MEDIALITERASI.ID | IDI RAYEUK – Di balik suburnya tanah Peureulak dan Idi Rayeuk yang dulu dikenal sebagai penghasil lada terbaik di dunia, lahir sosok pejuang yang perjalanan hidupnya menjembatani dua zaman Aceh: masa konflik dan masa damai. Ia adalah Teungku Ridwan Abubakar, yang akrab disapa Nek Tu, Wakil Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Peureulak.
Lahir di Gampong Seuneubok Rambong, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, pada 4 Desember 1964, Nek Tu tumbuh di lingkungan religius yang kental akan nilai adat. Pendidikan formalnya ditempuh di SD Negeri Idi, MTsN Negeri Idi, dan SMA Negeri Tanoh Anou yang diselesaikannya pada tahun 1983-1984.
Kepekaannya terhadap kondisi rakyat kala itu mendorongnya mengambil jalan perjuangan. Pada tahun 1987, ia resmi bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Ditempa di Akademi Militer Tripoli, Libya
Tak lama setelah bergabung, Ridwan Abubakar mendapat kepercayaan untuk mengikuti pendidikan militer di luar negeri. Pada tahun 1987-1988, ia dikirim ke Akademi Militer di Tripoli, Libya, selama satu tahun untuk mendalami ilmu strategi dan kemiliteran.
Sekembalinya ke Aceh, ia diamanahkan jabatan strategis sebagai Wakil Panglima GAM Wilayah Peureulak. Selama 18 tahun, dari 1987 hingga 2005, Nek Tu berada di garis depan perjuangan, menjelajahi hutan, bukit, dan lembah Peureulak, mengatur strategi pertahanan, serta menjaga disiplin dan soliditas pasukan.
Bagi masyarakat Peureulak, Nek Tu dikenal bukan hanya sebagai pemimpin, melainkan sebagai pelindung dan teladan yang selalu mendahulukan kepentingan rakyat.
Transformasi: Dari Laras Senjata ke Ujung Pena
Momentum Perjanjian Damai Helsinki 2005 menjadi titik balik pengabdiannya. Nek Tu memilih transformasi perjuangan dari rimba hutan ke gedung parlemen.
Untuk menunjang pengabdian di masa damai, ia kembali menempuh pendidikan dan menyelesaikan gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) di Universitas Muhammadiyah Aceh pada periode 2006-2008.
Karir politiknya berlanjut:
– 2007-2016: Wakil Ketua DPW Partai Aceh Kabupaten Aceh Timur
– 2009-2014: Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)
– 2014-2016: Anggota DPRA
Ia juga pernah mencalonkan diri sebagai Bupati Aceh Timur Namun nasib belum berpihak pada kawan seperjuangan Perkasa Alam Teungku Ishak Daud ini.
Menurut kerabatnya, perjalanan Nek Tu membuktikan bahwa perdamaian bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan perubahan cara mencintai tanah leluhur, dari mempertahankan dengan senjata menjadi membangun dengan karya.
Hingga kini, sosok Teungku Ridwan Abubakar Nek Tu tetap menjadi referensi sejarah hidup tentang kesetiaan pada prinsip, kerendahan hati untuk kembali belajar dari nol setelah turun gunung, dan konsistensi mengabdi untuk rakyat Aceh.(*)
Penulis: Saiful Afwadi
Editor: Redaksi







