Home / EDUKASI / OPINI

Jumat, 3 Juli 2026 - 23:16 WIB

Insinyur Hebat Lahir dari Karakter yang Kuat.

Oleh: Dr. Bukhari, M.H., M.H- Pengajar Mk Pendidikan Pancasila.

Di tengah derasnya arus revolusi industri, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan transformasi teknologi global, dunia membutuhkan lebih dari sekadar lulusan yang cakap secara teknis. Industri memang membutuhkan tenaga kerja yang mampu merancang, mengelas, memproduksi, dan memecahkan persoalan rekayasa. Namun, bangsa ini membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu manusia yang memiliki karakter kuat, integritas tinggi, dan kecintaan kepada tanah air.

Di sinilah Pendidikan Pancasila menemukan relevansinya.

Banyak orang masih memandang mata kuliah Pendidikan Pancasila sebagai mata kuliah pelengkap, sekadar memenuhi kewajiban kurikulum. Padahal, di balik lima sila yang sering dihafal, tersimpan nilai-nilai fundamental yang menjadi fondasi lahirnya profesional yang beretika. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang dikuasai seseorang, tanpa karakter yang kokoh, ilmu tersebut dapat kehilangan arah bahkan berpotensi menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Pengelasan dan Fabrikasi Politeknik Negeri Lhokseumawe adalah calon-calon insinyur dan tenaga profesional yang kelak akan berkontribusi dalam pembangunan nasional. Mereka akan bekerja di sektor energi, konstruksi, manufaktur, perkapalan, hingga industri strategis lainnya. Bidang-bidang tersebut bukan hanya membutuhkan ketelitian teknis, tetapi juga kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan komitmen terhadap keselamatan kerja.

Dalam dunia rekayasa, satu kesalahan kecil dapat berakibat fatal. Sambungan las yang dikerjakan tanpa standar mutu dapat menyebabkan runtuhnya konstruksi. Material yang dipilih karena praktik korupsi dapat mengancam keselamatan banyak orang. Laporan pengujian yang dimanipulasi demi keuntungan sesaat dapat berujung pada bencana kemanusiaan. Semua itu menunjukkan bahwa persoalan terbesar bukan selalu kurangnya kemampuan, melainkan lemahnya karakter.

Baca Juga  HARUSKAH BANGSA INI MEMBIARKAN PEREMPUAN BERJUANG SENDIRI UNTUK MENUNTUT HAKNYA?

Karena itu, Pendidikan Pancasila sejatinya mengajarkan bahwa profesionalisme tidak cukup diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kualitas moral. Nilai Ketuhanan membentuk insan yang jujur dan amanah. Nilai Kemanusiaan menumbuhkan kepedulian terhadap keselamatan dan martabat manusia. Nilai Persatuan mengajarkan pentingnya kolaborasi dalam tim kerja yang majemuk. Nilai Kerakyatan melatih kemampuan bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Adapun nilai Keadilan Sosial mendorong setiap profesional agar menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi seluruh masyarakat.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Perguruan tinggi setiap tahun meluluskan ribuan sarjana teknik, insinyur, dan tenaga ahli. Namun, bangsa ini masih menghadapi berbagai persoalan seperti korupsi, manipulasi proyek, rendahnya budaya keselamatan kerja, serta pelanggaran etika profesi. Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa kecerdasan tanpa karakter hanya akan melahirkan profesional yang kehilangan arah.

Di era digital, tantangan moral semakin kompleks. Kemajuan teknologi memungkinkan pekerjaan dilakukan lebih cepat, tetapi juga membuka ruang bagi penyalahgunaan data, manipulasi informasi, hingga praktik-praktik tidak etis dalam dunia industri. Oleh sebab itu, pendidikan karakter tidak boleh berjalan di belakang perkembangan teknologi, tetapi harus menjadi pengendali utama agar kemajuan benar-benar membawa kemaslahatan.

Penutupan perkuliahan Pendidikan Pancasila bukanlah akhir dari proses pembelajaran. Justru inilah awal dari ujian sesungguhnya. Nilai yang diperoleh di ruang kuliah hanyalah angka akademik, sedangkan nilai yang akan dikenang masyarakat adalah kejujuran dalam bekerja, tanggung jawab terhadap profesi, kemampuan menjaga amanah, serta keberanian menolak segala bentuk penyimpangan.

Baca Juga  Banjir Aceh 2025: Ujian Kemanusiaan, Peringatan Ilahi, dan Seruan Berbenah

Sebagai dosen pengampu Mata Kuliah Pendidikan Pancasila di Program Studi Teknologi Rekayasa Pengelasan dan Fabrikasi Politeknik Negeri Lhokseumawe dan beberapa prodi lain dinjurusan tekhnik, saya berharap setiap mahasiswa tidak hanya membawa pulang transkrip nilai, tetapi juga membawa pulang kompas moral yang akan membimbing setiap langkah pengabdian mereka kepada bangsa.

Seorang insinyur sejati tidak hanya membangun jembatan, gedung, kapal, atau instalasi industri. Ia juga membangun kepercayaan publik. Ia menjaga keselamatan manusia. Ia menghormati etika profesi. Ia menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan.

Pada akhirnya, kemajuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin, kecerdasan teknologi, atau besarnya investasi. Masa depan bangsa justru sangat ditentukan oleh kualitas karakter orang-orang yang mengoperasikannya. Sebab, teknologi dapat diciptakan oleh manusia, tetapi karakter lah yang menentukan ke mana teknologi itu akan diarahkan.

Maka, marilah kita terus mengingat satu prinsip sederhana namun sangat mendalam: insinyur hebat tidak hanya lahir dari kecerdasan berpikir, tetapi juga dari karakter yang kuat. Dari karakter itulah akan lahir profesional yang tidak hanya mampu membangun infrastruktur, tetapi juga mampu menjaga martabat bangsa Indonesia.

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Minggu Pertama Sekolah: Jangan Terburu Mengejar Materi, Bangunlah Fondasi Belajar yang Akan Bertahan Setahun

ACEH

Bupati Al Farlaky Tinjau Lokasi Pembangunan SDN Sarah Gala

ACEH

Bupati Al-Farlaky Luncurkan Aplikasi Si AZIS 

ACEH

Bupati Al- Farlaky Buka Pelatihan Pupuk Organik 

BERANDA

Ini Kotor, Ini Sampah!” Ucapan Warek UNY ke Mahasiswa Soal Spanduk MBG Viral, Picu Debat Kebebasan Ekspresi di Kampus
afkar

EDUKASI

Menjaga Ekosistem Laut melalui Riset dan Pendidikan Berkelanjutan

BERANDA

Polemik Latsarmil SPPI Pecah Usai 5 Peserta Meninggal, DPR Minta Evaluasi Kurikulum Calon Manajer Koperasi Merah Putih
yudisium magister PAI Universitas Islam Aceh

BERITA

Bukan Sekadar Hafal Teori, Lulusan Pascasarjana UIA Dituntut Jaga Integritas dan Moral