MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH — Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh dikabarkan diwarnai ketegangan setelah aparat TNI meminta panitia untuk menurunkan bendera Bintang Bulan yang terpasang di lokasi kegiatan.
Peristiwa tersebut beredar di media sosial dan menjadi perbincangan publik, khususnya di Aceh.
Berdasarkan informasi yang beredar, insiden itu terjadi saat acara Maulid sedang berlangsung. Sejumlah aparat TNI yang hadir di lokasi disebut meminta agar bendera Bintang Bulan yang berkibar di sekitar panggung atau area acara diturunkan. Permintaan tersebut kemudian memicu reaksi dari warga dan panitia yang ada di lokasi, hingga suasana sempat menegang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang detail dari pihak TNI, panitia pelaksana Maulid, maupun pemerintah setempat mengenai kronologi lengkap, lokasi pasti kejadian, dan waktu peristiwa. Video dan narasi yang beredar pun masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Aturan Soal Bendera Bintang Bulan di Aceh
Untuk diketahui, keberadaan Bendera Bintang Bulan di Aceh memiliki landasan hukum khusus. Bendera tersebut diatur sebagai Bendera Aceh berdasarkan Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh, yang merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan MoU Helsinki 2005.
Namun, dalam implementasinya, penggunaan bendera tersebut diatur secara ketat dan tidak boleh disamakan dengan Bendera Merah Putih sebagai bendera nasional. Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri sebelumnya memberikan catatan terkait kesesuaian Qanun tersebut dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Dalam berbagai kegiatan resmi di Aceh, aparat keamanan kerap melakukan penertiban terkait pemasangan atribut dan bendera untuk menjaga ketertiban serta mencegah kesalahpahaman di masyarakat.
Menunggu Klarifikasi Resmi
Pihak Kodam Iskandar Muda maupun Korem setempat diharapkan dapat memberikan klarifikasi resmi terkait peristiwa ini agar tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah masyarakat. Hal yang sama juga diharapkan dari panitia Maulid dan pemerintah gampong/kecamatan tempat kejadian.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan tradisi yang sangat dihormati di Aceh dan rutin digelar di berbagai daerah sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah.
Aparat keamanan dan masyarakat diharapkan dapat mengedepankan dialog yang humanis dan persuasif, sehingga kegiatan keagamaan tetap berlangsung khidmat, aman, dan kondusif.
http://Medialiterasi.id masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendapatkan konfirmasi dan akan memperbarui informasi ini begitu keterangan resmi diperoleh. (*)
Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan informasi awal yang beredar di media sosial dengan tagar #aceh #tni. Kami masih melakukan upaya verifikasi dan membuka ruang hak jawab seluas-luasnya bagi semua pihak terkait sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999.







