![]()
Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Pengamat Sosial pada USK, Banda Aceh
Para Pembaca Media Yang Mulia !
Tadi Sore sehabis shalat ashar, saya mencoba membuka Email institusi yang telah lama tak pernah saya buka lagi karena sedang malas aja. Bukan apa-apa kok, saya hanya malas saja untuk membuka emailnya, apalagi email yang masuk hanya promosi dan tawaran untuk mengirimkan hasil penelitian yang bisa dipublish di Jounal Internasional.
Atau Saya pikir, paling-paling isi emailnya yang masuk hanya berupa “permintaan maaf dari mahasiswa yang tidak atau belum menyelesaikan tugas mata kuliah yang saya berikan atau mereka telat mengirimkan tugas berdsasarkan jadwal yang telah ditentukan dengan alasan sinyal internet lemah”, tidak tahu kapan harus dikirimkan atau memang mereka malas membaca pengumuman yang telah saya publish di media ini.
Pokoknya, macam-macam dech, alasan yang dibuat oleh mahasiswa zaman milinial ini. Guru saya dulu, pernah bilang begini : “Jika orang malas akan mencari seribu alasan untuk menyelesaikan satu persoalan, sedangkan orang rajin, akan mencari satu cara untuk menyelesaikan banyak persoalan.” Wallahu Aklam.
Padahal setiap tugas mata kuliah yang saya berikan kepada para mahasiswa, selalu tersedia waktu baginya untuk menyelesaikan tugas tersebut, selama 2 sampai 4 minggu lebih. Ya, begitulah, sikap mahasiswa saya yang amat terpelajar. Saya juga tak tahu, entah mengapa itu bisa terjadi?.
Mungkin juga karena saya telah gagal dalam membentuk karakter mahasiswa untuk dapat menghargai waktu, menghormati orang lain dan menjadikan mereka sebagai insan yang sukses. Bahkan terakhir ini mereka acapkali bersikap tak santun, jika pun saya tidak ingin mengatakan mereka “kurang ajar”. Sudahlah … tidak penting lagi kok itu untuk dibahas. Biarkanlah, semoga semua itu akan menjadi catatan sejarah dan kenangan indah dalam hidup ini – saat saya menjadi salah seorang pendidik di negeri ini.
Tapi entah mengapa tadi sore, saya ingin membuka email, ternyata ada beberapa email yang masuk, seperti email dari adik sepupuku yang sedang berlibur dan lagi asyik mempersiapkan diri untuk menonton film bersama teman-temannya, yang dikirimkan juga foto cantiknya.
Selain itu, ada juga beberapa email dari sahabat-sahabat saya lain yang sama-sama dulu kami pernah bersama dalam menempuh pendidikan doktor, dia memintakan saya untuk menuliskan beberapa artikel ilmiah untuk dimuat di Jurnal Interrnasional Bereputasi dan Jurnal Nasional Terakreditasi, dan ada juga yang meminta kesediaan saya untuk menjadi pembimbing atau promotor disertasi mereka yang sedang menempuh pendidikan doktor di Kota Medan.
Ya semua itu, telah saya balas dan saya ucapkan terimakasih, karena mereka masih tidak pernah melupakanku – meskipun kami sudah relatif lama tak pernah bertemu. Nah, di celah-celah email itu, ternyata ada sebuah Email yang dikirimkan oleh Seorang Siswa Sebuah Sekolah SMA Negeri di Kota tempat saya bermukim, yang isinya sangat menyentuh hati dan menarik juga untuk dibaca, dicermati dan dipahami dengan hati yang suci oleh setiap orang yang berprofesi sebagai guru dan berhati mulia.
Walaupun tulisan dan Email ini dari seorang anak remaja (sangat subyektif), namun bila dibaca dengan lapang dada merupakan kritik yang cukup mengena bagi profesi kita sebagai seorang guru, calon guru atau bahkan Dosen Sekalipun. Ya dech – dari pada saya baca untuk sendiri saja, saya pikir alangkah lebih indah, mulia dan bijak jika saya ikut berbagi kepda Saudara-saudaraku melalui postingan hari ini.
Apalagi postingan saya di media ini sebelumnya atau kamarin juga berkisar dan bertemakan : “Pak, Izinkanlah, Aku Untuk Membencimu”. Saya hanya berharap tulisan anak remaja tersebut dapat membantu kita untuk berusaha agar menjadi ‘guru yang terbaik’, tentu saja guru yang diidamkan oleh anak didik kita. Berikut ini – isi dan Judul Emailnya. Selamat Membaca, Semoga Berkah.
MAAFKANLAH AKU UNTUK MEMBENCIMU BAPAK DAN IBU GURU
PERTAMA, Aku benci guruku yang selalu menghadap papan tulis, membelakangi kami atau melihat ke buku selama mengajar.
KEDUA, Aku benci guruku yang hanya memberi setumpuk catatan, dengan mendekte dan setumpuk ulangan yang susah, tanpa pernah menjelaskan isi materinya.
KETIGA, Aku benci guruku yang memberikan materi atau soal latihan secara teoritis, tanpa pernah menerapkannya dalam contoh-contoh atau praktek dalam kehidupan kami sehari-hari.
KEEMPAT, Aku benci guruku yang menghabiskan jam-jam pelajaran hanya untuk ceramah soal hal-hal kecil saja. Tanpa berusaha untuk menambah materi pelajaran. Padahal kami harus mengikuti ujian dan melanjutkan studi.
KELIMA, Aku benci guruku yang malas masuk kelas, selalu bilang sibuk, sibuk, dan hanya hadir saat akan memberi ulangan atau ujian saja. Padahal tiap hari nongrong di kantin atau sibuk di ruang kerja.
KEENAM, Aku benci guruku yang tidak pernah mau menyelesaikan masalah dengan murid, hobinya main panggil orang tua saja. Dasar guru tak cerdas membangun komunikasi dengan anak didiknya sendiri.
KETUJUH, Aku benci guruku yang suka pamer kekayaan, kepintaran, kehebatan, dan lain-lain sebagainya. Padahal untuk masuk mengajar malas, dan mereka asyik duduk di ruang guru saja sambil bercanda dengan teman-temannya. Atau Sibuk Selfi sana, selfi sini.
KEDELAPAN, Aku sangat benci guruku yang suka pilih kasih, tanpa berlaku adil. Ada yang murid disayang, dipuji dan lebih banyak murid yang sangat dibenci.
KESEMBILAN, Aku sangat benci guruku laki-laki yang suka main cewek dan mengganggu guru perempuan lain. (Woowww … Hhhhhhmmmmm… Tapi Saya kan tidak seperti ini lho. Haha).
KESEPULUH, Aku benci guruku yang cuma bisa memberi soal latihan dari buku cetak saja, tidak mau berusaha mencari dari buku lain atau membuat soal sendiri yang lebih berbobot dan berkualitas.
KESEBELAS, Aku benci guruku yang mengoreksi jawaban essay dengan melihat panjang atau pendeknya tulisan. Sangat tidak adil, tanpa membaca alasan dan logika yang dituliskan murid.
KEDUABELAS, Aku sangat benci guruku yang memberi terlalu banyak humor tak berbobot – dan yang tidak berhubungan sama sekali dengan materi mata pelajaran yang diajarkan, apalagi jika dia tidak bisa menenangkan kelas kembali supaya siap melanjutkan pelajaran. Sehingga dengan kondisi seperti itu murid yang ingin belajar serius dalam kelas sebelah juga sangat terganggu.
KETIGABELAS, Aku benci guruku yang tidak mau dikritik. Seakan-akan dialah malaikat suci yang tak pernah berbuat salah. Astargfirullahal Adhiem.
KEEMPATBELAS, Aku benci guruku yang sangat banyak melakukan salah koreksi hasil ujian atau tugas siswa karena tidak teliti. Sehingga nilai siswanya kacau dan terkesan main-main.
KELIMABELAS, Aku benci guruku yang lebih suka memberi jawaban pertanyaan siswa sekenanya, jika murid mengajukan pertanyaan tentang materi yang masih kurang dipahami. (Biasanya jawabannya salah lagi…) pada murid yang bertanya daripada menjawab keesokan harinya dengan terlebih dahulu mencari jawaban yang benar apabila dia tidak yakin pada jawabannya. Berlagak sok pintar dan sombong, padahal jawabannya Salah Melulu.
KEENAMBELAS, Aku benci guruku yang berdandan seperti preman pasar, artis dangdut, gadis cafe, korban tsunami dan macam-macam dech gayanya. Sungguh memalukan hati ini jika melihat tingkahnya.
KETUJUHBELAS, Aku benci guruku yang menutup diri dari pergaulan dan berdiskusi dengan sesama guru. Seakan-akan dialah guru yang terbaik dan terpandai di dunia ini.
KEDELAPANBELAS, Aku benci guruku yang memberi hanya dari otak sendiri saja, tanpa mau bekerja sama dengan guru lain yang bidang studinya sama.
KESEMBILANBELAS, Aku benci guruku yang sombong dan angkuh bila disapa saat kami bertemu di sekolah atau di pasar. Entah apa pula yang dibanggakan?
KEDUAPULUH, Aku benci guruku yang tidak berusaha mengenal nama-nama murid, hobinya nongkrong di ruang guru dan kalau memanggil murid cuma dengan sebutan yang itu, yang di pojok, yang berkacamata, yang hitam, yang rambutnya dikepang, atau yang jilbabnya besar, dan lain-lain. Sungguh tak mendidik cara seperti itu.
KEDUAPULUHSATU, Aku sangat membenci guruku yang menilai kecerdasan dan kebaikan murid dari prestasi di rapor saja, tanpa pernah untuk menghargai kerja keras, keseriusan dan keahlian lain dari masing-masing anak. Bukankah dalam belajar yang sangat dipentingkan adalah proses, daripada hasil ujian akhir atau semester?
KEDUAPULUHDUA, Aku benci guruku yang tidak bisa merawat fasilitas kelas, kursi dan meja belajarnya berantakan sehabis dia mengajar atau tidak mau mengisi catatan, jurnal kemajuan belajar kelas. Atau guru tersebut selalu menyuruh muridnya untuk mengisi setiap kegiatan belajar dan bimbingan dalam buku catatan.
DAN TERAKHIR, Aku Sangat Benci Guruku Yang merasa selalu ingin merasa dipentingkan, dikejar-kejar jika kita butuh dia atau orang yang bersikap sok hebat, jika kita ingin bertemu dan berkonsultasi dengannya, dengan berbagai alasan yang dibuat-buat dan tak mau melayani.
Bahkan menurut pikiranku sendiri guru seperti ini terkesan untuk menutupi kelemahan dan kebodohannya, makanya selalu menghindar jika ingin ditemui oleh muridnya. Entah kenapa? Mungkin saja dia takut, kelihatan dan ketahuan bodohnya ketika murid bertanya dan tak bisa dijawabnya. Hehe…
Terimakasih, Pak TM, karena telah bersedia menerima Emailku, semoga Bapak selalu dalam lindungan Allah SWT dan dapat membantu kami dan anak-anak negeri ini yang lain – untuk mendidik calon guru Mahasiswa/Mahasiswa Bapak di kampus agar mereka kelak menjadi guru yang lebih baik saat terjun ke dalam masyarakat.
Maaf, Pak TM Yang Saya Kagumi, Mungkin Bapak telah lupa tentang saya. Saya merupakan salah seorang siswa bimbingan Bapak ketika kami mengikuti bimbingan sebuah mata pelajaran dalam rangka kami mempersiapkan diri untuk mengikuti Olimpiade Nasional 2018 Yang lalu.
Alhamdulillah, atas bimbingan dan arahan Bapak, kami saat itu mendapat peringkat II Tingkat Nasional. Bapak jangan pernah bosan mendidik dan membimbing kami ya. Kami selalu butuh sentuhan dan pencerahan dari Bapak hari ini, besok dan selamanya. Dan syukur, bahwa saya saat ini juga telah menjadi seorang Mahasiswa di Sebuah Perguruan Tinggi Ternama di Medan. Itu semua berkat bimbingan, dorongan dan motivasi dari Bapak saat mengikuti pembelajaran di sebuah tempat beberapa tahun yang lalu. Terimakasih, Pak TM atas semua kebaikan itu. (Salam Hormat@Citra Putri Keumala)







