Ilustrasi Perang Iran vs Israel Foto Dok X @VividProwess
MEDIALITERASI.ID | TEHERAN — Konflik Iran-Amerika Serikat (AS) berpotensi meluas hingga ke Samudra Hindia yang berbatasan langsung dengan halaman belakang Indonesia. Ancaman itu dilontarkan langsung oleh petinggi militer Iran jika Washington kembali melancarkan serangan.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Yahya Rahim Safavi, memperingatkan bahwa Teheran telah menyiapkan skenario perluasan geografi perang. Peringatan tersebut dirilis kantor berita Fars Iran, Kamis (24/9/2026) waktu Teheran.
“Karena konflik telah menyebar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz ke Laut Merah, ada kemungkinan bahwa, sebagai respons terhadap perang yang lebih besar, garis depan akan meluas lebih jauh hingga mencapai Samudra Hindia dan mungkin lebih jauh lagi,” kata Safavi dikutip dari AFP.
Geografi Perang Berubah, Senjata Baru Disiapkan
Ancaman perluasan perang ke Samudra Hindia ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi pada Minggu (21/9/2026) juga menegaskan perubahan total strategi perang.
“Jika terjadi agresi baru, kami tentu akan mengubah persenjataan dan cakupan wilayah perang. Kami akan menghadirkan senjata-senjata baru dengan kemampuan baru di medan perang, dan dunia akan terkejut,” tegas Mohebbi.
IRGC juga menyebut telah menyiapkan target-target baru yang belum pernah diserang sebelumnya, termasuk infrastruktur energi, kabel komunikasi bawah laut, pangkalan militer AS di Suriah, Selat Bab al-Mandab, hingga jalur pelayaran di Teluk Oman dan Semenanjung Arab.
Markas Komando Pusat Khatam al-Anbiya Iran dalam pernyataan resmi di TV pemerintah IRIB, Senin (21/9/2026), mengklaim telah mengantongi intelijen bahwa AS akan kembali menyerang dengan lampu hijau sejumlah negara kawasan.
Indonesia Masuk Radius Ancaman?
Samudra Hindia merupakan jalur pelayaran vital yang berbatasan langsung dengan Aceh dan pantai barat Sumatera. Jika front baru benar-benar dibuka di Samudra Hindia, dampaknya akan langsung dirasakan Indonesia, baik dari sisi keamanan maritim, lonjakan harga minyak dunia, hingga gangguan logistik global.
Militer Iran juga mendesak Qatar mengusut nasib tiga pilot Iran yang hilang sejak operasi penyerangan pangkalan AS di Qatar pada 2 Maret 2026 lalu.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dalam wawancara Fox News (21/9/2026) masih melontarkan ancaman akan melumpuhkan ekonomi Iran jika tidak ada kesepakatan damai.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri RI belum memberikan pernyataan resmi terkait ancaman perluasan perang Iran ke Samudra Hindia tersebut. (*)
Sumber: AFP, Fars News, IRIB, Anadolu, http://Kompas.com







