Home / EDUKASI / OPINI

Kamis, 2 Juli 2026 - 21:41 WIB

Minggu Pertama Sekolah: Jangan Terburu Mengejar Materi, Bangunlah Fondasi Belajar yang Akan Bertahan Setahun

Oleh: Juni Ahyar
Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa

Sebentar lagi tahun ajaran baru dimulai. Tahun ajaran baru selalu menghadirkan harapan baru. Ruang-ruang kelas kembali dipenuhi wajah-wajah penuh semangat, rasa penasaran, sekaligus kecemasan. Namun, di balik euforia tersebut, masih banyak guru yang terjebak pada paradigma lama: semakin cepat menyelesaikan materi, semakin baik proses pembelajaran.

Padahal, berbagai penelitian pendidikan modern menunjukkan hal yang sebaliknya. Minggu pertama sekolah bukanlah ajang perlombaan menyelesaikan kompetensi dasar, melainkan masa emas untuk membangun hubungan, budaya belajar, serta iklim kelas yang positif. Fondasi yang dibangun pada pekan pertama akan sangat menentukan kualitas pembelajaran selama satu tahun ke depan.

Lima Kesalahan yang Masih Sering Terjadi

1. Terlalu Cepat Masuk Materi

Banyak guru merasa memiliki beban administratif yang besar sehingga hari pertama sekolah langsung diisi dengan penjelasan materi, latihan soal, bahkan pekerjaan rumah.

Padahal, peserta didik sedang menjalani masa transisi. Mereka masih beradaptasi dengan ruang kelas baru, teman baru, bahkan guru baru. Dalam kondisi seperti ini, aspek emosional jauh lebih penting daripada aspek akademik.

Psikolog pendidikan menegaskan bahwa rasa aman (psychological safety) merupakan prasyarat utama sebelum seseorang mampu belajar secara optimal. Ketika siswa merasa diterima dan dihargai, motivasi intrinsik mereka akan tumbuh dengan sendirinya.

2. Tidak Mengenal Peserta Didik

Tidak ada dua anak yang benar-benar sama. Mereka datang dengan latar belakang keluarga, kemampuan akademik, budaya, pengalaman belajar, hingga kondisi psikologis yang berbeda.

Guru yang tidak meluangkan waktu untuk mengenal siswanya cenderung menggunakan pendekatan yang seragam, padahal kebutuhan belajar setiap anak berbeda. Beberapa kegiatan sederhana seperti permainan perkenalan, angket minat belajar, diskusi kelompok, maupun percakapan santai dapat memberikan informasi berharga bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih bermakna.

Baca Juga  Tahun 2023 Unmuha Targetkan Lahirkan Prodi Baru 

3. Aturan Kelas Dibuat Sepihak

Masih banyak ruang kelas yang diawali dengan daftar panjang larangan. Padahal, aturan yang hanya dibacakan oleh guru sering kali dipandang sebagai “aturan milik guru”, bukan kesepakatan bersama.

Pendekatan yang lebih efektif adalah menyusun kontrak belajar secara partisipatif. Ketika siswa ikut menentukan aturan kelas, mereka merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjalankannya.

Inilah bentuk nyata pendidikan karakter melalui praktik demokrasi sederhana di dalam kelas.

4. Memberikan Banyak Tugas di Awal

Sebagian guru beranggapan bahwa tugas adalah cara terbaik untuk membentuk kedisiplinan. Namun, pada minggu pertama sekolah, fokus utama seharusnya adalah membangun rasa senang terhadap sekolah.

Terlalu banyak tugas justru dapat meningkatkan kecemasan, terutama bagi peserta didik yang masih beradaptasi. Pembelajaran awal sebaiknya lebih banyak berisi aktivitas kolaboratif, permainan edukatif, eksplorasi lingkungan sekolah, diskusi ringan, maupun proyek sederhana yang menyenangkan.

5. Mengabaikan Kesan Pertama

Ada pepatah yang mengatakan, “first impression lasts.” Kalimat pertama guru, cara menyapa siswa, ekspresi wajah, serta kesediaan untuk mendengarkan akan membentuk persepsi siswa terhadap gurunya.

Hubungan positif antara guru dan siswa terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar, kehadiran, disiplin, hingga prestasi akademik. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa karakter guru pada minggu pertama lebih diingat siswa daripada isi materi pelajaran pertama yang disampaikan.

Komite Sekolah Perlu Diisi Orang yang Memahami Pendidikan

Keberhasilan sekolah tidak hanya bergantung pada kepala sekolah dan guru. Kehadiran komite sekolah yang kompeten juga menjadi faktor penting dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan.

Idealnya, komite sekolah tidak sekadar menjadi pelengkap administrasi, tetapi menjadi mitra strategis dalam pengembangan sekolah. Akan sangat baik apabila anggota komite berasal dari kalangan yang memiliki pemahaman tentang dunia pendidikan, seperti akademisi, dosen, guru purnabakti, praktisi pendidikan, tokoh masyarakat yang peduli terhadap pendidikan, maupun profesional yang memiliki pengalaman dalam pengembangan lembaga pendidikan.

Baca Juga  Desa Krueng Manyang Gelar MTQ Ke-3 Untuk Membentuk Generasi Emas Qurani

Dengan demikian, kepala sekolah memperoleh mitra diskusi yang mampu memberikan masukan berdasarkan kajian ilmiah, pengalaman, dan kebutuhan nyata sekolah.

Namun demikian, peraturan di Indonesia tidak mensyaratkan bahwa anggota komite sekolah harus berlatar belakang pendidikan. Keanggotaannya dapat berasal dari orang tua atau wali peserta didik, tokoh masyarakat, pemerhati pendidikan, dunia usaha, maupun unsur masyarakat lainnya yang memiliki komitmen terhadap kemajuan sekolah.

Yang terpenting adalah integritas, kepedulian, kemampuan bekerja sama, serta orientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Komite sekolah yang aktif dapat membantu memberikan pertimbangan terhadap kebijakan sekolah, mendukung peningkatan mutu layanan pendidikan, memperkuat akuntabilitas, serta menjadi jembatan komunikasi antara sekolah dan masyarakat.

Minggu Pertama Menentukan Setahun Pembelajaran

Pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi. Pendidikan adalah membangun hubungan antar manusia. Guru yang berhasil bukanlah guru yang paling cepat menuntaskan buku paket, melainkan guru yang mampu membuat siswanya merasa aman, dihargai, percaya diri, dan mencintai proses belajar.

Jika hubungan guru dan siswa telah terbangun dengan baik sejak awal, penyampaian materi sepanjang tahun akan berlangsung lebih efektif, konflik di kelas berkurang, dan hasil belajar pun meningkat.

Minggu pertama sekolah bukan tentang berapa bab yang selesai diajarkan, melainkan tentang berapa banyak hati yang berhasil disentuh. Karena sejatinya, hubungan yang baik adalah kurikulum pertama sebelum semua mata pelajaran dimulai.

Share :

Baca Juga

OPINI

Opini Guru Besar USK: Bendera Bintang Bulan Aceh dan Ujian Kepastian Hukum Negara

OPINI

Waktu Akan Membuktikan: Penjilat Pergi Saat Kepentingan Habis, yang Tulus Tetap Setia
Pesona "Wasiet Pejuang": Mahasiswa MPI UIA Sabet Juara 1 Melukis Tingkat Universitas

EDUKASI

Lewat Karya “Wasiet Pejuang”, Rezha Affannur Bawa UIA Rajai Lomba Melukis Bireuen

BERITA

Meurasa HIMASOS Unimal, Satukan Mahasiswa Sosiologi Lintas Angkatan dalam Semangat Kekeluargaan

BERANDA

Resmi! Presiden Prabowo Salurkan BSU Rp900.000 untuk 13,3 Juta Pekerja Mulai Oktober 2026

BERANDA

Bukan Tanda Gila, Ini 7 Fakta Psikologis di Balik Kebiasaan Bicara Sendiri yang Jarang Diketahui

OPINI

Kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam Spektrum dan Lanskap Polri Bersama Masyarakat dan Bhayangkara Negara

EDUKASI

Dari Penilaian ke Asesmen, dari Hukuman ke Disiplin Positif: Menguji Wajah Baru Pendidikan Indonesia