MEDIALITERASI.ID | LHOKSEUMAWE — Dalam rangka meningkatkan kompetensi akademik, vokasi, serta pembentukan karakter siswa, Dinas Pendidikan Aceh mengeluarkan Surat Edaran Nomor 400.3.8/5936 Tahun 2025 tentang Pengendalian Aktivitas Murid di Malam Hari. Surat edaran ini ditujukan khususnya untuk jenjang Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus.
Kebijakan ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Aceh terhadap maraknya kenakalan remaja yang terjadi pada malam hari, sekaligus sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Menanggapi hal ini, Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd., seorang akademisi sekaligus pemerhati pendidikan dari Universitas Malikussaleh menyampaikan bahwa imbauan ini seharusnya tidak hanya ditujukan kepada orang tua atau wali siswa saja, melainkan juga kepada masyarakat luas.
“Banyak siswa yang berkumpul di warung kopi atau café pada malam hari bukan untuk belajar, tetapi untuk bermain game, bahkan terindikasi bermain judi online. Ini sudah menjadi kebiasaan yang dibiarkan tanpa kontrol sosial dari masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Menurutnya, pengelola café, warkop, serta aparat seperti Satpol PP dan pihak kepolisian perlu dilibatkan untuk menertibkan aktivitas malam siswa yang tidak bermanfaat.
“Sangat sedikit siswa yang memanfaatkan akses internet di café untuk belajar. Kebanyakan justru menghabiskan waktu untuk hiburan, tanpa ada pengawasan,” tambahnya.
Juni juga mengingatkan tentang pentingnya peran masyarakat dalam membentuk karakter generasi muda. Ia menyoroti lunturnya kontrol sosial di lingkungan sekitar.
“Dulu, jika ada anak tidak mengaji atau bolos sekolah, tetangga akan menegur. Kini, hal itu sudah jarang terjadi. Semua menjadi serba individual,” katanya.
Ia mengkhawatirkan munculnya apa yang disebut sebagai “Generasi Strawberry” — generasi yang kreatif dan penuh ide, namun rapuh saat menghadapi tekanan. “Mereka tampak indah di luar, tapi mudah hancur di dalam,” ujar Juni.
Di akhir pernyataannya, ia berharap generasi muda Aceh ke depan mampu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, beretika, dan siap bersaing secara global.
“Masyarakat Aceh harus siap menjawab tantangan abad ke-21, yakni bagaimana mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental dan moral,” tutupnya. [JA]







