Geladak kapal induk USS George Washington yang tengah berpatroli di Sekat Hormuz. Foto: CENTCOM
JAKARTA, Medialiterasi.id — Amerika Serikat mulai mengawal secara langsung kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal pengangkut gas alam cair (LNG) dari Qatar. Hasilnya, pengiriman LNG melalui selat tersempit paling vital di dunia itu pada September 2026 mencapai volume tertinggi sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026.
Namun pemulihan lalu lintas energi itu belum menjadi sinyal perang akan berakhir. Diplomasi Washington-Teheran masih buntu dan risiko eskalasi militer justru meningkat.
Sistem Pengawalan Udara, Bukan Kapal-ke-Kapal
Pengawalan AS tidak berarti setiap tanker LNG dikawal satu kapal perang. Sistem perlindungan yang diterapkan Washington bersifat koridor.
Sejak Mei 2026, AS memberikan perlindungan berbasis udara di jalur selatan Selat Hormuz dekat pantai Oman. Pemilik kapal mendapat panduan rute melalui pusat koordinasi Angkatan Laut AS. Sejak awal September, perlindungan itu diperketat menjadi dua _time slot_ khusus per hari setelah maraknya serangan terhadap kapal yang berlayar malam.
Sistem ini vital bagi Qatar. Hampir seluruh ekspor LNG Qatar dari terminal Ras Laffan harus melewati Hormuz sebelum menuju pasar Asia dan Eropa.
Data S&P Global Energy yang dikutip Reuters mencatat, sebanyak 19 kargo LNG berhasil keluar dari Hormuz sepanjang September, terdiri dari 13 kargo dari Qatar dan 6 dari Uni Emirat Arab. Data Kpler bahkan mencatat 21 kargo, naik dari 15 kargo pada Juni. September menjadi bulan tersibuk bagi LNG di Hormuz sejak perang pecah.
Beberapa kapal milik QatarEnergy seperti Al Kharaitiyat, Al Gharrafa, Al Shamal, dan Al Samriya terpantau kembali melintas dan membongkar muatan di India, termasuk di Pelabuhan Hazira.
Fenomena ‘Dark Transit’ di Hormuz
Lalu lintas belum normal. Sebagian tanker melakukan dark transit dengan mematikan Automatic Identification System (AIS) agar tidak terlacak.
Al Kharaitiyat misalnya, hilang dari radar di Hormuz pada 22-23 September dan baru muncul sepekan kemudian di lepas pantai barat India. Al Gharrafa juga menghilang pada 23-24 September dan baru terdeteksi lagi di India pada 30 September.
Fenomena ini mengindikasikan data AIS publik tidak menggambarkan aktivitas sebenarnya di Selat Hormuz.
Analis Senior S&P Global Energy, Eric Yep, menilai keberlanjutan arus LNG saat musim dingin tergantung pada dua hal: apakah konvoi di bawah perlindungan AS bisa terus dipertahankan, dan apakah Iran akan meningkatkan serangan saat melihat ekspor terus bertambah.
S&P memperkirakan, jika laju paruh kedua September bisa dipertahankan sepanjang Oktober, transit LNG baru pulih sekitar 25% dari level sebelum perang. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati selat yang memisahkan Iran dan Oman ini.
Risiko masih nyata. Reuters melaporkan tiga tanker berbendera Liberia terkena proyektil saat melintas di akhir September.
Paradoks Hormuz dan Buntu Diplomasi
Di tengah pemulihan terbatas itu, perang belum usai. Gencatan senjata 8 April hanya mengakhiri fase intensif 40 hari, namun bentrokan sporadis terus terjadi. Kapal induk USS George Washington kini menjadi pusat kekuatan AL AS di kawasan menggantikan USS Abraham Lincoln.
Di jalur diplomasi, Qatar memainkan peran ganda: sebagai eksportir LNG dan mediator Washington-Teheran.
Pada akhir September, Iran mengajukan proposal tujuh hari untuk membangun kembali kepercayaan, dengan tawaran membuka kembali Hormuz dan konsesi program nuklir dengan sejumlah syarat. Presiden AS Donald Trump awalnya menolak, namun perundingan terus berjalan melalui shuttle diplomacy Qatar.
Pada 30 September, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menerima tanggapan AS melalui Qatar. Sumber diplomatik menyebut kebuntuan kini bukan pada substansi, melainkan pada _sequencing_ atau urutan pelaksanaan. Iran meminta jaminan dari Washington sebelum membuka Hormuz penuh, sementara AS meminta Iran bergerak lebih dulu soal keamanan pelayaran dan nuklir.
Harga Minyak Kembali di Atas US$100
Ketidakpastian itu langsung mengerek pasar. Kontrak Brent Desember pada 1 Oktober ditutup di US$102,31 per barel, melonjak 4,37%, sementara WTI naik 2,71% menjadi US$92,87 per barel setelah laporan penambahan kekuatan militer AS di Timur Tengah.
Survei Reuters akhir September merevisi proyeksi rata-rata Brent 2026 menjadi US$89,05 per barel.
Inilah paradoks Hormuz saat ini: semakin berhasil AS menjaga kapal tetap berlayar, semakin kecil tekanan ekonomi bagi Washington untuk berdamai, namun semakin besar pula dorongan bagi Teheran untuk membuktikan kendalinya atas selat belum hilang.
Untuk sementara, Hormuz mulai hidup, tapi belum normal. Perang belum berakhir, perdamaian belum tercapai. (Reuters/S&P Global Energy/Kpler/Ayd)







