Jelang panen buah zaitun Oktober mendatang, buldoser militer Israel secara tiba-tiba meratakan sekitar 31 ribu meter persegi lahan milik petani Palestina (REUTERS/Ali Sawafta)
MEDIALITERASI.ID | RAMALLAH — Sebanyak 31 dunam atau sekitar 31.000 meter persegi lahan zaitun milik petani Palestina di kota Beit Rima, barat laut Ramallah, Tepi Barat, diratakan oleh buldoser militer Israel pekan lalu, hanya beberapa hari menjelang musim panen tahunan yang dimulai awal Oktober.
Akibat penghancuran tersebut, lebih dari 400 pohon zaitun hancur dan mengubah musim yang biasanya penuh sukacita menjadi musim duka bagi petani setempat.
Petani: Mereka Tinggalkan Kami Tanpa Apa Pun
Abd Alfattah Tamimi, pemilik kebun zaitun di desa tersebut, menyaksikan langsung buldoser militer menghancurkan bagian atas pohonnya sebelum mencabut akarnya sepenuhnya dari tanah.
“Semua pohon zaitun kami, termasuk yang baru ditanam, tercabut. Begitu juga pohon zaitun tetangga kami, mereka juga mencabut semuanya,” kata Tamimi, dikutip dari Arab News, Minggu (28/9/2026).
Ia menambahkan, dirinya dan tetangganya memiliki hampir 9 hektare lahan yang dipenuhi pohon zaitun. “Mereka meninggalkan kami tanpa apa pun,” ujarnya lirih.
Penderitaan serupa dialami Nather Tamimi, pemilik lahan di desa Deir Nizam dekat Ramallah. Ia menyebut lahan tersebut biasanya menghasilkan 120 drum minyak zaitun untuk keluarganya.
“Dari lahan ini, saya dan saudara-saudara saya menghasilkan 120 drum minyak zaitun. Tetangga kami juga menghasilkan jumlah yang sama,” kata Nather. “Mereka mencabut pohon di mana-mana, bahkan di antara rumah-rumah.”
Alasan Keamanan vs Simbol Kehidupan
Militer Israel berdalih pembersihan lahan dari pohon zaitun dilakukan untuk mencegah ancaman keamanan atau penyergapan terhadap pasukan, alasan yang disebut konsisten digunakan selama ini.
Namun kelompok hak asasi manusia Palestina menolak dalih tersebut. Mereka menilai penghancuran itu secara nyata merampas pendapatan petani dari penjualan zaitun dan minyak zaitun, sekaligus mencabut pohon yang dianggap sebagai simbol hubungan historis mereka dengan tanah.
Padahal, sektor zaitun merupakan tulang punggung pertanian Palestina. Data Kementerian Pertanian Otoritas Palestina mencatat, sektor ini menyumbang sekitar 8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyediakan lebih dari 60.000 lapangan kerja.
Aktivis dan petani Palestina memperingatkan, hasil panen tahun ini diprediksi akan sangat fluktuatif akibat lonjakan serangan pemukim dan operasi militer yang menargetkan sumber daya lokal di seluruh Tepi Barat.
Tidak Hanya Militer, Pemukim Juga Menyerang
Selain operasi militer, serangan dari pemukim ilegal Israel juga dilaporkan terjadi.
Sumber lokal menyebutkan, pada Kamis sore, sekelompok pemukim menyerang kendaraan milik warga bernama Bilal Masalmeh di dekat kota Turmus Ayya, timur laut Ramallah. Mereka menyemprot Masalmeh dan beberapa pemuda yang mencoba membantu dengan semprotan merica.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terbaru dari otoritas Israel terkait kompensasi atau tindak lanjut atas penghancuran lahan tersebut.(*)







