MEDIALITERASI.ID | JAKARTA — “Sakitnya tuh disini” — mungkin itu yang dirasakan Harimau Malaya. Sudah menang 6-0 atas Singapura di Si Jalak Harupat, tampil tanpa kebobolan di fase grup dengan total 9 gol, namun tetap harus pulang.
Di sisi lain, Indonesia menang dramatis 9-2 atas Bangladesh di SUGBK lewat dua gol di injury time — Kevin Diks 90+6′ dan Mitchell Baker 90+7′ — sehingga unggul produktivitas gol 11 vs 9.
Ini bukan soal siapa lebih hebat, tapi soal regulasi. Pasal 10 Regulasi FIFA ASEAN Cup 2026 menyebutkan jika poin sama, penentu adalah produktivitas gol.
Pesan Sportivitas:
1. Fair Play: Menang 6-0 adalah prestasi luar biasa. Malaysia tampil berjuang tanpa kebobolan, patut diapresiasi.
2. Empati: Kekalahan karena selisih produktivitas gol itu berat. Rasakan perjuangan Harimau Malaya yang sudah berusaha maksimal.
3. Respek: Sepakbola ASEAN adalah tentang persaudaraan. Menang/kalah tetap saudara.
Seperti tagline di poster: “Menang 6-0 adalah prestasi, Kalah selisih gol adalah takdir sepakbola – Tetap Respect Harimau Malaya”
Mari jadi suporter bijak!?







