MEDIALITERASI.ID | MEDAN – Di balik pagar tinggi Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan, ratusan santri duduk khusyuk mendengarkan sosok yang tak asing bagi dunia deradikalisasi nasional. Ustaz Rony Syamsuri Lubis. Mantan narapidana terorisme yang kini menjadi ujung tombak penyebaran nilai-nilai kebangsaan ini berbicara lantang soal bahaya paham radikal dan intoleransi di kalangan remaja.
“Santri itu polos. Mereka sedang mencari jati diri, sosok panutan, dan ideologi yang mereka anggap benar. Di sinilah mereka menjadi sasaran empuk kelompok radikal,” ujar Ustaz Rony dalam paparannya bertajuk
“Mengimplementasikan Nilai-Nilai Pancasila Guna Mencegah Penyebaran Paham Radikal dan Intoleransi”, Sabtu siang itu.
Didampingi Ustaz Rudiansyah selaku perwakilan pimpinan pondok, Ustaz Rony menguraikan bagaimana ideologi terorisme bisa menyusup lewat celah-celah persoalan sosial. Ketimpangan ekonomi, pendidikan kebangsaan yang rendah, hingga kekecewaan terhadap pemerintah menjadi titik lemah bangsa yang kerap dimanfaatkan oleh penyebar paham ekstrem.
“Ketika keadilan tidak dirasakan, narasi kekerasan menjadi pintu masuk. Ketidakadilan itu subur bagi radikalisme,” ujarnya dengan nada tegas namun reflektif.
Perjalanan Ustaz Rony sendiri bukan tanpa luka. Ia mengingat dengan jelas detik-detik penangkapannya sebagai pelaku teror. “Itu titik balik saya. Saya sadar, ada kekuatan asing yang ingin membuat Indonesia tidak stabil. Mereka tidak perlu menyerang dengan senjata, cukup menyusupkan ideologi,” tuturnya.
Kini, sebagai Ketua Ex-Ternal (Ex-Terrorist Internal Alliance) wilayah Sumatera Utara, Rony menjadikan pengalamannya sebagai alat untuk menyadarkan generasi muda. Ia menekankan bahwa Pancasila adalah jawaban paling ampuh menghadapi infiltrasi ideologi asing yang merusak.
“Pancasila mencakup spiritualitas, toleransi, adab, nasionalisme, demokrasi, hingga pemerataan keadilan. Nilai-nilai ini jika ditanamkan kuat, tidak akan ada celah bagi paham radikal,” katanya.
Di akhir sesi, Ustaz Rony menyuarakan harapan besarnya kepada para santri dan generasi muda di Kota Medan untuk ikut menjadi bagian dari benteng bangsa.
“Jangan hanya hafal Pancasila, tapi tanamkan dalam hati. Jadilah generasi yang cinta damai dan cinta tanah air,” pungkasnya.
Pesantren hari itu tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tapi juga medan tempur sunyi bagi perjuangan ideologis yang lebih besar, menjaga Indonesia tetap damai dan utuh dalam bingkai Pancasila. (Tim)







