MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Tim peneliti dari Tsunami Engineering Laboratory, Tohoku University, Jepang, menggelar pengujian dan demonstrasi teknologi sistem peringatan dini kebencanaan berbasis satelit Quasi-Zenith Satellite System (QZSS) “Michibiki” di UPTD Museum Tsunami Aceh, Selasa (6/10/2026).
Uji coba ini merupakan bagian dari verifikasi praktis penerapan teknologi Penanggulangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction/DRR) di wilayah Asia-Pasifik, khususnya kawasan berisiko tinggi tsunami.
Kota Banda Aceh dipilih sebagai lokasi strategis karena rekam sejarah tsunami 2004, peran Museum Tsunami Aceh serta Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai pusat edukasi kebencanaan dunia, serta posisinya yang berada dalam cakupan Western Nearby Area penerima pancaran sinyal DCX satelit Michibiki milik JAXA.
Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M. Syahputra Azwar, menyambut positif kolaborasi riset internasional ini untuk memperkuat kesiapsiagaan manajemen bencana di Aceh berbasis teknologi satelit mandiri.
“Museum Tsunami Aceh tidak hanya hadir sebagai sarana edukasi dan memori sejarah, tetapi juga terus berkomitmen menjadi ruang kolaborasi terbuka bagi pengembangan inovasi teknologi mitigasi bencana,” ujar Syahputra.
Sementara itu, perwakilan tim peneliti Tohoku University, Shunnosuke Narita, menjelaskan bahwa integrasi teknologi satelit ini difokuskan untuk mengatasi potensi kelumpuhan jaringan komunikasi darat saat situasi darurat bencana.
“Tujuan utama penelitian ini adalah memastikan bahwa perangkat kebencanaan otomatis berbasis sinyal ‘Michibiki’ dapat bekerja secara mandiri dan siap diterapkan secara praktis di wilayah-wilayah rawan tsunami di kawasan Asia-Pasifik, khususnya Banda Aceh,” terang Narita.
Hasil pengujian dan diskusi evaluatif antara peneliti Jepang, pengelola Museum Tsunami Aceh, dan pakar kebencanaan lokal ini akan ditindaklanjuti untuk memetakan titik integrasi perangkat, baik pada sirene tsunami publik, sistem rambu evakuasi otomatis, maupun kanal informasi kebencanaan daerah di Aceh.[af]







