4. Penangguhan Hukuman Folarin Balogun dan Cristiano Ronaldo
Dua bintang mendapat sorotan setelah hukumannya diringankan menjelang Piala Dunia 2026.
Balogun awalnya terkena larangan bermain, namun FIFA menangguhkan dan hanya menjatuhkan denda. Ronaldo juga disebut mendapat penangguhan hukuman kartu merah setelah melakukan pertemuan di Gedung Putih bersama putra mahkota Arab Saudi.
Komite Disiplin FIFA belum menjelaskan secara rinci dasar penangguhan tersebut, yang membuat publik menuding adanya standar ganda.
5. Aturan “Istirahat Minum” 3 Menit di Piala Dunia 2026
FIFA memberlakukan jeda minum wajib 3 menit di setiap pertandingan Piala Dunia 2026. Alasannya demi kesehatan pemain di cuaca panas.
Namun banyak pihak curiga aturan ini dibuat untuk memberi ruang iklan tambahan bagi pemegang hak siar. Alhasil, pertandingan 90 menit kini terasa seperti dibagi 4 kuarter.
6. Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp170 Juta
FIFA menerapkan sistem “dynamic pricing” untuk tiket Piala Dunia 2026. Harga tiket final dilaporkan bisa mencapai Rp170 juta.
Yang lebih dikritisi: FIFA mengizinkan penjualan kembali tiket dengan potongan 15% untuk FIFA. Kebijakan ini dinilai mencekik suporter kelas menengah.
7. Wasit Terbaik Afrika Omar Artan Ditolak Masuk AS
Wasit asal Somalia, Omar Artan, yang terpilih memimpin di Piala Dunia 2026, sempat dilarang masuk ke AS karena alasan keamanan dari pemerintah setempat.
Alih-alih membela, FIFA melalui Infantino hanya meminta semua pihak “tenang”. Sikap ini dinilai bentuk lemahnya pembelaan FIFA terhadap perangkat pertandingannya sendiri.
8. Timnas Iran Terpaksa Berkandang di Meksiko
Akibat ketegangan geopolitik, FIFA mengizinkan Timnas Iran bermarkas di Meksiko selama kualifikasi dan pemusatan latihan.
Kapten Iran, Mehdi Taremi, mengecam FIFA dan Infantino karena dinilai tidak memberikan solusi logistik yang layak dan membiarkan intervensi politik masuk ke sepak bola.
Tanggapan dan Tuntutan Reformasi
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan bantahan resmi atas seluruh poin di atas. Juru bicara FIFA sebelumnya menyatakan setiap keputusan “berdasarkan regulasi dan demi perkembangan sepak bola global”.
Namun desakan agar FIFA kembali ke marwahnya sebagai organisasi olahraga terus menguat. Pengamat menilai, jika politik dan uang terus mendominasi, kepercayaan publik terhadap netralitas FIFA akan semakin terkikis.
“Sepak bola harusnya milik rakyat, bukan milik sponsor dan kekuasaan,” ujar salah satu pengamat sepak bola internasional.
Dengan Piala Dunia 2026 yang tinggal menghitung bulan, publik kini menunggu: apakah FIFA di bawah Infantino akan mengoreksi arah, atau justru semakin jauh dari semangat fair play yang dulu diperjuangkannya.(*)







