Guru Besar USK Teuku Muhammad Jamil: Jangan Biarkan Jempol Mengalahkan Akal Sehat di Ruang Digital
MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Ilmuwan Politik, Akademisi dan Guru Besar Ilmu Sosial pada Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (SPs USK) Aceh, Teuku Muhammad Jamil, mengingatkan pentingnya mengembalikan esensi literasi di ruang digital yang kini terjebak pada budaya komentar instan dan pujian tanpa membaca.
Peringatan tersebut ia sampaikan dalam tulisan opini berjudul “Jangan Biarkan Jempol Mengalahkan Akal Sehat” yang diterima Medialiterasi.id, sebagai tanggapan atas kegelisahan pegiat literasi Aceh, Tabrani Yunis.
Menurut Teuku Jamil, gerakan literasi tidak bisa hanya diukur dari banyaknya tulisan yang diterbitkan atau ramainya tautan yang dibagikan di media sosial. Literasi, kata dia, membutuhkan kesediaan membaca secara mendalam, keberanian berpikir mandiri, dan kematangan menerima perbedaan.
“Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang seluruh warganya selalu sepakat, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan melalui pengetahuan, argumentasi, dan sikap saling menghormati,” tulis Teuku Jamil.
Dalam tulisannya, ia menawarkan enam prinsip etika dalam menanggapi tulisan orang lain di ruang digital.
Pertama, memberikan tanggapan yang jujur dan proporsional. Satu atau dua kalimat yang menunjukkan pemahaman jauh lebih bermakna daripada pujian panjang tanpa membaca.
Kedua, tidak takut berbeda pendapat. Jika tidak setuju, jelaskan bagian yang dipersoalkan beserta alasan dan data alternatif secara santun.
Ketiga, menghargai tulisan dengan tidak hanya membagikan, tetapi membantu mengembangkan percakapan yang ditimbulkannya.
Keempat, menjadikan ruang digital sebagai ruang belajar bersama. Penulis tidak selalu benar, pembaca tidak selalu salah, dan perbedaan tidak harus berakhir permusuhan.
Kelima, membiasakan menawarkan pertanyaan yang memperdalam persoalan, seperti menanyakan bukti, perspektif lain, hingga konsekuensi dari sebuah gagasan.
“Ketika seseorang menulis, ia sedang menawarkan sebagian hasil pemikirannya kepada masyarakat. Tawaran itu layak dibaca, diperiksa, dan bila perlu dikritik. Bukan karena setiap tulisan pasti benar, melainkan karena setiap gagasan yang relevan berpotensi memperluas cara kita memahami realitas,” tegasnya.
Teuku Jamil menegaskan, kepedulian terhadap tulisan orang lain bukan sekadar soal menghormati penulis, tetapi bentuk kepedulian terhadap perkembangan pengetahuan dan kualitas kehidupan publik.
Ia pun mengapresiasi tulisan Tabrani Yunis yang mengingatkan bahwa literasi memerlukan kedalaman, bukan sekadar kecepatan membagikan informasi.
“Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan berhenti belajar. Kita boleh mengkritik, tetapi jangan kehilangan tanggung jawab untuk memahami. Jangan sampai kita begitu sibuk membangun citra sebagai orang yang cerdas di ruang digital, tetapi lupa melatih diri untuk benar-benar berpikir,” ujarnya.
Ia menutup tulisannya dengan ajakan untuk mengubah budaya asal berkomentar menjadi budaya berpikir, dari sekadar berbagi tautan menjadi berbagi pemahaman.
“Sebab, jempol bisa menunjukkan bahwa kita hadir di media sosial, tetapi hanya pikiran yang terlatih dan argumentasi yang bertanggung jawablah yang menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan intelektual,” pungkasnya. (Redaksi)
Catatan Redaksi: Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi Medialiterasi.id tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.







