Kisah Musliadi Bin Teungku Rusli, Ketua KAGEMPAR asal Abdya yang gugur pada 7 Desember 2002 setelah diculik di Banda Aceh. Sosok di balik film The Black Road bersama William Nessen
MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH — Cahaya itu padam terlalu cepat. Namun cahayanya tetap harum di bumi Aceh.
Dua puluh tiga tahun silam, seorang pemuda 25 tahun memilih tidak diam saat kezaliman merajalela. Namanya Musliadi Bin Teungku Rusli, putra Aceh yang menjadikan kebenaran sebagai senjatanya.
“Some souls do not live long, but they burn brighter than a thousand stars. They do not conquer lands, but they win something far greater: the people’s love.”
Kalimat itu tepat untuk menggambarkan Musliadi.
Lahir untuk Rakyat
Musliadi lahir pada 10 November 1977 di Gampong Alue Sungai Pinang, Blang Pidie, Aceh Selatan, yang kini masuk Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Ia adalah putra dari Teungku Rusli dan Umi Salma.
Sejak kecil, ia berbeda. Bukan karena mencari pujian, melainkan karena mampu merasakan luka orang lain seolah lukanya sendiri. Cerdas, lembut, namun berani.
Ia menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Namun di balik buku-buku ekonomi, hatinya tetap tertambat pada gampong-gampong, pada rakyat yang menderita di tengah konflik.
Di usia yang sangat muda, amanah besar itu datang di pundaknya: Ketua KAGEMPAR – Koalisi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Aceh Barat.
Baginya, ilmu memiliki makna lain:
“Ilmu bukan untuk dipajang di dinding, ia adalah pelita bagi yang tertimbun kegelapan.”
The Black Road dan Panggilan Jenewa
Musliadi tidak pernah memegang senjata api. Yang ia genggam jauh lebih tajam: kebenaran, keberanian, dan pembelaan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).
Bersama sahabatnya, jurnalis asal Amerika William Arthur Nessen, ia menyusuri jalan-jalan paling berbahaya di Aceh pada masa konflik. Merekam kenyataan yang tak semua orang berani melihat. Dari perjalanan itu lahir karya monumental: film dokumenter “The Black Road” yang memperdengarkan rintih Aceh ke seluruh dunia.
Keberanian itu membuka pintu dunia. Musliadi diundang ke Jenewa, Swiss, untuk duduk di meja perundingan antara GAM dan Pemerintah RI, sebagai suara generasi muda Aceh. Ia bersiap pergi, membawa harapan ribuan pemuda yang mendambakan perdamaian.
“Ureung Aceh tidak akan takut bicara keu benaran, tapi takut diam saat melihat kezaliman merajalela.”
Diculik Menjelang Berbuka
Namun takdir menulis lain.
Pada 30 November 2002, menjelang waktu berbuka puasa, sekelompok orang tak dikenal bersenjata menyerbu Sekretariat KAGEMPAR di Lampriek, Banda Aceh. Mereka menculik Musliadi. Membawanya pergi. Hilang.
“Angin berhembus membawa kabar yang getir, langit memerah menahan duka yang tak terucap.”
Selama tujuh hari tujuh malam, doa dipanjatkan keluarga, sahabat, dan seluruh rakyat yang mengenalnya.
Hingga pada 7 Desember 2002, kabar duka itu datang menghantam. Musliadi ditemukan tak bernyawa di Seunapet, Lembah Seulawah, Aceh Besar. Usianya baru 25 tahun.
Jenazahnya disemayamkan di Gampong Lambarih Jurong Raya, Aceh Besar, tanah kelahiran ayahnya. Ribuan orang datang, menunduk dalam diam, melepas seorang putra yang memilih berjuang meski tahu harganya adalah nyawa.
Teladan yang Tak Pernah Mati
Musliadi tidak pernah sampai ke Jenewa. Tetapi suaranya sudah terdengar di mana-mana.
Ia membuktikan kebenaran lebih kuat dari ketakutan. Ia menjadikan HAM sebagai senjata paling mulia untuk melindungi yang lemah. Ia menjembatani Aceh dengan dunia.
“Maut di jalan kebenaran bukanlah kehilangan, itulah kemenangan yang tak bisa dirampas siapapun.”
“Jangan tanya ke mana ia pergi, lihatlah cahaya yang ia tinggalkan. Jangan tangisi yang telah berlalu, jadilah kelanjutan perjuangannya.”
Alm Musliadi Bin Teungku Rusli – putra Aceh, sahabat kebenaran, syuhada kemanusiaan. Ia meninggalkan dunia fana menuju akhirat yang kekal dalam menegakkan kebenaran dan keadilan bagi rakyat Aceh.
Namun namanya tidak tertimbun tanah. Ia hidup di setiap suara lantang yang membela kebenaran.
Semoga Allah SWT menempatkannya di surga-Nya yang paling indah, di antara para syuhada dan orang-orang yang diridhai-Nya. Al-Fatihah. (*)







