Home / EDUKASI

Jumat, 2 Desember 2022 - 08:08 WIB

Diplomasi Sejarah Cakra Donya: Potensi Kerjasama Unimal Dengan Republik Rakyat Tiongkok

Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo

– Aksara Hanji –

Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5. Demikian arti goresan aksara Hanji dibagian lonceng yang dibuat pada tahun 1409 M, dengan bahan besi berbentuk stupa. Tingginya mencapai 125 centimeter, serta memiliki lebar 75 centimeter. Itulah Lonceng Cakradonya

hadiah persahabatan dari Kaisar Yonglee yang berkuasa di daratan Tiongkok kepada Kerajaan Samudra Pasai. Sekitar tahun 1414 M, Kaisar Yonglee mengutus Laksamana Cheng Ho melawat ke Aceh untuk menjalin kerjasama dalam bidang keamanan dan perdagangan.

Kong Yuanzhi dalam buku “Muslim Tingkok, Cheng Ho” (2000), menyebutkan beberapa waktu setelah kerajaan Samudra Pasai menerima hadiah lonceng Cakra Donya, Kemudian Raja Zainul Abidin mengirim adiknya sebagai utusan kerajaan berkunjung ke Tiongkok.

Armada Cheng Ho menganggap Samudra Pasai sangat strategis. Kesultanan ini bisa menjadi tempat persinggahan setelah mengunjungi Jawa. Rute tetap Cheng Ho setiap melakukan ekspedisi adalah Suzhou (Tiongkok), Champa (Vietnam), Ayuttaya (Thailand), Majapahit (Jawa), Samudra Pasai (Aceh), baru kemudian bertolak ke kawasan barat hingga Afrika.

Saking pentingnya posisi Samudra Pasai, sampai-sampai Cheng Ho pernah membantu menumpas pemberontakan yang terjadi di kesultanan pertama di Nusantara tersebut. Pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin (1420-1428), kerajaan diserang pemberontak yang menyebabkan kekalahan di pihak Sultan.

Baca Juga  Peran Guru dan Dosen dalam Proses Pembelajaran

Kaisar Yonglee di Beijing pun tidak senang mendengar berita itu. Sebab, perubahan pemerintahan akan mengganggu hubungan baik yang dibangun sejak lama. Karena itu, dia memerintah Cheng Ho menumpas pemberontakan tersebut. Pihak pemberontak berhasil dikalahkan dan pimpinannya dihukum mati di Beijing.

Benang merah sejarah diatas merupakan potensi yang barangkali hanya dimiliki oleh Universitas Malikussaleh (Unimal) untuk bisa dimanfaatkan, terutama di tahun 2023 dimana Unimal dibawah kepemimpinan Rektor Profesor Herman Fithra memperoleh status BLU. Tentu dengan status BLU Unimal memiliki fleksibilitas untuk mengelola organisasi terutama dalam meningkatkan sumber dayanya dalam menyongsong era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)/AEC (Asean Economic Community) yang merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara dimana secara geografis dan geopolitik letak Unimal tetap berada pada posisi strategis persis sama pentingnya posisi dimasa lampau Kesultanan Samudera Pasai.

Meski Unimal diuntungkan geografis dan geopolitik, namun harus kita akui jika Unimal masih cukup tertinggal dalam hal Sumber Daya Manusia (SDM) maupun sarana dan prasarana dibandingkan dengan perguruan tinggi  yang letaknya dalam kawasan (regional) seperti Malaysia dan Singapura, dimana mereka telah siap dalam menyongsong pasar bebas Asia Tenggara.

Baca Juga  Insinyur Hebat Lahir dari Karakter yang Kuat.

Dalam mengatasi hal tersebut, salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan oleh Unimal adalah kerjasama dengan Tiongkok yang berdasarkan faktor sejarah lebih patut dijadikan mitra utama Unimal, ketimbang negara-negara lain. Selain faktor memiliki sejarah persahabatan yang panjang, kedua negara merupakan tetangga baik, teman baik, dan mitra baik. Di bawah kepemimpinan strategis kedua kepala negara (Jin Ping dan Jokowi) hubungan Tiongkok-Indonesia terus berkembang secara sehat dan stabil, menjadi model kerjasama yang baik diantara negara berkembang utama.

Adapun peluang yang bisa dimanfaatkan oleh Unimal adalah seperti yang ditegaskn oleh Tuan Zhang Min (Konsul Jenderal Tiongkok di Medan), bentuk kerjasama pertukaran persahabatan  dan kerjasama antara wilayah kekonsuleran (meliputi Provinsi NAD) dengan Universitas dan lembaga-lembaga di Tiongkok agar menjadi semakin erat dan bermanfaat guna memberikan kontribusi yang lebih besar dalam membangun komunitas  senasib umat manusia Tiongkok-Indonesia.

Pemerintah Tiongkok juga telah banyak membantu beasiswa pendidikan, disamping telah membuka prodi bahasa Indonesia di 34 Universitas di Tiongkok, begitu juga sebaliknya mereka berharap jika prodi bahasa Mandarin bisa lebih banyak dibuka di Universitas yang ada di Indonesia.

Demikian tulisan ini disampaikan, semoga bermanfaat kata ZI sebutan untuk Zulfadli Imard.

Reporter: JA | Photo: Ist | Editor: Endang

Share :

Baca Juga

Wisuda 227 Lulusan, UIA Berikan Apresiasi Prodi Unggul Hadiah Umrah

BERITA

Penguatan Mutu Menuju 2030, UIA Gelar Wisuda Angkatan XXXVIII di Kampus Paya Lipah

BUDAYA

Kritik Budaya Literasi Semu, Teuku Muhammad Jamil Ajak Ubah Kebiasaan Berbagi Tautan Jadi Berbagi Pemahaman

BERITA

Direktur PMMU Lepas Tiga Alumni untuk Lanjutkan Studi ke Universitas Al-Azhar Mesir
Pesona "Wasiet Pejuang": Mahasiswa MPI UIA Sabet Juara 1 Melukis Tingkat Universitas

EDUKASI

Lewat Karya “Wasiet Pejuang”, Rezha Affannur Bawa UIA Rajai Lomba Melukis Bireuen

BERITA

Meurasa HIMASOS Unimal, Satukan Mahasiswa Sosiologi Lintas Angkatan dalam Semangat Kekeluargaan

BERANDA

Resmi! Presiden Prabowo Salurkan BSU Rp900.000 untuk 13,3 Juta Pekerja Mulai Oktober 2026

BERANDA

Bukan Tanda Gila, Ini 7 Fakta Psikologis di Balik Kebiasaan Bicara Sendiri yang Jarang Diketahui

EDUKASI

Dari Penilaian ke Asesmen, dari Hukuman ke Disiplin Positif: Menguji Wajah Baru Pendidikan Indonesia