MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo langsung terbang ke Aceh usai memimpin rilis pengungkapan penyelundupan 1,16 ton ketamine di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, Jumat (23/10/2026).
Di Aceh, Kapolri mengecek langsung laboratorium rahasia atau _clandestine lab_ narkotika terbesar di Indonesia yang baru saja dibongkar tim gabungan Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Kabupaten Pidie.
Lab tersebut disamarkan menjadi dua unit toko kelontong di Gampong Beureueh, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. Dari dalam ruko, petugas mengamankan barang bukti fantastis: 20 drum berisi sabu cair methamphetamine dan sekitar 500 kg sabu kristal siap edar. Total bruto mencapai 1,2 ton.
Terafiliasi Jaringan Internasional Golden Peacock
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, clandestine lab di Pidie ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan narkoba internasional lintas negara yang melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia dengan nama sandi jaringan Golden Peacock.
Kapolri menegaskan, pihaknya masih memburu sejumlah Daftar Pencarian Orang (DPO) dan akan berkoordinasi dengan Interpol China untuk menangkap pengendali utama.
“Tim saat ini masih memburu para DPO meliputi pengatur lapangan berinisial Z, ES, J, BR, SS serta berkoordinasi dengan NCB Interpol Tiongkok untuk menangkap pengendali utama, yaitu Saudara LS,” kata Kapolri saat konferensi pers di Aceh, Jumat (23/10/2026) dikutip dari http://detik.com.
Penyidik juga mengamankan enam unit ponsel dari lokasi penggerebekan untuk pendalaman digital forensik. Kapolri menegaskan akan menerapkan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) untuk memiskinkan para bandar.
Lima Tersangka di Pidie Diamankan
Dalam penggerebekan di Pidie, petugas mengamankan lima tersangka yakni berinisial LJ, F, MY, AK, dan AY. Mereka berperan sebagai peracik, penjaga, dan pengatur operasional lab.
Lokasi lab yang berada di tengah pemukiman padat, dekat sekolah dan masjid, membuat warga Beureueh geger. Polisi menyebut pemilihan lokasi di Aceh sengaja dilakukan untuk mengelabui petugas karena jauh dari pantauan.
Sebelumnya Bongkar 1,16 Ton Ketamine di Belawan Senilai Rp 3,48 Triliun
Sebelum ke Aceh, Kapolri memimpin konferensi pers pengungkapan 1,16 ton obat keras jenis Ketamine HCL senilai Rp 3,48 triliun dari kapal MT Global 168 di Dermaga Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan.
Dalam operasi di Belawan, aparat gabungan meringkus delapan awak kapal yang terdiri dari tujuh Warga Negara Indonesia (WNI) dan satu Warga Negara Asing (WNA) asal Taiwan.
“Delapan awak kapal ini terdiri dari 7 orang WNI dan 1 orang WNA asal Taiwan. Mereka memiliki peran masing-masing dalam mengoperasikan kapal,” ujar Kapolri.
Adapun peran para tersangka yakni:
– IC: Nakhoda / Kapten Kapal
– RS: Chief Officer
– JA: Chief Engineer (Kepala Kamar Mesin)
– IAE: Second Engineer (Masinis 2)
– JMR: Oiler (Juru Minyak)
– RF, DPB, dan YCY (WNA Taiwan): Able Seaman (Juru Mudi)
Pengungkapan bermula dari deteksi intelijen terkait anomali rute kapal MT Global 168 di perairan Selat Malaka yang melintasi Laut Andaman. Kapal berhasil dicegat di perairan Tanjungbalai Asahan dan dikawal ke Belawan. Dari penggeledahan ditemukan 58 karung berisi ketamine HCl, 1 unit kapal MT Global 168, serta 14 ponsel milik tersangka.
Kapolri menegaskan, rangkaian operasi besar dari Belawan hingga Pidie merupakan bukti keseriusan negara dalam memberantas sindikat narkoba transnasional yang menjadikan Aceh dan Sumatera Utara sebagai pintu masuk.
“Ini adalah perang kita bersama. Tidak ada tempat bagi sindikat narkoba internasional di Indonesia,” tegasnya. (*)
Penulis: Redaksi Medialiterasi.id
Editor: Ayahdidien







