Home / OPINI

Kamis, 15 Juni 2023 - 12:16 WIB

KETIKA NEGERI DAN BANGSA INI MEMANGGIL ANIES

Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Ilmuwan Politik, USK
Banda Aceh

MAJU PILPRES, hampir dapat diduga dan dipastikan Anies menang. In Sya Allah, Jika tidak ada aral yang melintang dan pihak menghambatnya. Ini dapat dikalkulasi secara rasional. Anies tak ubahnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2004 dan Jokowi tahun 2014. Anies punya magnet dan daya tarik cukup luar biasa. Dimana ada Anies, di situ berkumpul massa yang histeris. Mereka akan teriak : PRESIDENv… PRESIDEN … PRESIDEN… Anies Baswedan sudah identik dengan sebutan presiden. Ini ada di alam bawah sadar warga masyarakat. Tak ada komando, juga tak ada yang provokasi, dan tak ada intimidasi.

Suatu ketika saya pernah lihat Anies di sebuah bandara. Saya perhatikan dari jarak belasan meter. Hampir tak ada orang di bandara itu yang tidak minta foto sama Anies. “Ini orang sepertinya memang sedang disiapkan oleh sejarah”, bisik saya dalam hati waktu itu …

“Habis Gelap Terbitlah Terang” kata sahabatku, seorang tokoh dari Pulau Jawa. Dia menggambarkan Anies sebagai sebuah harapan baru. Anies seperti air dalam kehausan dan sebagai obat dahaganya rakyat.

Saya hanya mendeskripsikan tentang situasi sosial saat ini yang lagi gandrung dengan tokoh bernama Anies Baswedan. Obyektif, apa adanya, dan memang begitulah faktanya. Sebuah ungkapan yang bisa dipertanggungjawabkan, meski selalu terbuka untuk kita berbeda. Yang penting perbedaan itu tetap dalam jalinan ukhuwah dan persahabatan untuk kemajuan bangsa.

Jika Anies disambut meriah dan dielu-elukan di Jakarta, itu hal biasa. Karena Anies memang pernah menjadi gubernur Jakarta. Tapi, ketika Anies datang ke Makasar, Ke Aceh, Padang, Surabaya, Kalimantan, dan Jogja, masyarakatnya menyambut dengan antusias dan dalan jumlah besar, lalu teriak Presiden… Presiden… Presiden.. Tentu ini bukan sesuatu yang biasa. Ini tanda zaman bahwa Anies memang sepertinya disiapkan oleh takdir untuk memimpin negeri ini ke depan. Kita biarkan saja pada sejarah bangsa yang akan mencatatnya dengan tinta emas dan indah pada waktunya…

Baca Juga  DETIK-DETIK MENYAMBUT TAHUN BARU 2025 ; BANGUNLAH WAHAI BANGSAKU

Beberapa hari ada yang telpon saya, dia dapat informasi bahwa ada sejumlah daerah yang minta Anies datang. Sepertinya mereka ingin juga merasakan kehadiran Anies setelah viral video sambutan kepada Anies di Aceh, Surabaya, Makasar dan Jogja. Mereka sepertinya mereka tidak sabar menunggu Anies hadir pada saat yang tepat…

Sahabat terbaik saya yang telpon itu juga sedang cari akses ke Anies untuk menghadirkan mantan gubernur DKI ini ke daerahnya. Dia jamin bisa kumpulkan minimal 20.000 orang. Ini belum waktunya sahabat … Sabar, ucap saya waktu itu …

Untuk menguji kebenaran “tesis” saya di atas, anda coba testimoni dengan menghadirkan Anies di berbagai daerah. Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulsel, Sumsel, Sumbar, Aceh, Sumut, atau mana saja. Kasih tahu masyarakat Anies akan datang ke wilayah itu. Apa yang akan terlihat? Cukup hatimu yang menjawabnya…

Kita lihat, berapa banyak dan antusiasnya masyarakat yang menyambut Anies. Anda boleh patahkan “tesis” saya jika yang datang sedikit. Wallahu Aklam Bisshawab …

Masalahnya, Anies kalau datang ke daerah untuk keperluan tugas negara, seringkali diam-diam. Tak pernah kasih tahu masyarakat. Alasannya, ini tugas negara, bukan sedang kampanye. Anies betul-betul menjaga integritas, moral dan etika kerja dalam berbangsa.

Kalau kebetulan itu acara hajatan partai, silaturahmi ke ulama atau tokoh, ini akan dimanfaatkan oleh mereka untuk mengumumkan ke masyarakat sekitar. Tak bisa diam-diam lagi. Ini terjadi seperti di Makassar (acara pernikahan), Jogja (partai), Surabaya dan Bumiayu Brebes (pesantren) itu.

Setiap zaman ada tokohnya, dan tiap tokoh ada zamannya. Jika dilihat dari banyak indikator, Anies adalah tokoh zaman ini. Anies punya magnet sosial yang cukup luar biasa.

Baca Juga  Wartawan Bukan Musuh Negara: Ketika Pers Menjadi Penjaga Nurani Bangsa

Menjamurnya kelompok relawan Anies dengan berbagi nama dan identitas yang bermunculan saat ini adalah bukti nyata bahwa Anies punya magnet yang cukup besar. Dan ini tidak nampak pada tokoh-tokoh lain.

Ada yang tak suka, itu pasti. Tidak ada tokoh di dunia ini yang disukai semua orang. Nabi sekalipun, tidak semua orang suka. Tuhan aja ada yang menolak kehadiran-Nya, apalagi manusia. Ini bukan analogi, jangan salah paham. Tapi ini menegaskan bahwa setiap manusia, ada yang suka, dan ada yang tak suka. Itu wajar saja kok.

Saya pribadi salut, Kelebihan Anies di antaranya tidak pernah bereaksi dengan kebencian orang lain kepadanya. “Dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang”. Prinsip ini benar-benar menjadi karakter Anies dalam keseharian.

Kelebihan lain, setiap yang salah paham dan bahkan membencinya, sekali bertemu dan diajak komunikasi, lalu berubah sikap. Mungkin sikap lapang ini yang membuat Anies bisa merangkul semua pihak, termasuk yang semula tidak menyukainya.

Tidak semua dengan mudah untuk tersenyum kepada orang yang menyerang kita. Apalagi mendatangi rumahnya. Dan Anies bisa melakukan itu. Anies datang ke rumah Remy Sylado, seseorang yang kita semua tahu, pernah kurang positif pandangannya terhadap Anies Baswedan. Akhirnya, Berbuah Persahabatan.

Selain integritas, kapasitas dan prestasi kerja, pola komunikasi Anies yang lembut, santun dan pemaaf, saya rasa ikut memberi kontribusi terhadap kharismanya. Anies tak hanya mampu menyentuh otak, tapi juga hati masyarakat dengan emosinya yang stabil.

Jika dirasionalkan, mungkin ini rahasia dari kharisma Anies yang sedang digandrungi rakyat. Jika situasi ini bertahan, saya pikir Anies akan menjadi rebutan tidak saja kelompok masyarakat, tetapi juga akan tambah banyak partai politik dan para pemodal untuk sama-sama membangun bangsa dan negeri ini. Semoga saja Bangsa ini semakin bermartabat.

Bumi Serambi Mekkah, 15 Juni 2023

Share :

Baca Juga

OPINI

Istilah “Londo Ireng” Kembali Mencuat, Aktivis Soroti Praktik Neokolonialisme di Era Modern

OPINI

Ketika Keramaian Bukan Jaminan Kebenaran

OPINI

Belajar dari Malikussaleh: Mengapa Peradaban Besar Sulit Kita Warisi?

BERANDA

Dikritisi Tajam: 8 Langkah Kontroversial Gianni Infantino yang Dinilai Jauhkan FIFA dari Semangat Sportivitas

OPINI

Jejak Budaya Lhokseumawe dari Masa ke Masa

BERANDA

“Fifanic” Viral, Kasparov dan Mourinho Kecam FIFA Usai Gol Mesir Dianulir di Laga Kontra Argentina

BERANDA

Dua Putra Aceh di Balik Radio Rimba Raya yang Melawan Propaganda Belanda

EDUKASI

Insinyur Hebat Lahir dari Karakter yang Kuat.